f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Bhasha Mukherjee dan Kecantikannya

Oleh: Subhan Setowara*

Di balik segala kepedihan yang dialami penduduk bumi selama pandemi Covid-19, selalu ada cerita-cerita sederhana dan inspiratif yang membuat hati kita tersentuh. Pandemi boleh menggerogoti, tapi kemanusiaan takkan pernah mati.

Salah satu cerita yang cukup menarik datang dari Britania Raya. Yaitu ketika Bhasha Mukherjee, seorang perempuan Inggris kelahiran India, rela melepaskan gelar Miss England 2019, untuk kembali ke profesi awalnya sebagai seorang dokter.

Ya, Mukherjee semula adalah dokter spesialis pernapasan. Namun sejak bergelut di ajang kontes kecantikan, ia terpaksa melepaskan profesinya itu. Terlebih setelah meraih mahkota Miss England dan menjadi wakil Inggris pada ajang Miss World 2019.

Pada saat pandemi Covid-19 di Inggris meningkat drastis, Mukherjee lantas diliputi perasaan bersalah. Ia meminta untuk mahkotanya ‘dilepas’ agar bisa kembali ke profesi lamanya, dan membantu merawat para korban pandemi Covid-19. “I wanted to go straight to work,” kata Mukherjee (The Economic Times, 2020).

Bagi Mukherjee, memiliki gelar Miss England adalah suatu kebangaan luar biasa, namun merawat pasien Covid-19 adalah panggilan kemanusiaan yang jauh lebih bermakna.

Cantik untuk Popularitas

Mukherjee adalah seorang perempuan yang cantik, dan begitulah dunia melihatnya ketika ia tampil di ajang Miss England dan Miss World. Namun setelah ia melepas mahkotanya, dunia tak hanya melihatnya sebagai seorang wanita cantik. Ada sesuatu yang lebih dari sekedar cantik dalam dirinya. Ia adalah wanita yang cerdas dan berhati mulia.

Popularitas memang menjadi godaan besar bagi banyak perempuan, namun jika panggilan hati sudah menghampiri, popularitas itu menjadi terasa semu. Sekalipun harus diakui, di tengah era digitalisasi industri seperti sekarang ini, kontes kecantikan menjadi ajang yang memiliki nilai jual yang sangat tinggi.

Perempuan dan kecantikan telah menjadi industri yang digunakan oleh pemilik modal untuk meningkatkan daya saing.

Baca Juga  Tips Emak Tetap Happy Selama Pandemi

Selain Miss World yang diikuti Mukherjee, ada juga tiga ajang lain yang memiliki nilai popularitas internasional yang cukup setara, yaitu Miss Universe, Miss International, dan Miss Earth. Belum lagi kontes-kontes kecantikan minor yang jumlahnya puluhan, semisal Miss Globe International, World Miss University, Miss Tourism Queen World, dan masih banyak lagi.

Fenomena kontes kecantikan tidaklah mengherankan. Menurut pakar marketing Hermawan Kartajaya, perempuan adalah salah satu dari tiga pilar yang menentukan kesuksesan dalam pemasaran. Hermawan menyebut tiga pilar itu sebagai YWN (youth, woman, netizen). Youth menandai kalangan muda, woman yaitu kaum perempuan, dan netizen adalah pengguna internet, terutama social media (socmed).

Lalu, Kecantikan itu Subjek atau Objek?

Dari perspektif itu, bisa dibayangkan bagaimana posisi perempuan yang sadar media, mereka tentu akan memainkan peran sangat vital dalam dunia industri. Persoalannya, apakah perempuan dengan aura kecantikan yang dimilikinya itu akan menjadi subjek atau objek?

Dalam kajian budaya pop, perempuan digambarkan sebagai sosok yang secara simbolik memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Faktanya, citra simbolik itu banyak direpresentasikan dalam bentuk tubuh seksi yang dibalut dengan pakaian minim. Dari sini bisa dikatakan bahwa kecantikan dan sensualitas tubuh perempuan dianggap memiliki nilai ekonomis ketika ditampilkan di media massa.

Hal inilah yang sering disebut sebagai libidonomics atau ekonomi libido. Secara sederhana, libido sering diartikan sebagai gairah seksual. Sementara menurut perintis psikologi analitik Carl Gustav Jung, libido berarti hasrat psikis yang dimiliki seseorang yang berpengaruh bagi perkembangan pribadinya.

Dari perspektif libidonomics, hasrat dan sensualitas adalah alat yang sangat ampuh untuk meningkatkan keuntungan ekonomis lantaran memiliki kekuatan untuk mempengaruhi libido. Inilah salah satu alasan mengapa kontes kecantikan seringkali dipandang negatif karena hanya dianggap sebagai ajang industrialisasi sensualitas tubuh wanita.

Baca Juga  Kecia Ali; dan Seksualitas dalam Islam  

Jika hanya melihat dari sisi itu, kita tentu akan memandang kecantikan wanita sebagai objek komersial. Dengan demikian, arti kecantikan mengalami pejorasi makna; yang tadinya positif menjadi negatif, yang awalnya subjek sadar menjadi objek tak sadar.

Kesadaran adalah salah satu kata kunci untuk melihat apakah seorang wanita yang tampil di media massa maupun ruang publik bisa disebut sebagai subjek atau objek.

Ia disebut sebagai subjek bilamana melakukannya karena kesadaran penuh dan keinginan dari hatinya yang terdalam.

Ia disebut objek jika hal itu dilakukan lantaran kebutuhan dirinya untuk mendapatkan pengakuan sosial atau kepentingan material.

Aspek kesadaran ini secara tersirat pernah diungkap oleh Britney Spears dalam salah satu lagu pada album keduanya yang berjudul Lucky. Di lagu itu diceritakan bahwa Lucky merupakan sosok wanita beruntung karena sukses menjadi bintang Hollywood.

Namun, di balik kesuksesan itu, ia sedih karena merasa bahwa fansnya hanya memandang dirinya sebagai identitas selebriti yang sempurna, bukan sebagai pribadi normal yang sering pula dilanda kesepian dan kegalauan.

Ia menyebut bahwa Lucky penuh dengan senyum palsu dan topeng kecantikan, lantaran segala hal yang ia lakukan bukanlah karena keinginan dirinya yang terdalam melainkan tuntutan peran sebagai idola publik untuk tampil perfeksionis.

Hal tersebut, terasa jelas pada bagian refrain lagunya: “She’s so lucky, she’s a star, but she cry, cry, cries in her lonely heart. Thinking if there’s nothing missing in my life, then why do these tears come at night?”

Dunia idola dan selebritas memang telah menempatkan kecantikan perempuan dalam dualitas. Di satu sisi cantik bermakna aura positif yang bisa mempengaruhi orang-orang yang melihatnya, di sisi lain cantik merupakan media eksploitasi yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan kapitalisme.

Baca Juga  Nyi Hajar Dewantara : Mitra Sejajar dan Adab Perempuan

Cantik itu Inner Beauty

Aura kecantikan atau yang biasa disebut dengan inner beauty, dalam filosofi Yin Yang, adalah kekuatan feminin yang ditandai dengan kelembutan, ketenangan, kesabaran, kepasrahan, dan ketulusan.

Inner beauty ini dipandang sebagai kekuatan yang bisa meneduhkan dunia yang kian lama kian identik dengan kekerasan, egoisme, persaingan, perebutan kekuasaan, serta kebiasaan saling menjatuhkan satu sama lainnya.

Inner beauty tersebut menjadi utuh ketika dibarengi dengan outer beauty. Sayangnya, dalam konteks Indonesia, lokalitas dan eksotisme kecantikan perempuan Indonesia telah tercerabut oleh budaya asing.

Misalnya, saat ini cantik lebih identik dengan kulit seputih bengkoang ala Korean style ketimbang kulit sawo matang yang khas Indonesia. Hal itu tak pelak membuat produk-produk pemutih laris di pasaran. Iklan-iklan di media cetak maupun elektronik lantas menampilkan para perempuan yang kulitnya terlihat lebih putih dari aslinya.

Di sinilah industrialisasi kecantikan bermain, dan di sini pula pertanyaan tentang apakah kecantikan perempuan adalah subjek atau objek yang layak dikemukakan.

Jika kecantikan dirinya adalah subjek, semestinya seorang perempuan tahu bahwa ia cantik bukan untuk pengakuan sosial atau kepentingan material, melainkan kesadaran diri untuk tampil sebagai sosok yang aura kecantikannya dapat meneduhkan suasana, baik dalam konteks pribadi maupun sosial.

Bhasha Mukherjee adalah contoh yang baik akan penemuan diri. Ia tentu tak ingin menjadi tokoh rekaan Lucky ala Britney Spears yang tampak bahagia dan perfeksionis di mata publik namun penuh kerapuhan dan keterasingan dalam dirinya. Panggilan kemanusiaan telah mengisi ruang kosong dalam hidupnya.

*Penulis adalah Mahasiswa MA International Relations, University of Nottingham Malaysia

Bagikan
Post a Comment