f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
orang tua anak

Refleksi Akhir Tahun para Orang Tua untuk Tumbuh Bersama Anak

Seharian ini saya merasa bersalah kepada si bungsu, karena secara sepihak memutuskan untuk meliburkan les gitarnya, meskipun sebenarnya bukan tanpa alasan saya mengambil keputusan tersebut.  

Keputusan meliburkan les gitarnya saya ambil karena akhir-akhir ini fokus Feren, anak bungsu saya terpecah. Ia lebih sering bergaul dengan youtube dan game. Boro-boro pegang gitar, bahkan komik dan novel yang dulu hampir setiap hari ia buka, sekarang hanya jadi pajangan di rak. Ditambah lagi dengan penurunan peringkatnya di kelas membuat saya merasa kejengkelan ini semakin logis.

Sebenarnya, saya menyadari bahwa kami juga berperan dalam situasi teralihnya ketertarikan Feren dari buku atau gitar ke hiburan online. Kami, orang tuanya, terlalu sibuk dengan perkara kami sendiri. Memang alasan yang sangat klise, tapi sepertinya perkara ‘luar’ seperti tak pernah kehabisan ide untuk menyita waktu para orang dewasa. Padahal sebenarnya, sebagai orang yang berpikir, harusnya kita bisa menentukan skala prioritas.

Kembali ke kasus meliburkan les gitar sepihak, pada akhirnya kami memutuskan untuk berdiskusi dengan Feren. Menanyakan apa yang dia inginkan? Apa rencananya? Kami juga mengajaknya flash back untuk memberikan gambaran dan perbedaan ketika dia belum bisa ini itu sampai akhirnya memiliki banyak kompetensi dan keberhasilan. Kami mengajaknya berdiskusi tentang bergam kemungkinan distraksi di sekitarnya, serta apa saja yang membuatnya nyaman dan tidak nyaman dalam melakukan kegiatan-kegiatan lain di luar jadwal sekolah.

Ya begitu, ada masanya kita memang perlu duduk bersama dan berbicara dengan anak-anak. Tak selamanya mereka menjadi anak yang hanya perlu menjalankan SOP keluarga. Suatu saat mereka harus memilih dan menentukan sendiri langkahnya. Mereka harus belajar membuat skala prioritas sesuai dengan kondisi, kemampuan, keinginan dan rasa nyaman mereka sendiri.

Baca Juga  Memilih Sekolah Anak: Melatih Kejujuran di Era Serba Sulit

Sepertinya saat ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan evalusi. Awal tahun baru sekaligus awal semester baru adalah waktu yang tepat bagi saya, dan mungkin para orang tua lainnya, untuk berhenti sejenak dan melakukan refleksi parenting. Tidak hanya mengevaluasi capaian akademik dan kompetensi anak, tetapi juga menilai bagaimana bonding dan hubungan emosional antara orang tua dan anak.

Banyak orang tua menutup tahun dengan melihat rapor dan membandingkannya dengan target awal. Namun, parenting bukan sekadar soal angka dan peringkat. Sejatinya, anak adalah individu yang sedang bertumbuh, baik fisik, karakter, emosi dan kompetensinya. Pertumbuhan ini bukanlah proyek yang harus selesai berdasarkan tenggat waktu, tapi proses yang berlangsung secara berkesinambungan.

Orang tua tak boleh melupakan bahwa anak tidak hanya belajar pelajaran sekolah, tetapi juga belajar tentang kehidupan, tentang gagal dan menata diri untuk menerima dan berani mencoba lagi, juga tentang memahami diri sendiri dan orang lain. 

Seharusnya kita mempertanyakan kepada anak; Bagaimana perasaannya? Apakah dia sudah merasa didengar? Apakah rumah telah menjadi tempat yang aman untuknya bercerita? Dan apakah orang tuanya lebih sering menuntut, atau menemani? Penting juga kita menutupnya dengan kata, ‘Maaf jika kami terlalu cepat menegur saat kamu salah, tetapi lupa memeluk saat kamu lelah’.

Tantangan Anak di Era Digital yang Perlu Dipahami Orang Tua

Anak-anak masa kini hidup di era digital memiliki tantangan yang berbeda dengan masa kecil kita. Dulu ketika melakukan kesalahan, paling-paling kita akan diledek oleh teman atau orang dekat di sekitar saja, malu juga hanya sesaat. Sekarang, kesalahan sekecil kutu aja, bisa jadi perbincangan rakyat se-Indonesia raya. Informasi datang dan tersebar dengan sangat cepat, ekspektasi umum menempati posisi semakin tinggi, dan perbandingan terjadi sejak usia dini.

Baca Juga  Pentingnya Pendidikan Seks Sejak Dini

Bukan berarti anak sekarang lebih lemah, melainkan mereka menghadapi tekanan yang lebih kompleks. Oleh karena itu, peran orang tua bukan hanya sebagai pengawas, tetapi sebagai pendamping yang memahami kondisi mental dan emosional anak. Anak sekarang membutuhkan rasa aman secara emosional, dukungan bukan perbandingan, pendampingan bukan tekanan berlebihan, dan arahan bukan perintah yang satu arah.

Saya ingat sekali pernah ada salah satu anak les kelas 10 yang mengatakan bahwa dia lebih suka bergaul dengan anak laki-laki daripada anak perempua. Ketika saya bertanya mengapa begitu? Jawabnya, berteman dengan anak perempuan berarti bersiap untuk selalu dihakimi. Daripada merasa tidak ‘seirama’, takut berbeda dan dikucilkan, dia memilih jalur aman yaitu bergaul dengan anak laki-laki.

Setiap kali dia bercerita kepada orang tuanya, komentar yang ia terima malah membuatnya semakin menutup diri dan memilih untuk ‘keep’ permasalahannya sendiri. Apa kata orang tuanya? Halah, itu kamu aja yang terlalu perasa.

Orang Tua Tidak Harus Sempurna, Tetapi Harus Mau Belajar

Tidak ada orang tua yang sempurna. Kesalahan adalah bagian dari proses mendidik anak. Yang terpenting adalah apakah kita mau mengakui kesalahan, meminta maaf, mendengarkan dan merasakan keberadaan anak sebagai person yang juga tak sempurna dan sedang bertumbuh.

Ketika orang tua berani menuntut bahwa anak harus belajar, anak harus memahami bahwa tumbuh adalah proses, maka orang tua juga harus meletakkan porsi yang sama untuk dirinya. Orang tua harus juga mau belajar, bertumbuh dan berproses.

Memulai dari hal sederhana namun konsisten justru lebih berdampak. Mengobrol santai tanpa interogasi, berdiskusi tanpa menggurui, bahkan mungkin jadi seru jika kita mau terlibat dalam euphoria era digital, dengan bermain game bersama, mungkin. Ketika anak merasa diterima apa adanya, tidak lagi merasa menjadi beban. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat, percaya diri, dan siap menghadapi segala kondisi.

Baca Juga  Berikut Alasan TPQ Diperlukan untuk Anak

Melalui tulisan ini saya mengingatkan diri sendiri dan para orang tua untuk melihat kembali peran kita melalui sebuah sebuah refleksi penuh makna kebutuhan anak tentang pola asuh, kehadiran, dan dukungan emosional, sekarang dan di waktu mendatang.

Bagikan
Comments
  • Nania

    Itu yang saya hadapi hari ini saya bener2 merasa bersalah …….semoga saya bisa memperbaiki hubungan emosi dg si bungsu saya

    Januari 1, 2026
Post a Comment