f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
remaja

Remaja dan Penyakit Kelamin; Antara Asa dan Fakta

Remaja wanita berparas manis berusia 18 tahun itu duduk di hadapan saya dengan sedikit salah tingkah. Ini adalah pasien ke-3 hari ini yang memiliki keluhan sejenis. Remaja pertama, pria usia 17 tahun, datang dengan keluhan adanya kencing nanah. Remaja ke-2, perempuan berusia 20 tahun dengan keluhan keputihan yang berkepanjangan pasca berhubungan seksual dengan pacarnya.

Saya menarik napas panjang. Sesuai prosedur, saya ajukan kepada pasien ini beberapa pertanyaan. Misalnya, sejak kapan keluhan tersebut timbul, apakah ada keluhan lainnya seperti nyeri saat berkemih, demam, atau timbulnya kelainan kulit di area genital misalkan sariawan atau kutil. Kutanyakan pula riwayat seputar hubungan seksualnya. Kapan terakhir berhubungan seksual, dengan siapa, apakah pasangan memiliki keluhan serupa, dan lain-lain. Rasa jengah tak jarang saya rasakan tiap kali harus mencari data-data ini. Namun apa boleh buat, hal ini amat penting untuk keperluan penegakan diagnosis dan tentunya menentukan terapi yang tepat. Mau tak mau prosedur ini harus dilakukan.

Semenjak berpraktik sebagai seorang dokter spesialis kulit dan kelamin hampir 10 tahun lamanya, kasus penyakit infeksi menular seksual pada remaja cukup sering saya temukan. Berbeda dengan kondisi ketika aku menjalani proses pendidikan dokter umum, kasus ini lebih banyak terjadi pada usia dewasa muda di atas 20 tahun. Saat ini, kasus infeksi menular seksual bahkan pernah saya temukan pada pasien berusia 13 tahun. Seorang remaja berusia 17 tahun yang berobat bersama ayahnya dengan keluhan kencing nanah, belakangan bahkan teridentifikasi positif mengidap infeksi HIV. Betapa zaman berubah begitu cepat!

***

Umumnya para remaja ini datang berobat sendiri, tanpa orang tua, teman maupun pasangan. Buat saya ini memudahkan karena saya bisa lebih leluasa bicara. Remaja pada dasarnya masih memiliki sifat lugu dan polos. Mungkin itu sebabnya sebagian besar dari mereka dapat dengan  jujur menceritakan keluhannya serta menjawab berbagai pertanyaan yang saya ajukan. Bahwa mereka berhubungan seksual secara bebas baik itu dengan teman, pacar, atau beberapa bahkan dengan pekerja seks komersil. Tentu saja, tanpa menggunakan “pengaman”. Hanya satu dua yang berusaha menyembunyikan riwayat tersebut dengan kisah-kisah yang mereka pikir bisa membuat saya “tertipu”. Misalnya kisah bahwa kencing nanah itu terjadi akibat menggunakan toilet umum dan terlalu lama tidak berganti celana dalam karena bepergian, hingga kisah keluhan yang timbul akibat bersepeda selama berjam-jam.

Baca Juga  Film Mrs. Chatterjee vs Norway Mengingatkan Tugas Suami Bukan Hanya Bekerja!

Menatap wajah-wajah mereka tak jarang saya terkesima bahkan kerap tak tega bertanya lebih jauh. Bukan apa-apa. Penampilan yang polos, innocent, membuat saya sering berpikir, “Masa iya sih wajah sepolos ini, berani berbuat macam-macam?” Lalu saya teringat semasa pendidikan, dosen selalu mengingatkan untuk tetap mengajukan pertanyaan standar tanpa ada yang terlewat, seperti apa pun penampilan mereka, dan seberapa pun tak sampai hati buat bertanya. Walhasil, standar prosedur operasional harus terus jalan.

Dalam setiap percakapan dengan mereka untuk mencari berbagai faktor risiko infeksi dan penularan, juga kemungkinan adanya penyakit selain yang saya temukan saat pemeriksaan, banyak hal yang ikut terungkap. Pasien-pasien ini memiliki latar belakang yang beragam, baik itu tingkat pendidikan, pekerjaan, hingga status sosial ekonomi. Status ekonomi yang kurang mungkin bisa memicu seorang remaja kemudian terjerumus ke dalam pergaulan bebas untuk dapat meningkatkan statusnya.

***

Tingkat pendidikan yang kurang mungkin menyebabkan seseorang kuran memiliki pengetahuan mengenai risiko-risiko yang dapat terjadi dalam perilaku seksual bebas, apalagi berganti-ganti pasangan. Namun, faktanya remaja yang memiliki tingkat pengetahuan dan status sosial ekonomi lebih tinggi pun dapat terjebak pula. Jadi apa sebetulnya yang menjadi pemicu?

Akses ke dunia maya yang begitu mudah dalam setiap sentuhan jari tangan membuat arus informasi menjadi tak terbendung. Kemudahan menggunakan perangkat gawai mutakhir yang umumnya terfasilitasi oleh orang tua dengan alasan antara lain “tuntutan” baik itu dari sekolah maupun pergaulan, merangsang rasa ingin tahu mereka pun berkembang.

Sebagian remaja wanita mengaku melakukan hubungan seks bebas dengan pacar karena rasa takut akan ditinggalkan bila tidak memenuhi keinginan sang pacar. Remaja pria mengaku tergoda karena olok-olok teman sebaya apabila belum pernah melakukannya, dianggap kurang jantan dan kurang berani. Selain itu, terdorong pula oleh rasa ingin tahu akibat berbagai tontonan tak bersensor yang kerap masuk ke gawai mereka.

Baca Juga  Menggunakan Kacamata yang Tepat dalam Mendampingi Perkembangan Anak
***

Faktor lain yang bisa jadi menjadi pemicu yaitu adanya kesempatan. Beberapa remaja mengaku melakukan hubungan tersebut di tempat kost mereka yang tak terawasi. Namun jangan salah, ada pula yang mencuri kesempatan melakukannya di rumah saat orang tua sedang berpergian. Bahkan saya pernah menemukan satu kasus yang terjadi akibat pergaulan bebas yang terjadi di asrama sekolah, yang notabene mestinya lebih terawasi.

Di sisi lain, pengetahuan mereka akan risiko hubungan bebas pun terbilang amat minim. Hanya sebagian kecil yang tahu bahwa dengan perilaku tersebut mereka dapat terkena penyakit menular seksual mulai yang langsung terlihat gejalanya seperti kencing nanah, hingga yang baru akan muncul di kemudian hari seperti timbulnya kutil kelamin bahkan infeksi HIV. Kebanyakan dari mereka lebih khawatir akan terjadinya kehamilan. Meskipun itu tak menghalangi mereka untuk tidak menggunakan pengaman.

Cukup rumit bukan? Sebagai orang tua yang juga memiliki putra putri beranjak remaja, setiap pasien membuat saya selalu teringat kepada mereka. Di luar sana pun, orang tua mereka tentu seperti saya. Menaruh harapan besar pada putra putrinya, berharap aman dan selamat hingga tiba waktunya. Jadi apa yang harus para orang tua lakukan?

***

Membendung teknologi bukan solusi. Melarang mereka menggunakan gawai atau memutus akses internet misalnya, bukanlah jalan keluar. Faktanya mereka memang memerlukannya untuk kebutuhan pendidikan misalnya, atau bahkan diperlukan oleh orang tua untuk memantau keberadaan putra-putrinya. Terus menerus 24 jam mengawasi pun rasanya sulit dilakukan, apalagi jika anak sudah waktunya untuk keluar dari rumah karena harus kuliah di luar kota misalnya.

Mendampingi putra dan putri sejak awal menjadi salah satu hal yang penting untuk dilakukan. Tak mudah mengambil kepercayaan mereka ketika sebagai orang tua, kita tiba-tiba bersikap cerewet dan sok protektif saat mereka remaja sementara sejak awal kita tidak punya waktu luang untuk mereka. Kedekatan harus terbangun sejak awal, bukan dipaksakan mendadak. Putra putri yang selalu mendapat pendampingan akan merasa nyaman bicara terbuka dengan orang tua dalam kondisi apa pun.

Baca Juga  Cyberbullying : Pengaruhnya Terhadap Perilaku Remaja

Hal penting lainnya yaitu, berikan pendidikan seks dan reproduksi ketika putra putri mendekati masa pubertas. Apabila tidak yakin, orang tua dapat belajar  atau berkonsultasi kepada tenaga ahli terlebih dahulu sebelum menyampaikannya. Jangan menganggap pendidikan ini sesuatu yang bersifat tabu. Lebih baik remaja menerima pengetahuan dari sumber terpercaya, daripada mereka mencari sendiri kemudian tersesat. Terakhir, pendidikan agama tentu menjadi pegangan yang utama bagi para remaja ini mengarungi masa pubertasnya dengan aman. Iman yang teguh akan menguatkan untuk tidak terjerumus dalam pergaulan yang salah.

Bagikan
Post a Comment