f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Gaza kematian

Menolak Mati Rasa : Catatan untuk Seorang Teman di Gaza

“Kematian satu orang adalah tragedi. Kematian jutaan orang adalah statistik.”

Ungkapan Joseph Stalin di atas hampir selalu viral setiap kali terjadi kematian besar. Orang-orang mengamini kalimat itu karena ungkapannya terasa akurat dari aspek psikologis.

Kematian banyak orang dalam waktu bersamaan selalu terasa mengejutkan, namun perih hati kita menjadi berlipat ganda saat mempelajari satu nama dari banyak nama yang seketika menyandang status almarhum dan almarhumah.

Saya kira, ungkapan Stalin itu tidak hanya benar dalam konteks kematian besar, tapi juga benar dalam konteks penyiksaan terhadap suatu populasi, seperti apa yang sedang terjadi di Gaza.

Jika kita melihat Gaza sebagai tren berita, maka kita hanya akan melihatnya sebagai sebuah kabar buruk yang terjadi nun jauh di sana. Tapi jika kita mau mengenal seseorang yang menjalani hidupnya di sana, kita akan mual akibat guncangan rasa kemanusiaan yang tak terperi. Setidaknya, itulah yang saya rasakan belakangan ini.

Setelah satu tahun mengikuti berita Gaza secara obsesif, akhir tahun 2024 saya memutuskan untuk berhenti menjadi konsumen berita yang pasif. Mengikuti berita secara pasif hanya membuat luka hati saya semakin menganga.

Lalu, saya menemukan gerakan solidaritas untuk keluarga Gaza yang bernama Pal Collective. Gerakan ini diinisiasi oleh Sammy Obeid, seorang komedian tunggal Amerika keturunan Palestina yang mengajak orang-orang mendampingi keluarga Gaza. Relawan gerakan ini bertugas untuk mengidentifikasi kebutuhan keluarga yang didampingi dan berusaha mengatasi masalah tersebut secara bersama-sama.

Melalui gerakan itulah saya mengenal Ibrahim, seorang pemuda baik hati yang dipasangkan dengan saya oleh Pal Collective. Mengenal Ibrahim membuat saya memahami seperti apa dampak penjajahan dan genosida di level individual.

Baca Juga  Wajah Sendu Tas dan Sepatu

Ibrahim mungkin satu dari sedikit orang yang cukup beruntung tak kehilangan satupun anggota keluarga selama genosida. Secara ajaib, seluruh anggota keluarganya masih lengkap, mulai dari kedua orang tua sampai kakak-kakak dan adik-adiknya. Namun, bukan berarti mereka tak pernah berhadapan dengan bahaya. Ayahnya terluka saat pengeboman di Kamp Al Maghazi pada pertengahan 2024 yang menewaskan salah satu sepupunya.

Ibrahim bersyukur anggota keluarganya masih lengkap, namun bukan berarti dia tak menderita kehilangan. Tunangan dan sahabat terdekatnya tewas akibat serangan. Ibrahim mengatakan hidupnya seperti berakhir setelah kehilangan orang-orang yang menjadi pilar emosinya. Ia menjadi manusia yang hidup tanpa nyawa.

Lanskap sosial yang berubah akibat perang membuat Ibrahim didera rasa kesepian ekstrem. Banyak teman yang tewas dan yang tersisa pun tidak mudah untuk ditemui. Masing-masing orang sibuk untuk bertahan hidup, termasuk dirinya sendiri.

Dalam perang, kesepian mungkin tidak dilihat sebagai isu yang besar dibandingkan dengan keselamatan. Tapi, sebenarnya tidak demikian. Perasaan kesepian adalah persoalan psikologis yang dapat membunuh  manusia secara perlahan-lahan. Manusia tercipta sebagai makhluk sosial dan perasaan terisolasi otomatis menjadi persoalan yang mengancam.

Untuk mengatasi rasa kesepiannya, saya mendorong Ibrahim untuk terhubung dengan orang-orang baru, dengan siapapun orang yang tersisa di sekitarnya. Bagi saya, terhubung dengan orang-orang adalah solusi jitu untuk menguatkan ketahanan psikologis.

Namun, jawaban Ibrahim sangat mengejutkan dan tidak saya duga-duga.

“Aku tidak ingin mengenal siapapun dari Gaza. Aku tidak bisa memastikan mereka selamat melalui perang ini, Aku tidak sanggup lagi kehilangan orang yang aku cintai.”

Saya tidak menyangka dia akan menjawab seperti itu. Jawabannya jelas menunjukkan tanda-tanda trauma. Bahkan untuk berkenalan dan berteman, sebuah aktivitas alami seorang manusia, dianggap sebagai potensi ancaman bagi dirinya. Hati saya ikut hancur saat menyadari bahwa ia sedemikian menderita.

Baca Juga  Khadijah : Pendukung Utama Rasulullah dalam Penyampaian Ajaran Islam

Alasan yang sama membuatnya menahan diri untuk tidak menyatakan cinta pada gadis yang belakangan ia sukai. Tanpa perang, jatuh cinta sudah membuat seseorang penuh keraguan dan pertimbangan. Dan saat perang, cinta menjadi sesuatu yang mustahil untuk dirayakan.

Mungkin ada yang tetap memilih menikah di tengah kekacauan, tapi tidak demikian bagi Ibrahim. Keadaannya yang tak punya uang dan ketiadaan rasa aman membuatnya berpikir bahwa pernikahan adalah sesuatu yang tak kan ia jalani. Tak sekadar soal tak mampu untuk menghidupi istri dan anak-anaknya nanti, tapi juga perasaan tak tega jika berbahagia di tengah penderitaan keluarga dan kerabatnya sendiri. Pada titik ini, aku memahami pilihan Ibrahim untuk tidak menikah dan childfree.

Genosida benar-benar merebut pengalaman-pengalaman wajar yang mustinya dialami oleh manusia.

Meskipun demikian, bicara tentang Ibrahim bukan hanya soal penderitaan. Dia memang menderita, tapi bukan berarti kehilangan rasa kemanusiaan. Dia tidak menjadi hilang rasa dan hilang akal karena harus mempertahankan kehidupan. Tak seperti sebagian orang di Gaza yang menimbun bahan pangan dan melipatgandakan harga untuk kepentingannya sendiri.

Di tangan Ibrahim, uang donasi yang kukirimkan kembali ia donasikan untuk kerabat dan tetangganya yang membutuhkan. Katanya, ia tak tahan melihat tetangganya kelaparan. Tak semua keluarga di Gaza mendapatkan bantuan langsung dari solidaritas masyarakat internasional, maka ia ingin berbagi pada kerabat dan tetangganya yang sama sekali tidak punya sumber pemasukan.

Ibrahim membuktikan bahwa manusia tidak selalu menjadi korban dari keadaan. Ia memilih tetap mempertahankan sikap welas asih sebagai manusia meskipun bersikap buas bisa dipahami sebagai bentuk pertahanan diri.

Ibrahim menunjukkan apa yang disebut Viktor Frankl sebagai kehendak bebas. Manusia tidak bisa mengontrol peristiwa apa yang akan terjadi pada dirinya, tapi manusia bisa mengontrol bagaimana harus bersikap atas peristiwa yang menimpanya.

Baca Juga  Cara Menata Hati (Qolbun Salim)

Sikapnya menjadi teladan bagi saya. Saya memilih tetap menjadi manusia di tengah distres kolektif yang mendera akibat peristiwa genosida. Merasakan dan menghadapi rasa sakit adalah hal yang normal sebagai manusia.

Ibrahim bukan siapa-siapa. Ia bukan tokoh, maupun selebritas dunia maya. Namun, bagi saya ia seorang manusia yang teramat berharga. Bahkan lebih berharga daripada para pemimpin Dunia Arab yang bergelimang harta, tapi diam saja menyaksikan penderitaan rakyat Gaza.

*

Dengan segala bentuk protes di seluruh dunia, keadaan di Gaza tidak kunjung membaik. Dua puluh empat jam terakhir, beredar informasi Israel siap menganeksasi Gaza sepenuhnya.

Blokade bantuan akan diteruskan. Sebagai gantinya, Israel akan menentukan siapa yang boleh menerima bantuan dan siapa yang tidak. Mereka juga bermaksud untuk mengusir warga Gaza yang masih bertahan.

Bagi saya, kabar ini lebih dari sekadar berita, tapi rasa sakit. Saya hampir hilang keseimbangan memikirkan nasib Ibrahim kedepannya. Makin lama, situasinya makin tak menguntungkan buatnya.

Saya menangis sejadi-jadinya saat ia mengirimkan pesan seperti di bawah.

“Jangan terlalu sedih jika aku tiada. Aku bahagia dengan pertemanan kita. Kamu menjadi kekuatanku untuk melalui ini semua.”

Mengapa dunia membiarkan orang sebaik dia menderita?

Bagikan
Post a Comment