f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
interdisipliner

Memahami Kembali Hakikat Interdisipliner dalam Pendidikan

Ilmuwan dan iletelektual dahulu, seperti Ibnu Sina merupakan seorang yang menguasai bidang kedokteran, filsafat, matematika, dan musik dalam satu bingkai pemikiran komprehensif. Ibnu Sina bukan hanya “dokter” atau “filsuf,” tetapi seorang polymath yang menulis ulasan tafsir Al‑Qur’an dengan metode hermeneutika dan merumuskan teori tentang mineralogi, astronomi, hingga psikologi. Pun Al‑Ghazali, karya besar Ihyā’ ‘Ulūm al‑Dīn menyatukan fiqh (hukum Islam), kalam (teologi), dan tasawuf (mistisisme) dalam satu sistem pemikiran yang holistik.

Di zaman modern dan di Indonesia, penekanan pada riset dan standar evaluasi akademik mendorong spesialisasi keilmuan yang sangat mendalam. Namun di Jerman, dalam handbook Leadership and Culture: Comparative Models of Top Civil Servant Training oleh Montgomery Van Wart, dkk. (2015) pendekatan “leadership trainee” dengan rotational assignments menegaskan pentingnya pemimpin generalis.

Mereka berganti tugas lintas divisi selama beberapa tahun untuk memahami keseluruhan fungsi organisasi sebelum mencapai jabatan puncak. Kebijakan ini membuktikan bahwa untuk menangani kompleksitas sosial dan ekonomi, kemampuan melihat dari banyak sudut pandang lebih dibutuhkan daripada kepakaran tunggal.

Spesifikasi, Multidisipliner, dan Interdisipliner

Spesifikasi adalah pendalaman satu disiplin hingga mencapai kompetensi teknis tinggi. Sedangkan multidisipliner melibatkan beberapa disiplin ilmu secara berdampingan tanpa perlu melakukan sintesis metodologis. Misalnya, program Kampus Merdeka–Merdeka Belajar (MBKM) memberi mahasiswa kebebasan mengambil mata kuliah di luar jurusan. Meski lebih bersifat penjumlahan SKS daripada integrasi konsep antar‑ilmu.

Interdisipliner menuntut integrasi konseptual dan metodologis antara dua atau lebih disiplin untuk mengatasi masalah bersama. Dalam Kurikulum Merdeka 2025, pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics) diamanatkan, dan Panduan Pembelajaran Mendalam menetapkan minimal 10 % waktu belajar untuk proyek lintas‑mata pelajaran, mendorong siswa berpikir holistik.

Keahlian yang Interdisipliner

Di Sekolah Dasar, model tematik integratif Kurikulum Merdeka menggabungkan IPA, Matematika, dan Seni dalam satu proyek. Misalnya “Energi dan Lingkungan” yang melatih siswa melihat keterkaitan antara konsep ilmiah, numerik, dan estetika.

Baca Juga  Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Di Perguruan Tinggi, kebijakan MBKM memungkinkan mahasiswa magang industri, melakukan penelitian lintas‑jurusan, dan menukar kredit hingga tiga semester. Meskipun belum ada standar nasional eksplisit, beberapa universitas telah merancang program studi gabungan. Seperti Bioteknologi dan Hukum Kekayaan Intelektual—sebagai wujud interdisipliner.

Dalam dunia kerja, program trainee di perusahaan Jerman mempraktikkan rotational assignments selama beberapa tahun, mempersiapkan manajer yang memahami aspek produksi, pemasaran, keuangan, dan sumber daya manusia secara menyeluruh. Model ini memastikan mereka tidak terjebak silo keahlian ketika mengambil keputusan strategis

Pendidikan yang Ideal

Pendidikan ideal menggabungkan kedalaman dan keluasan ilmu, membekali peserta didik dengan kompetensi teknis sekaligus kemampuan berpikir sistemik. Pendekatan interdisipliner menjembatani “silo” keilmuan dan mendorong kolaborasi antar-disiplin untuk memecahkan isu nyata; baik sosial, lingkungan, maupun teknologi. Model ini mengajarkan bahwa tantangan kompleks tidak dapat ditangani oleh satu bidang saja, melainkan memerlukan sinergi perspektif dari berbagai disiplin.

Meninjau spesialisasi dan multidisipliner, pendidikan interdisipliner paling memadai untuk memecahkan tantangan modern yang bersifat kompleks dan melibatkan banyak pemangku kepentingan. Ini membangun kemampuan berpikir sistemik, kolaborasi, dan kreativitas—keterampilan yang sangat dibutuhkan di abad ke‑21.

Contoh implementasi ideal terlihat di Sekolah Dasar melalui proyek STEAM (Kurikum Merdeka), di Perguruan Tinggi lewat MBKM yang mendorong riset dan praktik lintas‑kursus, serta di korporasi Jerman dengan program manajemen umum ber‑rotational assignments.

Untuk itu, apabila menjadi perhatian dan afirmasi banyak elemen, maka perlu penegasan regulasi dalam Permendikbudristek. Misalnya memperbaharui Permendikbudristek No. 5/2022 dan No. 8/2024—agar mencantumkan klausul interdisipliner. Selain itu untuk memperluas insentif untuk proyek lintas-disiplin, dan melatih guru serta dosen sebagai fasilitator integrasi ilmu. Dengan demikian, pendidikan Indonesia akan mampu mencetak pemikir lintas batas, bukan hanya spesialis atau generalis.

Bagikan
Post a Comment