f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Salat : Identitas Muslim yang Mulai Diabaikan

“Sebentar, masih sibuk ini..” “Oh iya, nanti aku salat” “Mw salat? Aku nitip ya..”. Beragam kalimat terlontar hanya untuk menunda bahkan meniadakan aktivitas salat. Dimulai dari kalimat tundaan yang berujung tidak menunaikan salat hingga kalimat candaan yang bermaksud untuk tidak menunaikannya sedari awal.

 Fenomena ini menjadi suatu hal yang lumrah di tengah-tengah umat muslim. Dari kalangan remaja hingga orang tua seakan sepakat untuk menganggap enteng perkara salat. Antara kesibukan dunianya dan rasa malas yang ada pada dirinya menjadi penyebab hilangnya keinginan untuk melaksanakan salat.

Esensi Salat

Salat memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Salat merupakan tanda penghambaan seorang hamba kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dan salat juga merupakan pondasi pertama dalam mebentuk keimanan seorang muslim. Oleh karena itu, Rasulullah memberi perhatian penuh terhadap perkara salat.

Bentuk perhatian tersebut tergambarkan dari banyaknya nash-nash hadits dan al-Quran yang menjelaskan tentang sholat. Dimulai dari sejarah dan esensinya, keutamaan yang terkandung didalamnya hingga tata cara yang sangat rinci dalam melakukannya.

Untuk menekankan pentingnya salat bagi seorang muslim, bisa dimulai dengan mengetahui esensi salat itu sendiri. Berbagai pertaanyaan seperti “Mengapa salat itu wajib?” “Mengapa kita harus melaksanakan salat?” ”Sebenernya untuk apa kita salat?” terlontarakan dari mereka yang menganggap salat merupakan ibadah yang tidak menarik, merepotkan dan melelahkan. Padahal, Salat itu sebagai ibadah yang memberikan simbol menyembah dan mengesakan Allah. Allah berfirman dalam QS Az –Zariyat ayat 56 :

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.“

Ibadah merupakan salah satu cara untuk memupuk iman agar tetap tumbuh subur di dalam hati. Menjaga serta menunaikan salat (wajib) merupakan aktivitas wajib agar menetapnya iman pada diri seorang muslim. Meniadakan saalat dalam kesehariannya menandakan hilangnya iman.

Baca Juga  SDGs Kelima; Komitmen Kita Bersama

Sebagaimana saalat merupakan ciri khas yang dimiliki kaum muslim, maka salat juga merupakan identitas yang dimiliki seorang muslim. Melaksanakan perintah saalat menjadi salah satu tanda persaudaraan antara satu muslim dengan muslim lainnya. Ini sesuai dengan firman Allah QS At-Taubah ayat 11 :

فَإِن تَابُواْ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَٰوةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَٰوةَ فَإِخۡوَٰنُكُمۡ فِي ٱلدِّينِ ۗ

“Dan jika mereka bertobat, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat, maka (berarti mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama“

Bahkan dalam sebuah hadits, dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالكُفْرِ ، تَرْكَ الصَّلاَةِ

“Sesungguhnya batas antara seseorang dengan syirik dan kufur itu adalah meninggalkan salat.” (HR. Muslim, no 82)

Dari sini kita mengetahui bahwa salat menjadi identitas dan pembatas agar seseorang tidak terjatuh ke dalam kesyirikan dan kekufuran kepada Allah.  

Memuliakan Salat

Apa yang kita rasakan ketika kita dijamin sesuatu hal yang berharga dari seseorang yang memiliki pangkat dan jabatan yang lebih tinggi dari kita? Misal, kita dijamin nilai yang bagus oleh guru atau dosen kita ketika kita dapat menyelesaikan tugas dengan baik atau kita dijamin penambahan gaji oleh bos kita ketika kita berkerja dengan baik sesuai dengan perintah yang diberikan. Tentu kita akan merasakan kesenangan dan ketenangan yang luar biasa. Kita tidak perlu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi di kemudian hari. Lantas bagaimana jika yang memberikan jaminan tersebut adalah Tuhan seluruh manusia yaitu Allah subhanahu wa ta’alaa ?

Allah memberikan banyak sekali jaminan bagi orang-orang yang melaksanakan perbuatan baik. Termasuk dalam hal ini adalah salat. Begitu banyak keutamaan saalat yang telah dijelaskan di dalam al quran maupun hadits. Allah menjadikan ssalat sebagai bentuk pertolongan terbesar bagi hambanya untuk meneguhkan diri dalam segala urusan. Allah subahanahu wa ta’alaa  berfirman di dalam QS Al-Baqarah ayat 45:

Baca Juga  Teknologi Menyerang Mentalitas

وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَٰوةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,“

Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir al-Quran al-‘Azhim menjelaskan :  Allah Swt berfirman (dengan memberikan perintah) kepada hamba-hambaNya tentang apa yang mereka harapkan berupa kebaikan di dunia dan akhirat, dengan memohon pertolongan melalui kesabaran dan salat.

Banyak di antara kaum muslim yang menganggap remeh perkara salat. Mereka tidak menyadari dan tertipu dengan kelapangan dan kesenangan yang Allah berikan. Padahal dalam perkara dunia dan akhirat kita tidak memiliki ilmu terhadapnya. Bukankah seharusnya kita bersegera meraih dan memohon pertolongan Allah di segala urusan yang tidak kita ketahui?

Kita sebagai manusia hidup di atas ketidaktahuan dan kebodohan manusia adalah sombong di atas ketidaktahuan tersebut. Meninggalkan salat mencirikan bahwasannya kita merupakan hamba yang sombong karena tidak membutuhkan bantuan Allah subahanahu wa ta’alaa

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sebagai manusia yang paling mulia di muka bumi. Juga sebagai orang yang dicintai Allah dan dijamin surga oleh-Nya memperlakukan salat sedemekian mulia. Rasulullah mencontohkan kepada kita untuk menjadikan salat sebagai tempat untuk meminta pertolongan kepada Allah terhadap urusan dunia dan akhirat. Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: (HR. Abu dawud)

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى

“Bila kedatangan masalah, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan salat.” (HR. Abu dawud, no 1420)

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

قُمْ يَا بِلَالُ فَأَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ

“Wahai Bilal, berdirilah. Nyamankanlah kami dengan mendirikan salat.” (HR. Abu dawud, no 4985)

Baca Juga  Unsur Psikologi dalam Pembelajaran Fisika
Salat sebagai bekal alam Akhirat

Jika rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam saja memperlakukan salat sebegitu pentingnya, lantas mengapa kita yang tidak memiliki kemuliaan apapun malah menjauhinya? Terlepas dari urusan dunia yang menyibukkan, sejatinya kita akan berpulang ke alam akhirat. Salat menjadi hal pertama yang akan diperhitungkan dari amalan manusia. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah bersabda:

إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ

“Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah “           (HR. Tirmidzi, no 413)

Jika bukan salat, amalan apa yang bisa menjadi bekal bagi kita ketika berpulang ke hadapan Allah subahanahu wa ta’alaa? Jika bukan salat, amalan apa yang bisa kita banggakan di hadapan-Nya? Semoga kita semua senantiasa menjadi orang-orang yang selalu menjaga salatnya. Wallahu a’lam

Bagikan
Comments
  • barayev

    sangat bermanfaat!

    Mei 20, 2025
Post a Comment