Dunia Anak Remaja; Peran dan Keberadaan Orang Tua
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pernah mengatakan, “Harapan dunia bergantung pada orang-orang muda. Kedamaian, dinamisme ekonomi, keadilan sosial, toleransi. Semua ini dan lebih banyak lagi, pada hari ini dan besok, bergantung pada kekuatan pemuda.”
***
Seperti apakah dunia anak remaja saat ini? Apa itu anak remaja? Masih banyak orang tua berpikir, bahwa anak remaja tidak ada bedanya dengan anak-anak balita, atau anak bayi yang baru lahir. Mereka hanya berubah secara fisik, seiring usia anak yang bertambah. Artinya anak semakin mudah diatur, mandiri, dan sudah tidak merepotkan lagi seperti bayi yang harus bolak balik ganti popok. Ketidak pekaan orang tua seperti ini dapat menciptakan situasi yang kompleks, beberapa atau kebanyakan para orang tua beranggapan, kalau masa remaja hanya bagian dari hidup manusia dan tidak ada yang penting di masa itu.
Orang tua tidak sepenuhnya perhatian pada perubahan fisik, emosional, dan sosial pada remaja. Padahal kebutuhan dan tuntutan anak remaja turut berubah seiring kemajuan zaman. Perbedaan antar generasi membuat orang tua kesulitan untuk memahami minat, nilai, dan tantangan yang dihadapi oleh anak remaja, dan kemudian menimbulkan ketidakcocokan dalam berkomunikasi. Akibatnya banyak anak-anak remaja merasa kesepian, merasa tidak ada yang mau mendengarkan, terutama saat mengutarakan pendapat, curahan hati dan kesulitan yang sedang mereka hadapi.
Anak remaja, dan tantangan mereka pada hari ini.
Anak remaja adalah mereka yang berumur antara rentang usia 10-24 tahun, dan terbesar dari populasi yang ada, bahkan saat ini jumlah anak remaja di dunia lebih banyak daripada yang berusia lanjut. Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki penduduk remaja dengan jumlah terbanyak. Generasi remaja adalah generasi emas suatu negara, sehingga anak remaja membutuhkan perhatian dan pembinaan. Hal ini agar mereka tidak hanya mengerti ilmu dunia, tetapi juga memahami ilmu agama, etika, norma dan moral.
Masa remaja yang kita kenal sebagai masa peralihan, adalah transisi dari kanak-kanak menuju manusia dewasa. Pada masa inilah anak akan menghadapi banyak tantangan dari dunia nyata yang sesungguhnya, sehingga orang tua harus menaruh perhatian lebih besar pada perubahan perilaku dan cara berpikir (kognitif) anak remaja. Mereka memerlukan ruang dalam proses penyesuaian diri terhadap berbagai perubahan tersebut. Kenyataannya, mereka justru terkendala keterbatasan akses menuju ruang itu, sehingga tidak dapat mengekspresikan diri dan emosi secara sehat dan maksimal.
Zaman dan teknologi yang semakin maju, turut andil menyuguhkan sejumlah kriteria dan kategori manusia seperti apa yang akan mampu bersaing di luar sana. Belum lagi rentetan target-target standar hidup yang minimal harus tercapai sebagai pembuktian agar keberadaan mereka mendapat apresiasi dan pengakuan masyarakat. Sejak itulah sepak terjang remaja di bumi ini terkadang di luar nalar. Mereka sibuk belajar di sekolah, menghabiskan waktu dengan kegiatan harian, nyaris seperti manusia dewasa yang sibuknya tidak ketulungan. Akibatnya banyak anak remaja kehilangan kehangatan dalam berinteraksi dan berkomunikasi bersama orang tua dan keluarga.
Erik Erikson, tokoh psikolog pengembangan psikososial mengatakan, bahwa masa remaja adalah masa anak sedang mencari identitas diri. Maka apabila anak gagal mengeksplorasi identitasnya, akan muncul kebingungan peran, yaitu tidak yakin tentang siapa dirinya. Anak mudah merasa kecewa dan bingung tetang kehidupan yang sedang mereka jalani. Selain itu, bagian otak prefrontal cortex anak remaja belum sempurna perkembangannya, sehingga menyebabkan anak remaja belum dapat membuat keputusan secara rasional.
Anak remaja sangat sensitif dan peka terhadap tekanan baik dari lingkungan maupun teman sebayanya (bullying). Mereka menjadi mudah marah, mudah melakukan perilaku impulsif atau beresiko tinggi, dan sulit memahami emosi orang lain. Hormon pubertas pada anak remaja juga ikut andil dalam menyumbang berbagai perubahan baik fisik, emosi, pikiran serta perilaku. Oleh karena itu, anak remaja butuh untuk dimengerti, didengarkan, bukan dimarahi atau dihakimi. Berikan arahan dan fasilitas untuk melakukan berbagai kegiatan positif yang akan memberikan dampak baik bagi tumbuh kembangnya.
Remaja berharap orang tua dapat menjaga mereka meski dari jauh.
Dari sekian banyak peran orang tua yang anak remaja butuhkan, adalah dapat menjaga mereka secara jarak jauh. Melakukan pemantauan jarak jauh secara bijaksana, adalah salah satu cara menghormati privasi anak remaja. Selain itu anak remaja tidak nyaman, jika orang tua selalu memperlakukan mereka seperti anak kecil yang selalu dalam pengawasan. Sebaiknya orang tua belajar menanamkan kepercayaan, bahwa mereka mampu mengatasi setiap persoalan yang terjadi.
Meski menjaga dari jarak jauh terdengar sangat menantang, namun ini dapat membantu mereka menemukan jati diri. Menurut Aisyah Dahlan, seorang praktisi dan peneliti neuroscience mengatakan, bahwa energi ibu dan anak dapat menyatu, bahkan menembus ruang dan waktu. Terutama saat sedang mendoakan anak-anaknya, agar anak selalu mendapatkan penjagaan dari Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Mendoakan anak adalah salah satu usaha ampuh ketika menjaga anak dari jarak jauh, mampu menciptakan energi positif.
Menjalin komunikasi yang baik dan suportif untuk menciptakan ketenangan dan rasa aman pada anak. Jangan berkomunikasi seperti kepada anak kecil, dan beri ruang untuk berdiskusi. Menerima dan memvalidasi berbagai ekspresi yang muncul pada anak remaja, dan menahan diri untuk merespon dengan memberikan nasihat secara cepat. Dengarkan dahulu apa yang sedang mereka alami, karena terkadang konflik dan masalah sering tidak dapat mereka hindari. Dukung mereka agar berani memutuskan sesuatu. Walaupun pada faktanya sesekali mereka pasti akan melakukan kesalahan dalam pengambilan keputusan, namun dampingilah mereka dengan penuh kasih sayang.
Mari menjadi tempat pulang paling aman dan dapat menyembuhkan semua luka babak belur setelah mereka seharian bertarung di dunia nyata yang keras. Menjadi orang tua yang menyenangkan, tetapi tidak memanjakan mereka secara berlebihan. Dengan semua usaha terbaik sebagai orang tua, semoga anak remaja tumbuh menjadi manusia dewasa yang sehat fisik dan psikologis. Mampu menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab di masa depan.
