Perempuan dan Spirit Literasi Mubadalah
Oleh : Halwa Intan*
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yag menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajarkan manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya” – (Al Alaq: 1-5)
Kita ketahui bersama ayat di atas merupakan perintah Allah yang pertama kali turun kepada manusia. Bukan seruan salat bukan juga sedekah melainkan perintah untuk membaca. Mengingat semangat literasi, maka tak lepas dari karya Pramoedya Ananta Toer.
Seorang sastrawan legendaris Indonesia yang terkenal dengan Tetralogi Burunya; “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Kedua hal tersebut dinamakan sebagai literasi. Tidak hanya membaca dan menulis namun harus mampu menganalisis dan kritis dalam berfikir. Hal itulah yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lain.
Namun disayangkan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh UNESCO pada tahun 2016 yang bernama “The Worls’s Most Literate Nations” menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-60. Hal ini dikarenakan kurangnya minat dan kebiasaan membaca masyarakatnya.
Hal ini berbanding terbalik dengan banyak munculnya perpustakaan daerah, perpustakaan kampus, ataupun perpustakaan komunitas/organisasi. Yang merupakan upaya untuk membangun dan melanggengkan budaya literasi di masyarakat baik bersifat formal maupun kultural. Terlebih saat pandemi hingga pasca ini budaya literasi media ataupun teknologi banyak diminati lintas kalangan untuk berbagai keperluan.
Perempuan dan Literasi
Maraknya komunitas atau organisasi yang mendirikan pergerakan berbasis gender equality dalam menyikapi peran perempuan dan laki-laki tanpa mendikotomikan dua ruang (domestik dan publik). Hal ini seharusnya menjadi motor gerakan literasi di masyarakat dengan menghasilkan karya-karya intelektual.
Kita perlu coba menilik kembali di masa lalu, sosok pahlawan Indonesia yang lahir pada 21 April 1879 di Jepara yang berusaha mendobrak stigma patriarki masyarakat saat itu. Kartini, yang melakukan radikalisasi pemahaman di era tersebut, bahwa perempuan Jawa hanya dibolehkan masak, macak dan manak atau dengan istilah lain dapur, sumur dan kasur.
Perbedaan gender inilah yang melahirkan ketidakadilan seperti di buku Analisis Gender dan Transformasi Sosial adanya marginalisasi, stereotype, subordinasi, beban ganda hingga kekerasan. Spirit perjuangan emansipasi beliau melawan dengan elegan namun berisik melalui tulisan daripada memilih bungkam, membebaskan angan-angan, menyuarakan pemikiran dan pengalamannya.
Hingga di akhir hayatnya, tulisan-tulisan tersebut dikumpulkan dan dijadikan sebuah karya yang dikenal dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Hal ini yang perlu direfleksikan perempuan masa kini untuk mengenyam pendidikan lebih luas, karena yang diurusi bukan hanya perihal pakaia.
Pencetak Perubahan
Pakaian bisa robek, kecantikan akan luntur. Perempuan boleh bersolek, namun tanpa melupakan bahwa ia seorang makhluk intelek. Perempuan juga harusnya sadar mereka bukan hanya pencetak peradaban. Namun ia memberikan perubahan dalam kehidupan terlebih jika telah menyandang status Ibu. Yang artinya memiliki peranan penting pendidik pertama bersama dengan suami dalam pembentukan dan pengembangan karakter buah hati.
Tidak jauh beda dengan Kartini, kalangan masyarakat pedesaan sebagian orang menganggap primitif atau kuno karena kurang tersorot oleh kebijakan pemerintah, kurangnya pengetahuan hingga yang berakibat ketimpangan. Hal ini menjadi polemik bersama sebagai manusia dengan memberikan asah, asih, asuh terhadap masyarakat yang termarginalkan, baik oleh sistem atau kultur. Contohnya perempuan tersendiri, setelah tamat jenjang sekolah mereka sudah disibukkan dengan pekerjaan rumah. Mindset yang ditamankan oleh pendahulu khususnya orang Jawa yaitu; “wong wedok bakale neng mburi” (perempuan pada akhirnya di belakang, entah itu urusan domestik maupun publik).
Kurangnya literasi dan edukasi di desa terutama gender perempuan yang pada akhirnya sebagian orang memilih menjadi BMI (Buruh Migran Indonesia). Alsannya adalah tanah mereka dibeli kapitalis hingga tidak mempunyai keterampilan atau bakat. Tetapi adanya kemajuan zaman dan mulai mengikisnya stigma tersebut maka upaya masyarakat setempat membentuk organisasi untuk memberdayakan perempuan misalnya organisasi PKK.
Literasi dalam Mubadalah
Beberapa orang mungkin masih asing dengan istilah Mubadalah. Di dalam buku Qiraah Mubadalah karya Faqihudin Abdul Kodir kata mubadalah sendiri merupakan bentuk kesalingan dalam pemahaman berelasi. Yang artinya manusia merupakan makhluk homo homini socius yang memerlukan bantuan dari orang lain dan sala hsatu jenis kelamin tidak diperkenankan melakukan kezhaliman dengan mendominasi dan menghegemoni yang lain. Hal ini selaras dengan QS. Al-Anfaal ayat 72 “ba’dhuhum awliya’ ba’dh” (satu sama lain adalah penolong).
Kita seringkali mendengar pernyataan “perempuan itu 9 nafsu 1 akal sedangkan laki-laki itu 1 nafsu 9 akal”. Dari kalimat tersebut adanya superioritas laki-laki atas perempuan namun jika dikontekstualkan dalam literasi bukan berarti perempuan kurang akal. Namun, terjadi karena struktur sosial yang membatasi perempuan untuk berpikir dan belajar.
Di zaman Rasul dan sempat menjadi trending di masyarakat karena lagu yaitu Aisyah, dalam liriknya yang kontroversial itu seakan-akan beliau cantik sebatas fisik. Namun di sisi lain beliau unggul dalam intelektualitasnya baik ilmu, agama, dan menjadi penghafal lebih dari dua ribu dua ratus dari hadist Nabi bahkan menggugat hadist-hadist misoginis. Contohnya perempuan adalah sumber kesialan (HR Bukhori) hal ini diluruskan penjelasan Rasulullah soal cara pandang jahiliyah bukan terhadap perempuan. Beralih di zaman yunani perempuan dianggap setengah hewan jenis mamalia dan banyaknya filsuf perempuan yang kurang disorot.
Di era saat ini dari dua organisasi masyarakat terbesar yakni NU dan Muhammadiyah yang wacana keilmuannya mengenai pengarusutamaan gender, Dr Nur Rofiah dan Dr Atiyatul Ulya merupakan ulama-ulama perempuan di Indonesia. Hal ini berarti ulama (baik perempuan atau laki-laki) yang memiliki perspektif gender, bukan hanya ulama bergender perempuan. Maka tanpa adanya literasi mubadalah/kesalingan tidak mungkin adanya ulama perempuan, ilmuan perempuan untuk meneruskan misi profetik yakni liberasi, humanisasi dan transendensi.
*) Penulis merupakan kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kudus
