f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
jihad literasi

Pesan Jihad Literasi Perspektif Yusuf Qardhawi

Jika mengamati kehidupan masyarakat yang tidak berbentuk. Misalnya, sungguh ini adalah masyarakat buta literasi. Kenakalan remaja, penyimpangan sosial, kejehatan, korupsi, dan dekadensi moral secara umum; menggambarkan lemahnya literasi ilmu, terlebih literasi teks spritualitas mereka. Dengan demikian, tentu, penting untuk memanggil kembali akan pentingnya melakukan jihad literasi.

Seorang ulama Islam terkemuka dunia, Yusuf Qardhawi, dalam kitab Fiqih Jihad: Sebuah Karya Monumental Terlengkap tentang Jihad Menurut Al-Qur’an dan Sunnah yang telah penerbit Mizan publikasikan setebal 1260 halaman, menuliskan bahwa jihad masyarakat sipil itu itu dapat meliputi: 1) Jihad ilmu, 2) Jihad sosial, 3) Jihad ekonomi, 4) Jihad pendidikan, 5) Jihad kesehatan, dan 6) Jihad lingkungan (2010: 147-155). Untuk mewujudkan Jihad sipil itu, maka jihad literasi (sungguh menjadi) alternatif yang brilian nan apik.

Dari keenam jihad yang Qardhawi singgung, jelas membutuhkan kemampuan semangat berliterasi. Semakin kuat kekuatan literasinya maka ketika terbenturkan berbagai masalah. Ia akan tetap eksis mampu memberikan solusi. Bukannya bentuk dari kuatnya literasi mengindikasikan pada kekuatan ia menghadapi kehidupan bahkan mampu memberikan peradaban yang cemerlang ke depannya.

***

Literasi pada hakekatnya adalah suatu kegiatan yang mencakup berbagai makna yang akan memahami, menyadarkan, dan memberi makna pada puncak kehidupan. Baik keluarga, masyarakat dan negara. Jika Anda ingin maju, maka yang harus Anda lakukan literarif. Artinya melakukan kegiatan literasi dan literasi, peka terhadap masyarakat, peka terhadap ilmu pengetahuan, dan hidup arif.

Bagaimanapun aktivitas literasi merupakan salah satu aktivitas penting dalam hidup. Sebagian besar proses pendidikan bergantung pada kemampuan dan kesadaran literasi. Budaya literasi yang tertanam dalam diri generasi muda memengaruhi tingkat keberhasilan, baik di jenjang pendidikan maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga tidak berlebihan kiranya Dr. Roger Farr menyebut bahwa “membaca adalah hati (inti) dari pendidikan”. Bagi masyarakat Muslim, pentingnya literasi terdapat dalam wahyu pertama Nabi Muhammad Saw., yakni dalam ayat Iqra’ lalu mendapat penegasan dengan ayat allama bil qalam.

Di sinilah, menarik untuk dikutip dari pada pandangan Qardhawi, tentang urgennya melakukan salah satu jihad sehingga menjadi pengaruh yang besar terhadap umat manusia. Yakni berupa jihad melawan hawa nafsu, yang terklasifikasikan menjadi menjadi empat tingkatan:

  1. Melakukan jihad terhadap diri sendiri untuk mempelajari kebaikan, petunjuk, dan agama yang benar
  2. Jihad terhadap diri untuk mengamalkan ilmu yang sudah dipelajari
  3. Jihad terhadap diri untuk mendakwahkan dan mengajarkan ilmu kepada orang-orang yang belum mengetahui
  4. Berjihad dengan kesabaran ketika mengalami kesulitan dan siksaan dari makhluk dalam berdakwah di jalan Allah (2010:82)
Baca Juga  Melawan Kekerasan di Ruang Digital Melalui Literasi
***

Tingkatan jihad yang tersebut di atas sangatlah berkaitan dengan urgensi pencarian ilmu di satu sisi dan keberkahannya pada sisi lain. Dalam mewujudkan dan meningkatkan kualitas intelektualitas. Maka mau tidak mau membutuhkan kecerdasan berliterasi. Dengan demikian apa yang dilakukan adalah bentuk dari jihad literasi. Sebuah kerelaan untuk berkorban baik jiwa, raga, dan material untuk mewujudkan amal keilmuan.

Hal ini Quraish Shihab dalam menanggapi perihal jihad literasi melalui tafsirannya pada ayat 1 surat Al-Alaq mengindikasikan bahwa Tuhan yang mampu menciptakan manusia dari asal yang lemah dan mampu pula untuk mengajarkannya untuk berliterasi yang merupakan sebuah wasilah untuk pengembangan diri dan khazanah keilmuan. interpretasi nya pun selaras dengan apa yang termaktub dalam tafsir Juz Amma’. Syaikh Shalih bin Fauzan menulis bahwa iqra’ merupakan kewajiban bagi setiap insan, karena seseorang tidak mampu mempelajari sesuatu sedangkan ia tak pernah membaca (berliterasi). Meski membaca itu membutuhkan tenaga yang sangat ekstra lebih.

Dalam tafsir Ibnu Katsir Jilid 4, ada penafsiran yang menggelitik nan menarik terkait degan pentingnya berliterasi. Penjelasan ayat Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis; terdapat uraian yang menggetarkan hati penulis. Untuk lebih afdhal. Saya kutip sebagai berikut: Demi kalam, jelasnya ia adalah jenis pena untuk menulis.

***

Hal ini selaras dengan firmannya, “bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan….. Bacalah dan Tuhanmu yang paling mulia. Yang telah mengajarkan manusia sesuatu yang tidak diketahuinya”. Dengan begitu, esensi yang terkandung dalam ayat ini bahwa bentuk sumpah Allah Swt dan hamba-hambaNya tentang pentingnya berliterasi di setiap lini kehidupan (Muhammad Nasib Ar-Rifai, 2005:774).

Siapakah lalu yang wajib melakukan jihad literasi? Siapa pun kita: orang tua, masyarakat, dan terlebih kaum terdidik. Bukankah jihad adalah kewajiban? Maka, orang tua wajib memfasilitasi anak-anak dengan berbagai buku dan media lainnya agar peka dan menyatu dengan sumber literasi. Masyarakat memberikan ruang-ruang literasi (baik teks maupun non teks) sehingga lahirlah masyarakat yang gemar berliterasi.

Baca Juga  Menemukan Kembali Tujuan Pernikahan Lewat Buku "Sebelum Harimu Bersamanya"

Apalagi kaum yang terdidik, wajib mengorbankan diri secara istiqomah dalam mewujudkan anak-anak yang melek akan literasi. Jika tidak, akan menjadi dosa profesi yang akan mengalir terus menerus. Semangat berliterasi pun telah Rasulullah Saw contohkan terhadap mengkaji, meneliti, menelaah A-Qur’an sesuai riwayat Ali Bin Husain :

  خيركم من تعلم القرآن وعلمه

Artinya: Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. (Akhlak Rawi Khatib, 1, No.396)

***

Hadis di atas, banyak dimaknai bahwa Rosulullah menginisiasi tentanng pentingnya berliterasi. Karena literasi itu adalah kesetiap pada panggilan suci. Panggilan jiwa yang disetiai. Berdamai dengan diri sendiri untuk menggencarkan literasi, baik secara pribadi, keluarga, masyarakat, dan sekolah (universitas). Kesetiaan mengingatkan pesan bahwa literasi adalah gerakan suci yang membutuhkan kesetiaan. Tetanda kesetiaan adalah membersamai, memikirkan, menggerakan, dan mengorbankan diri.

Karena itu, mari budayakan Jihad literasi di segala lapisan kehidupan! Dengan seratus persen keyakinan, istiqomah melakoni, dengan beragam dan derajat kemampuan yang dikaruniai oleh Allah Swt.

Wallahu A’lam

Bagikan
Post a Comment