f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
menikah

Menikah dengan Anak Mami, Buy One Get One

“Anak perempuan itu milik ayahnya sampai dia menikah, sedangkan anak laki-laki itu milik ibunya sampai akhir hayatnya.”

Kutipan di atas mungkin membuat para perempuan gelisah, apalagi jika si perempuan adalah golongan independent woman alias perempuan yang tidak suka bergantung pada siapapun termasuk pasangannya.

Memiliki pasangan dengan karakter anak mami memang sering kali menarik ulur hati perempuan. Sudah seberapa dalam mengukur diri sendiri? Apakah sanggup dan rida menjadi makmum dari seorang laki-laki yang ‘disetir’ ibunya? Hal ini tentu akan menimbulkan gejolak batin yang cukup menguras pikiran dan energi bagi perempuan yang memiliki pasangan seorang anak mami.

Walau tidak dipungkiri, banyak perempuan berpikir bahwa lelaki yang taat dan sangat mencintai ibunya akan menjadi suami yang hebat dan mengerti bagaimana cara memperlakukan perempuan.

Lantas bagaimana jika ketakutan terhadap sudut pandang negatif anak mami tiba-tiba menyeruak? Bagaimana jika nanti gagal dalam usia pernikahan yang masih tergolong dini?

Ada beberapa hal yang mungkin akan sangat menguji mental dan membutuhkan kesabaran besar dalam menjalani pernikahan semacam ini. Latar belakang suami yang memiliki ikatan yang sangat kuat dan dimanja ibunya di saat usia yang seharusnya sudah mandiri dengan hidupnya sendiri, hal ini sering kali membuat kita merasa tidak nyaman. Keterlibatan sang ibu yang berlebihan tentu bisa membuat kita merasa kecewa. Hal yang seharusnya cukup didiskusikan berdua selalu diikut campuri.

Parahnya, jika dalam kasus ini, suami selalu menunggu dan mengiyakan pemikiran ibunya. Lalu akan diletakkan di mana keinginan kita sebagai pasangannya? Kita adalah penumpang dalam biduk rumah tangganya, berhak mengungkapkan keinginan dan impian, buka sekedar pupuk bawang saja.

Baca Juga  Ketika Perempuan Memilih: S2, Menikah atau Karir Dulu?

Bukan semata-mata karena dia sangat mencintai ibunya, namun ketika ia menaruh ibunya di atas segalanya, kita akan berada dalam kondisi yang dituntut untuk selalu mengalah. Apalagi jika ditambah kondisi yang terpaksa harus tinggal bersama dengan sang mertua yang membuat kita merasa buy one get one. Apakah nanti ia paham posisinya sebagai suami dan kepala keluarga serta menentukan prioritasnya, tanpa harus memberikan pilihan “aku atau ibumu”.

Dengan keadaan seperti ini, apakah masih bisa diperbaiki? Apakah ada harapan untuk membangun hubungan yang sehat dengan kedua belah pihak (suami dan mertua)?

Kondisi buy one get one ini seharusnya memiliki arti yang menguntungkan. Namun dalam sudut pandang lain, seorang perempuan tentu merasa dituntut untuk menjadi tipe wanita yang disukai ibunya.

Tak hanya kegalauan, emosi yang meledak tak tertahan pun bisa saja terjadi. Ketika diskusi tak menemukan solusi namun malah berujung pada pendapat ibunya, tentu membuat kita hilang kesabaran.

Berusahalah mendidik diri bahwa marah adalah hal yang wajar apabila berada pada situasi yang memang membuat marah. Namun yang tidak wajar adalah ketika sudah tidak bisa mengelolanya dengan baik sehingga merugikan diri sendiri dan sekitar.

Salah satu cara mengelola marah yang diajarkan oleh ahli adalah dengan relaksasi, mengambil napas dalam dan menahannya selama lima detik lalu mengembuskannya melalui mulut, diulang sampai relaks, tenang dan kemarahan reda. Sembari mengingat bahwa tidak boleh mengambil keputusan apapun dalam keadaan marah, apalagi menyalahkan diri sendiri.

Pelan-pelan sampai kita merasa sadar bahwa banyak sekali hal yang ada di luar kendali, termasuk pada bagaimana cara orang lain memberikan perlakuan kepada diri kita. Misalnya dari mertua yang serba mengatur, itu adalah lingkup di luar kendali, kita tidak bisa membuat beliau berhenti mengatur kehidupan keluarga kita karena kita tidak punya kendali atas itu. Yang ada dalam kendali kita adalah bagaimana respon untuk menerima atau menolak apa yang beliau inginkan. Semua bisa ditolak ataupun diterima sesuai value kita.

Baca Juga  Menyusupi Kubangan Perbedaan Menuju Kemaslahatan Pernikahan

Kita berhak membuat batasan yang tegas, bahwa di dalam rumah tangga hanya ada aturan yang disepakati oleh satu ratu dan satu raja yaitu kita dan pasangan. Tidak ada yang boleh melangkahi aturan ini.

Berusahalah mengambil sikap sebijak mungkin sebagai langkah awal dalam mengatasi permasalahan yang mungkin terjadi pada kondisi “buy one get one”. Kemampuan yang kita butuhkan adalah bernegosiasi dalam menghadapi sudut pandang dalam suatu permasalahan. Kita juga perlu ingat dan sadar akan pilihan hidup kita sendiri, jangan mudah terpengaruh orang lain. Tak lupa juga berusaha untuk mengupayakan interaksi yang sehat antara kedua belah pihak.

Percayalah bahwa pasti ada hal-hal baik yang terbentuk dari seorang suami yang memiliki kedekatan dengan ibunya. Berbagai karakter baik yang dimiliki oleh suami adalah buah dari didikan ibunya. Jangan letakkan mertua sebagai lawan kita, namun jadikanlah sebagai sahabat kita dalam menghadapi suami. Dengan demikian, keharmonisan keluarga kita akan lebih terjaga.

Bagikan
Post a Comment