f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Lima Asas Membangun Keluarga Sakinah

Keluarga Sakinah merupakan dambaan setiap insan dalam memasuki bahtera kehidupan rumah tangga. Banyak sekali orang umat islam yang mendambakan kehidupan keluarga yang sakinah, tetapi terkadang umat islam belum memahami sepenuhnya apa dan bagaimana sebenarnya keluarga yang sakinah itu.

Munculnya istilah keluarga sakinah merupakan penjabaran firman Allah dalam surah Ar-Rum (30): 21; yang menyatakan bahwa tujuan berumah tangga atau keluarga adalah untuk mewujudkan ketentraman atau ketenangan dengan dasar mawaddah wa rahmah (saling mencintai dan penuh rasa sayang).

Sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala berfirman; “Dan di antara kekuasaan-kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan jadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir (QS. Ar-Rum (30): 21).

Asas Karamah Insaniyah

Asas karamah insaniyah menempatkan (laki-laki dan perempuan) sebagai makhluk Tuhan yang memiliki kemuliaan dan kedudukan utama. Allah menciptakannya dengan dibekali berbagai macam potensi, memuliakannya dengan memberikan berbagai keutamaan dan memilihnya menjadi wali Allah untuk memakmurkan dunia dan mewujudkan kesejahteraan umat manusia. Pandangan kemanusiaan (Religius Humanism) dilandasi dengan pesan normative Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Isra (17: 70)

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra 17: 70)

Dalam keluarga sakinah, setiap anggota keluarga saling memuliakan, menghargai, dan saling mendukung dalam mewujudkan keberhasilan serta kebahagiaan lahir dan bathin. Asas karamah insaniyah ini akan dapat menghindarkan dari tindak kekerasan dan ketidakadalian. Jadi keluarga sakinah menjamin tumbuh kembang semua anggota keluarnya sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Serta menghadirkan rasa kasih sayang dan menghindari segala bentuk kekerasan dalam linkungan keluarga itu.

Baca Juga  Jangan Kau Robek Pakaian Pasanganmu !
Asas hubungan kesetaraan

Pola hubungan antar anggota dalam keluarga sakinah bersifat kesetaraan, yaitu pola hubungan antarmanusia mempunyai nilai yang sama. Perbedaan status dan peran tidak menimbulkan perbedaan nilai kemanusian pada orang lain. yang membedakannya adalah keimanan dan ketakwaannya kepada Allah Swt.

Sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

“Hai manusia, sesunguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwah diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al- Hujurat : 49: 13)

Pola hubungan antaranggota keluarga yang didasarkan pada kesetaraan nilai-nilai kemanusiaan akan mendorong munculnya sikap tafahum, tasamuh, dan penghargaan kepada orang lain. Terutama dalam membangun keluarga yang sakinah sangat diperlukan sikap seperti ini.

Asas Keadilan

Keadilan merupakan ajaran yang bersifat universal. Semua agama maupun paham mengajarkan dan membudayakan keadilan sesuai teologi maupun ideologi yang mendasarinya. Dalam diri manusia terdapat potensi rohaniyah yang membisikkan perasaan keadilan sebagai sesuatu yang benar dan harus ditegakkan.

Al-Qur’an tidak mendefinisikan adil, tetapi menunjukkan praktek penegakan keadilan, menghargai dan mengangkat derajat orang-orang yang berbuat adil, sebaliknya melarang dan mencela tindakan ketidakadlian.

Sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

“Berlaku Adillah! Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Q.S. al-Maidah (5): 8).

Implementasi berbuat adil dalam keluarga dimulai adil terhadap diri sendiri, kemudian diikuti dengan berbuat adil kepada pasangan, anak-anak, orang tua, serta kerabat. Adil terhadap diri sendiri dalam arti mampu memenuhi kebutuhan dan hak- hak diri, baik kebutuhan badani, jiwani, spiritual maupun sosial secara seimbang.

Baca Juga  Menghadapi Pasangan Egois Ala Pak Irud
Asas Mawaddah Wa Rahmah (Kasih Sayang)

Ada dua kata yang menjadi parekat keluarga sakinah, keduanya memiliki substansi makna sama dalam ekspresi berbeda, Yakni mawaddah dan rahmah. Mawaddah di maknai sebagai kasih sayang yang lahir dari interaksi fisik. Sedangkan Rahmah adalah kasih sayang yang lahir dari interaksi bathin.

Mawaddah Wa Rahmah dalam keluarga adalah keadaan jiwa pada masing-masing individu anggota keluarga yang memiliki perasaan lekat secara suka rela pada orang lain, yang diikuti oleh dorongan dan usaha untuk menjaga dan melindunginya.

Bagi kehidupan keluarga, mawaddah wa rahmah merupakan parekat antar anggota keluarga yang menimbulkan rasa kasih sayang, penghormatan, tanggung jawab antara yang satu dengan yang lainnya. Sebagaimana yang disebutkan Allah dalam surah Ar-Rum (30): 21

Asas Pemenuhan Kebutuhan Hidup Sejahtera Dunia Akhirat

Keluarga sakinah adalah bangunan keluarga yang dirancang untuk mampu memenuhi kebutuhan pokok keberlansungan dan kesejahteraan yang mengandung kemaslahatan dan keberkahan hidup dunia dan akhirat. Senada dengan prinsip ini, Al-Qur’an menganjurkan setiap manusia berdoa untuk memperoleh keberkahan dunia akhirat. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa; “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan dunia dan kebaikan di akhirat dan periharalah kami dari siksa neraka.”

Secara fitrah manusia lahir dengan membawa potensi kemanusiaan yang akan berkembang selama hidupnya. Manusia memiliki beberapa kebutuhan yang perlu dipenuhi oleh keluarganya untuk mengembangkan potensinya.

Pertama, kebutuhan spiritual dalam bentuk keyakinan bertuhan kepada Allah Yang Maha Esa (kebutuhan ketauhidan), yaitu kebutuhan untuk mencari, mendekat, dan berlindung kepada Allah Swt. Sebagaimana Firman-Nya:

“Dan (Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari Sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman:), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”, kami menjadi saksi”. (kami lakukan demikian itu) agar di hari kiamat kamu akan mengatakan, “Sesungguhnya kami (bani adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah).”

Baca Juga  Sepotong Hati untuk Adikku Sayang

Kedua, manusia mempunyai kebutuhan ubudiyyah yaitu dorongan untuk menghamba, mengabdi, dan taat kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya beriman kepada-Ku.”

Ketiga, manusia mempunyai potensi kekhaflifaan. Yaitu dasar untuk memenuhi kebutuhan, kesejahteraan bagi manusia(orang lain) dengan mengekplorasi alam secara benar, sehingga mempunyai kesadaran masyarakat dan linkungan alam.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Akun hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…. (Q.S. Al- Baqarah : 30)

Keempat, manusia mempunyai kebutuhan jasaddiyah yaitu yang mendorong agar dirinya bertahan secara fisik, dengan adanya dorongan pemenuhan kebutuhan biologis. Allah Subhanahu Wata’ ala berfirman:

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepda malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal)dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (Q.S. al-Hijr : 28).

Kelima, manusia mempunyai kebutuhan berpikir, ingin tahu, ingin belajar, dan ingin berkembang. Potensi tersebut merupakan dasar kemampuan intelektual yang dapat meninggikan derajat orang-orang yang beriman.

Sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, sehingga kemudian (Adam) mengemukakan kepada para Malaikat, lalu Allah berfirman. “Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.” (Q.S. Al-Baqarah: 31)

Itulah lima asas dalam membangun keluarga sakinah menurut islam, semoga di dalam kehidupan keluarga, kita akan selalu menerapkan lima asas tersebut. Sehingga mampu terbangunnya keluarga Sakinah Mawaddah Wa Rahmah. Aaminn

Bagikan
Post a Comment