Ika Mendebat Salat
Jika kau seorang Muslim, apakah kau merasa salat adalah sesuatu yang pantas diperdebatkan? Bagi Ika –lajang, 28 tahun, asisten produser stasiun TV swasta- seperti halnya puasa Ramadan, salat itu kewajiban mutlak; kewajiban yang seharusnya sudah tidak perlu diperdebatkan dengan dalil apapun.
Ika meyakini hal itu jauh di lubuk hatinya. Tapi, akhir-akhir ini Ika merasa tidak enak karena justru salat lah yang menjadi topik perdebatannya dengan ibu. Hampir setiap hari.
“Sudah salat, Nak?” Pertanyaan itu yang selalu diajukan ibu setiap kali Ika pulang; seperti malam ini ketika ia baru saja membuka pintu rumahnya. Pertanyaan yang selalu membuat Ika cemberut. “Ika baru pulang, Bu. Baru saja buka sepatu. Duduk sebentar boleh?” Tidak mungkin dijawab ‘tidak’, bukan?
Tapi ibu tidak pernah menjawab pertanyaan Ika. Ibu hanya tersenyum, melirik sekilas ke arah jam putih yang tergantung di atas lemari kayu, dan kembali meneruskan kegiatannya; kadang menjahit, kadang menyapu, atau seperti kali ini, Ibu duduk santai sambil menyeruput teh hijau kegemarannya.
Sebenarnya, Ika hanya menjawab ‘sudah’ atau ‘belum’. Itu saja. Tidak perlu dengan kalimat yang panjang. Dua puluh menit lagi, azan Isya berkumandang. Dan Ika tinggal melangkah menuju kamar mandi untuk berwudu, karena saat itu ia memang belum salat Magrib.
Ya, sesederhana itu sebenarnya. Tapi alih-alih berterima kasih telah diingatkan ibu, Ika justru kesal. Ika justru merasa tertekan; merasa tersudutkan dengan pertanyaan ibu. Padahal, ibu tidak sedang memarahinya. Ibu pun tidak menyeretnya ke kamar mandi untuk berwudu misalnya; tidak begitu juga.
Ibu hanya tersenyum, dan melirik ke jam dinding. Tapi, sekadar ‘tersenyum dan melirik jam dinding’ itu saja sudah membuat Ika tersinggung. Ika seakan melihat bibir ibu tidak tertarik keluar seperti layaknya sebuah sunggingan, melainkan justru tertekuk ke dalam.
Demikian pula lirikan ibu. Bagi Ika, lirikan sepintas itu seakan berubah menjadi sorotan tajam yang menghujatnya ‘pasti kamu belum salat’; atau meminta pertanggung jawabannya ‘mengapa kamu belum salat’.
Ika tidak sadar, rasa lelahnya sendiri yang sebenarnya membuatnya kesal, dan malah melampiaskannya ke ibu, “Ika capek sekali, Bu. Seharian tadi Ika survey, terus ke studio cek panggung buat siaran langsung besok. Sampai kantor meeting lagi sama tim produksi. Ika perlu istirahat sebentar saja, Bu.”
Kali ini, ibu menatapnya. “Loh, ibu kan tidak melarangmu istirahat. Silahkan saja. Tapi kamu sudah salat atau belum? Sebentar lagi sudah masuk waktu Isya.”
“Iya, Bu. Ika duduk lima menit saja boleh, Bu?” Kembali Ika mengeluarkan pertanyaan “sakti” itu; pertanyaan yang menurutnya tidak mungkin dijawab ‘tidak’ oleh ibu.
“Biasanya kamu tidak mungkin cuma duduk lima menit, Ika. Belum lagi nanti kamu pegang hape, terus selonjoran kaki, tiduran, dan entah jam berapa kamu akan bangun,” balas ibu. Ika semakin cemberut, merasa semakin terpojok karena dalam hatinya ia menyadari bahwa perkataan ibu benar adanya.
Ika seperti tidak ingin disalahkan, walaupun ia menyadari bahwa ia melakukan perbuatan itu; perbuatan yang mungkin saja menurut ibu salah. Tapi tentu saja, ego-nya membuat Ika tidak mau disalahkan ibu.
“Umur Ika sudah hampir tiga puluh, Bu. Ika sudah bukan anak kecil lagi yang harus disuruh-suruh salat.” Ika membela diri.
“Apa di usiamu yang hampir tiga puluh ini, kamu sudah tidak pernah meninggalkan salat? Selama kamu di rumah saja Ibu tahu tidak setiap hari kamu salat Subuh. Bagaimana waktu kamu di luar rumah? Apalagi kamu sibuk sekali dengan pekerjaanmu yang tidak kenal waktu itu.” Santai saja ibu menjawab Ika.
“Tapi, Bu. Salat itu kan urusan masing-masing orang, langsung dengan Tuhan. Ika yang akan tanggung dosa Ika sendiri sejak Ika mulai menstruasi.” Ika merasa menemukan balasan yang tepat untuk Ibu.
“Hei! Selama kamu belum menikah, kamu masih tanggung jawab Ibu. Ibu akan merasa sangat berdosa jika tidak bisa membiasakanmu salat lima waktu!” Sepertinya sudah habis kesabaran ibu menghadapi Ika. Diletakkannya cangkir teh yang sedang dipegangnya itu dengan keras.
Kali ini, tatapan ibu sudah benar-benar mengarah tajam kearah Ika. Ngeyel sekali anak ini! Ibu membatin. Ika diam. Perdebatan tentang salat dengan ibu bukan sekali-dua kali saja. Tapi baru kali ini, ibu sepertinya marah sekali padanya.
Sejak bersekolah di tingkat dasar pun semua orang juga tahu kalau menstruasi dan mimpi basah itu yang menjadi tolok ukur seorang muslim akil balik; waktu di mana seorang muslim mulai menanggung sendiri dosa-dosanya. Lalu, kenapa ibu merasa masih harus menanggung dosa sampai aku menikah?
Bagaimana jika ternyata jodohku masih sangat lama? Bagaimana jika ternyata Tuhan tidak memberiku jodoh di dunia ini? Bisa saja kan hal itu terjadi. Lalu apakah ibu akan terus menanggung dosa-dosaku sampai ibu meninggal, atau bahkan aku yang meninggal duluan?
Ingin sekali Ika mendebat ibu kembali. Tapi, lidahnya seperti kelu. Ia hanya cemberut dan pura-pura mengecek beberapa pesan di telepon genggamnya.
“Sudah. Kamu salat dulu! Makin habis saja waktu Magrib ini jika kamu terus saja membantah Ibu.” Ucapan ibu pun menjadi akhirnya menjadi titah yang tak mungkin dibantah. Sambil bersungut, Ita langsung bergegas ke kamar mandi; berwudu, dan salat Magrib.
Ibu menghela napas. Ibu merasa Ita berubah ketika karirnya membaik di stasiun TV tempatnya bekerja. Ketika jabatannya semakin baik dan gajinya semakin tinggi, ego-nya pun ikut melejit. Ibu merasa, putri satu-satunya itu jadi lebih sering membantah; mendebatnya.
Seperti perkara salat itu. Sesibuk apapun Ika, ibu ingin Ika tetap memprioritaskan salatnya. Memang lebih baik jika bisa dikerjakannya tepat waktu. Tapi kalau tidak memungkinkan salat saat azan berkumandang, ya ibu juga tidak akan marah. Asalkan nantinya Ika salat, tidak meninggalkannya.
Kelakuan Ika tadi itu benar-benar mengecewakannya. Jika dalam perjalanan pulang tadi Ika memang tidak memungkinkan untuk mampir masjid dan salat, mengapa setelah sampai rumah ia malah memilih leyeh-leyeh dulu daripada mengejar waktu salat yang sebentar lagi usai? Ibu tidak mengerti.
Sementara di dalam kamar, Ika masih termangu di atas sajadah. Salat Magribnya baru saja selesai. Ika sedih. Ika teringat kembali perdebatannya dengan ibu sebelum ia salat tadi.
Ya Allah, mengapa ibu seakan menuduhku tidak mau salat? Aku kan hanya ingin duduk sebentar saja tadi. Aku ingin salat yang kulakukan ini ya untuk-Mu; karena-Mu. Bukan karena disuruh Ibu.
Pendingin ruangan sudah mulai bekerja menyejukkan hawa di kamarnya. Mukena yang dipakainya pun membuat Ika merasa nyaman; menentramkan hatinya. Tanpa sadar kepalanya mulai menyender ke tepi tempat tidur, bersamaan dengan pintu kamarnya dibuka Ibu, “Ya Allah ini anak! Bukannya salat malah tidur!”
***
Wiraswasta, Mantan kru televisi
