Perbedaan Peserta Didik yang Menyenangkan (2)
Perbedaan bakat dasar lainnya sangatlah banyak, yang sangat memungkinkan dapat guru temukan pada anak-anak yang kurang aktif dan pintar dalam mata pelajaran tertentu di kelas.
Perbedaan yang ketiga adalah perbedaan jasmaniah (physical fitness). Dalam jenis perbedaan ini yang terlihat adalah pada pengelompokan sekolah biasa dan luar biasa bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. Perbedaan tempat ini agar mempermudah pengajaran yang menggunakan metode khusus untuk mereka. Kenyataannya ada juga sekolah biasa yang menerima anak-anak berkebutuhan khusus dalam tingkatan yang tidak terlalu serius. Atau dalam kelas sekolah biasa juga dapat ditemukan perbedaan-perbedaan jasmaniah yang beberapa waktu lalu dapat menimbulkan bullying sesama siswa. Perbedaan jasmaniah sering menjadi bahan ejekan siswa, menjadikan guru berusaha keras agar peserta didik mau menerima perbedaan dengan banyak bersyukur kepada Allah Swt.
Perbedaan keempat adalah penyesuaian sosial dan emosional. Sekolah-sekolah di Indonesia bermacam-macam yang dapat diklasifikasikan berdasarkan kelas sosial, klasisfikasi ini mungkin dicipakan oleh sudut pandang masyarakat. Sekolah negeri untuk seluruh kelas masyarakat, sekolah swasta unggulan untuk masyarakat kelas menengah ke atas, dan sekolah swasta biasa untuk masyarakat kelas menengah ke bawah.
Penyebutan sekolah swasta unggul dan tidak berdasarkan kualitas yang dinilai berdasarkan akreditasi dan pandangan masyarakat. Siswa-siswi di sekolah-sekolah ini sangatlah berbeda-beda berdasarkan penyesuaian mereka dengan bentuk tingkah laku yang telah disetujui oleh kelompok (sekolah) dengan menyepadankan emosi yang matang. Beberapa sekolah mampu mendapati peserta didik yang kurang bisa menyesuaikan dengan peraturan sekolah. Mereka melakukan hal-hal yang dilarang oleh sekolah, untuk mendapat perhatian guru, orang tua dan teman. Maka dari itu mereka dapat dikatakan bahwasanya emosi kurang matang untuk menghadapi lingkungan baru. Mereka membutuhkan dukungan dari guru, orang tua dan teman-teman.
Keadaan tersebut juga terjadi di kelompok kecil yaitu kelas, keberagaman mereka dalam penyesuaian diri dapat menimbulkan kesan pembelajaran yang berbeda-beda dalam satu waktu dan tempat. Guru tidak hanya memberikan ilmu, akan tetapi mampu menumbuhkan emosi yang matang dari pendekatan, strategi, metode, materi, atau media pembelajaran. Keseluruhannya mengacu pada aspek sosial dari kompetensi Inti yang kedua.
Perbedaan yang kelima ini adalah latar belakang. Di mana pengaruh latar belakang sangatlah menunjukkan perbedaan setiap siswa dalam kelas. Perbedaan dipicu dari kondisi pendidikan orang tua, kebiasaan keluarga, lingkungan, teman di sekitar rumah dan lain sebagainya. Dengan jumlah siswa 25-40 dalam satu kelas yang datang dari lingkungan yang berbeda mampu menunjukkan kepada guru betapa berat menyatukan perbedaan-perbedaan itu untuk mencapai satu tujuan.
Pengaruh latar belakang yang sering terjadi pada siswa adalah perceraian antara ayah dan ibu. Dampak yang mampu memecah konsntrasi belajar siswa di kelas dan merubah prilaku mereka yang selalu ingin diperhatikan dengan mencari segala macam cara yang baik atau sebaliknya. Contoh lain adalah kebiasaan keluarga. Kelompok kecil keluarga inilah yang mampu ditunjukkan mereka di luar rumah, ada yang rajin melakukan apapun atau sebaliknya, ada yang suka memarahi teman, ada yang suka diam saja, dan lainnya. Keseluruhan yang terlihat di kelas dan sekolah adalah menunjukkan kebiasaan di keluarga masing-masing.
Lima perbedaan di atas adalah contoh yang tentunya ada perbeaan lain yang dapat guru temukan di kelas, seperti perkembangan intelektual, kemampuan berbahasa, latar belakang pengalaman, gaya belajar dan kepribadian. Betapa banyak perbedaan dari 25-40 siswa dalam kelas. Perbedaan-perbedan itulah yang kadang menyulitkan dalam pengelolaan kelas. Akan tetapi guru haruslah selalu berusaha untuk tetap merancang pembelajaran yang menyeluruh dengan meningkatkan kualitas mengajar untuk merangkul semua perbedaan.
Semua anak unik, tidak ada yang sama antara satu dengan yang lainnya, perbedaan-perbedaan itu tidak selalu menyedihkan dan memberatkan. Akan tetapi perbedaan itu menyenangkan. Dengan perbedaan itu guru dapat selalu melakukan evaluasi diri dan pembelajaran yang sudah terlaksana. Evaluasi ini mampu memberikan penyadaran bahwasanya menjadi guru tidak untuk memutus semangat belajar tapi melanjutkan semangat belajar agar peserta didik yang berbeda-beda itu dapat belajar sesuai dengan zamannya. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw. bahwasanya umat manusia dianjurkan mengajarkan anak-anaknya sesuai dengan zamannya. Karena generasi penerus nanti akan hidup di zamannya bukan zaman seperti yang sedang kita alami. Oleh karena itu kewajiban seorang guru adalah selalu belajar agar mampu mengajarkan sesuai dengan zaman yang sedang berkembang. Perbedaan dapat diatasi dengan selalu belajar, dan yang harus disadari bahwasanya perbedaan adalah rahmat dari Allah Swt. Selamat berdamai dengan perbedaan!
Silvia Virda Susanti, seorang Ibu rumah tangga yang tinggal di Ciputat Timur Tangerang Selatan, IG : @silviavirda1, Blog silviavird.blogspot.com.
