Orang Tua Perlu Mengantisipasi Dini Kenakalan Remaja
Berbincang dengan sahabat pegiat perlindungan kekerasan perempuan dan anak, dia begitu prihatin dengan remaja yang banyak terlibat dalam perilaku seperti merokok, berkelahi/tawuran, PSK, dan narkoba. Perlu ada antisipasi dini untuk mencegah bagaimana generasi masa depan tidak makin terpuruk. Upaya itu harus dimulai dari sebelum pernikahan.
Kenakalan remaja adalah suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada usia remaja. Kenakalan remaja terjadi karena faktor kondisi keluarga, lingkungan sekitar dan pengaruh emosi yang masih labil pada remaja.
Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak tahun 2021 sebanyak 23% penghuni LKPA merupakan pelaku pencurian, 17,8% pidana narkotika dan 13,2% terlibat kasus asusila. 82,4% anak yang terjerat kasus narkotika berstatus pemakai. 65% dari mereka mendapatkan narkotika dari teman bermain dekat rumah dan 50% dari teman rumah.
Begitu memprihatinkan kondisi remaja kita saat ini. Bagaimana orang tua menjalankan fungsinya melindungi anak mereka dari lingkungan yang buruk ?
Keluarga merupakan pondasi utama untuk tumbuh kembang anak, dan lingkungan terdekat akan memberikan warna atas pertumbuhannya. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang baik dan lingkungan yang baik maka akan menjadi baik. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang kondisinya buruk, dan lingkungannya buruk juga akan memberikan hasil yang buruk.
Beberapa kondisi keluarga yang mengakibatkan anak dapat terjerumus dalam kenakalan remaja:
Perceraian Orang tua
Perceraian bisa terjadi karena beberapa faktor seperti, kekerasan dalam rumah tangga, masalah ekonomi, perselingkuhan, ketidakcocokan dan ketidaksiapan mental dalam berumah tangga. Dampak perceraian akan berbeda-beda pada setiap anak.
Akibat dari perceraian anak akan kehilangan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya. Mereka bisa tidak percaya diri, lebih agresif, mengalami stress, dan kecemasan. Dalam kondisi yang labil akan mudah mepengaruhi anak-anak ini untuk melakukan hal-hal yang tidak baik.
Dari data BPS pada tahun 2021 terdapat 447.743 kasus perceraian. Angka ini melonjak dibanding tahun 2020, di mana angka perceraian sebanyak 291.677. Itu hanya untuk perceraian dalam Islam, namun terlihat angka perceraian di Indonesia meningkat cukup tinggi.
Dengan tingginya angka perceraian, bayangkan berapa banyak anak-anak yang akan terganggu mentalnya dan berpotensi terlibat dalam kenakalan remaja. Meskipun orang tua yang bercerai, tetap harus berupaya untuk tetap bisa memberikan kasih sayang dan perhatian pada anak-anaknya.
Pertengkaran Orang Tua
Suami istri harus saling menghargai, mengasihi dan menghormati. Dalam perjalanan rumah tangga selalu saja ada perbedaan pendapat dan pertengkaran yang suami istri yang tidak bisa menghindarinya. Pertengkaran yang sering terjadi di depan anak akan merusak anak. Mereka akan jadi tertekan, ketakutan, dan bisa trauma dengan pertengkaran orang tuanya.
Orang tua adalah panutan bagi anaknya. Apa yang dilakukan orang tua akan mudah diserap anak. Jika orang tuanya sering bertengkar dan kasar, maka anak akan berperilaku sama. Dalam pergaulan mereka akan sering berkelahi dan bermasalah dengan teman-temannya. Sebaiknya menghindari pertengkaran di depan anak.
Pendidikan Agama yang Lemah
Anak harus dibekali pendidikan agama sejak dini. Tujuannya adalah untuk menciptakan generasi yang berakhlak mulia. Anak yang memahami nilai – nilai agama dan bertaqwa kepada Allah, tidak akan mudah tergoda untuk mengikuti perbuatan yang menyalahi agama.
Anak-anak yang agamanya lemah akan mudah dipengaruhi untuk melakukan perbuatan buruk, seperti mencuri, berjudi, minum beralkohol dan sebagainya. Hadist riwayat al-Baihaqi dan ath-Thabarani, “Setap manusia dilahirkan oleh ibunya di atas fithah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.”
Pengasuhan Anak
Pengasuhan merupakan proses interaksi antara orang tua dan anak dalam mendukung perkembangan fisik, emosi, sosial, intelektual dan spiritual (wong:2001) sehingga anak tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang cerdas, mandiri, sehat, berbudi pekerti yang luhur dan berakhlak mulia.
Direktorat PAUD Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam buku Pengasuhan Positif membagi pola pengasuhan anak terdiri dari tiga jenis, yaitu:
- Pola Asuh Permisif
Pola yang membebaskan anak untuk melakukan apa yang ingin ia lakukan tanpa mempertanyakan. Pola asuh ini tidak menggunakan aturan yang ketat, bahkan kurang bimbingan, sehingga tidak ada pengendalian atau pengontrolan serta tuntutan kepada anak. Anak berperilaku sesuai keinginannya tanpa adanya kontrol orang tua.
- Pola Asuh Otoriter
Orang tua menerapkan aturan dan batasan yang mutlak harus ditaati tanpa memberi kesempatan kepada anak untuk berpendapat. Jika anak tidak mematuhi akan mendapat ancaman dan hukuman. Pola asuh ini dapat menimbulkan hilangnya kebebasan pada anak, kurangnya inisiatif dan aktifitasnya, sehingga anak menjadi tidak percaya diri pada kemampuannya.
- Pola Asuh Demokratis
Pola asuh ini menanamkan disiplin kepada anak dan menghargai kebebasan yang tidak mutlak dengan bimbingan yang penuh pengertian antara orang tua dan anak, memberi penjelasan secara rasional dan objektif jika keinginan dan pendapatan anak tidak sesuai.
Anak mau menjadi seperti apa bergantung pada cara pengasuhan orang tuanya. Pada pola asuh yang permisif anak akan berpotensi untuk terlibat kenakalan remaja karena tidak dibiasakan dengan aturan, bimbingan, pengendalian dan kontrol dari orang tua.
Seperti kisah Sinta nama samaran, bapak dan ibunya sibuk sampai pulang malam. Ia dan saudaranya sibuk sendiri-sendiri. Tidak ada kepedulian dan keakraban dalam keluarga mereka. Bosan dengan kondisi keluarganya, sehingga Sinta memilih dekat dengan kawan-kawannya.
Mereka berkumpul main game, menonton, masuk cafe keluar café, pulang ke rumah sudah larut malam atau kemudian mencari tempat penginapan. Tidak ada yang mengontrol mereka. Setelah sesuatu terjadi pada anaknya, baru orang tuanya sadar kalau selama ini telah mengabaikannya.
Dengan banyaknya ibu bekerja, orang tua yang sibuk, akibatnya anak menjadi kurang perhatian. Perlu pemahaman orang tua akan fungsi dan tanggung jawabnya sebagai orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak. Sebelum menikah atau memutuskan punya anak, sebagai orang tua harus memahami konsekuensinya, sehingga anak-anak mereka tidak terabaikan.

Muth Loebs
Assalamualaikum. Bacaan yang sangat bagus buat saya, saat ini saya sedang memulai pola asuh demokratif, tapi tetap dalam konteks selalu membangun komunikasi dengan anak-anak meskipun mereka masih kecil. Terima kasih ibu buat ilmunya. Salam santun.
Endang Kurniawan
Orang tua adalah contoh utama dari anak… Orang tua sibuk ama gadget, anak pun ngikut..
semangat menulis buk
Neni Muchtiar
Waalaikumsalam.. semoga ananda tumbuh jd anak yang baik dalam asuhan ibu yg baik
ANDRI YULIKA
Terima kasih uni
Menginspirasi
Neni Muchtiar
Terima kasih Pak Andri & Endang