f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
akhlak

Akhlak: Tolak Ukur Keislaman Kita

Sekitar beberapa waktu yang lalu, Quraish Shihab, ahli tafsir milik Indonesia, menulis sebuah buku dengan judul yang sangat menyentak. Buku itu diberi judul “Yang Hilang dari Kita: Akhlak”. Buku ini merupakan limpahan keresahan Quraish Shibab melihat realitas masyarakat Indonesia hari ini. Ia melihat akhlak telah menjadi sesuatu yang mahal dan mewah di masyarakat kita.

Padahal, kata beliau, sudah sangat jelas bahwa yang menjadi tujuan utama dari agama adalah membentuk manusia yang bermoral atau berakhlak. Karena itu beliau cukup menyayangkan bahwa hari ini agama dan agamawan telah kehilangan fungsinya dalam membumikan akhlak kepada umat manusia. Malahan yang ada, meskipun dalam kadar tertentu, agamawan justru terlibat dalam menunjukkan tindakan-tindakan yang tidak bermoral. Misalnya budaya caci-maki dan berkata kasar. Dua hal ini tampak sudah menjadi hal yang biasa hari ini.

Kita tentu melihat, dalam banyak kasus, ada beberapa tokoh agama -yang atas nama melakukan kritik- melemparkan caci maki dan berkata kasar terhadap kepala atau pemimpin negara. Padahal ini jelas tindakan yang kebablasan. Sebab ia tidak dapat membedakan antara kritik dan caci maki. Di dalam kritik tidak ada caci maki. Kritik haruslah berbentuk koreksi atau uraian.

Kembali ke persoalan akhlak. Kegelisahan dan keresehan Quraish Shihab tersebut tentu menjadi keresahan kita bersama. Kita tentu tidak ingin dan tidak nyaman dengan keadaaan seperti ini. Agama dan agamawan harus dikembalikan fungsinya. Keduanya harus berperan aktif dalam membentuk masyarakat yang bermoral. Sebab jika tidak pada keduanya, kepada siapa lagi kita hendak berharap?

Berhubungan dengan Orang Lain dengan Akhlak

Quraish Shibab dalam satu ceramahnya menegaskan, ad-din huwa al-mu’amalah (agama ialah hubungan antar manusia). Hubungan di sini bisa dimaknai dalam banyak bentuk. Hubungan antara kita dengan keluarga, antara kita dengan teman, antara kita dengan masyakakat. Dan dasar kita dalam berhubungan dengan orang lain haruslah dengan akhlak. Kita harus menerapkan akhlak dalam bergaul dengan orang lain.

Baca Juga  Menjawab Pertanyaan Tentang Perbedaan, Berikut 7 Tips Untuk Ibu Memberikan Pendidikan Toleransi Agama kepada Anak

Kondisi itu, kondisi yang selalu membuat kita berinteraksi dengan orang lain, kata Quraish Shihab, jelas menunjukkan kalau akhlak sangat diperlukan dalam kehidupan kita. Sebab, jika tidak, masyarakat kita akan menjadi kacau dan serba tidak teratur. Antara satu dengan yang lain akan berseteru.

Lainnya halnya bila kita hidup seorang diri. Tidak ada tuntutan untuk berakhlak. Sebab kita tidak hidup dengan siapapun. Ingin berbohong? Boleh. Ingin berkata kasar? Silakan. Ingin mengeluarkan caci-maki? Tidak ada yang marah. Karenanya kata Qurasih Shihab, jangan-jangan mereka yang biasa dan senang marah-marah, mencaci maki dan berkata kasar kepada orang lain, adalah orang yang merasa hidup sendiri dan tidak menganggap keberadaan orang lain di sekitarnya.

Sungguh celaka, kini budaya caci maki, berkata kasar dan marah-marah ini juga dilakukan oleh tokoh agama. Makanya tidak heran jika masyarakatnya pun ikut-ikutan. Sebab sosok yang mereka idolakan dan jadikan sebagai panutan juga melakukan hal yang sama.

Padahal, sebagaimana berulang kali ditekankan, inti daripada ajaran agama adalah akhlak. Semua agama mengajarkan nilai-nilai tersebut. Di agama lain misalnya. Ada yang disebut dengan Ten Commandement. Di Islam juga jelas. Nabi mengatakan, innama bu’istu li utammima makarima al-akhlak (sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak). Jadi, agama pada akhirnya dan tujuan akhirnya adalah akhlak. Bahkan ia menjadi tolak ukur keberagamaan seseorang. Barang siapa yang kurang akhlaknya, maka ia adalah orang yang kurang keislamannya. Sebab akhlak adalah jantung ajaran Islam.

Dimensi Akhlak dalam Ibadah

Semua ritual atau ibadah dalam Islam pada dasarnya memiliki dimensi-dimensi akhlak. Shalat misalnya. Dalam Al-Quran dikatakan, celakalah orang-orang yang shalat. Yakni mereka yang dengan shalatnya tidak terdorong untuk membantu anak yatim. Di ayat lain juga diberikan bahwa siapa yang shalatnya benar, maka ia akan senantiasa terjaga dari perbuatan buruk dan munkar.

Baca Juga  Larangan Islam Soal Ujaran Peyoratif

Zakat pun demikian. Hadirnya zakat adalah untuk membantu mereka yang tidak mampu dan tidak berkecukupan. Hanya saja, menurut Quraish Shihab, ada yang salah dari cara kita menerjemahkan ayat zakat. Umumnya kalimat “atu az-zakat” diterjemahkan sebagai “berikanlah zakat”. Terjemahan ini keliru menurut Quraish Shihab. Baginya terjemahan yang benar atas kalimat itu adalah “antarkanlah zakat”. Sebab biasanya ada orang-orang yang kurang mampu, tapi dia malu untuk mengatakannya. Di sinilah fungsinya “amil zakat” dalam Islam. Mereka yang bertugas sebagai amil zakat harus mencari data-data orang yang tidak mampu itu dan mengantarkan bantuan zakat ke mereka. Sekali lagi mengantarkan. Bukan sekedar memberikan.

Dua syariat itu hanyalah tamsil (contoh), contoh bahwa seluruh ritual atau ibadah yang diperintahkan oleh Islam muaranya adalah pembentukan akhlak. Tetapi permasalahannya kemudian, mengapa sesuatu yang menjadi inti ajaran agama Islam ini, hari ini malah terkesan jauh dari umat? Apa sebenarnya yang salah? Apakah karena kita sejauh ini hanya terobsesi dan menaruh orientasi pada penumpukan amal-amal ibadah ritual sehingga tidak terlalu memerhatikan ibadah-ibadah yang bersifat sosial?

Untuk menjawab pertanyaan ini tulisan Amin Abdullah, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tentang tasawuf sosial saya kira perlu untuk kita pertimbangkan. Ketua Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam PP Muhammadiyah 1995-200 itu menjelaskan bahwa realitas umat yang demikian itu boleh jadi disebabkan oleh konsep ihsan yang hanya dikurung pada ranah personal dan tidak dibawah pada ranah sosial. Seperti diketahui, dalam ihsan, kita diminta untuk beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat-Nya. Atau paling tidak, jika kita tidak bisa melihat-Nya, yakinlah bahwa Allah selalu mengawasi dan memantau kita.

Baca Juga  Apa Hal yang Ditertawakan Setan?

Dalam ihsan, kita selalu diselimuti rasa dalam pengawasan Tuhan. Akibatnya kita enggan dan malu rasanya jika berbuat dosa atau maksiat. Kita takut untuk tidak shalat atau kegiatan-kegiatan maksiat yang lain. Tapi itu hanya berlaku ketika sendiri. Ketika sudah masuk dalam kehidupan sosial atau bermasyarakat, ajaran ihsan itu ditinggalkan. Sehingga kita tidak merasa terbebani jika mencaci maki, berkata kasar atau melakukan diskriminasi terhadap orang lain. Padahal seharusnya rasa dalam pengawasan Tuhan itu harus selalu ada. Sehingga kita tidak hanya takut berbuat dosa yang sifatnya personal, tapi juga merasakan takut jika melakukan dosa yang berdimensi sosial.

Namun, ala kulli hal, sudah menjadi tugas kita bersama untuk membumikan ajaran akhlak yang sangat dijunjung oleh agama Islam tersebut. Terutama bagi tokoh agama (baca: ulama). Ulama harus memberikan teladan (qudwah) yang baik kepada umatnya. Ajaran akhlak jangan sampai hanya menjadi konsep langit yang tidak membumi. Ia harus “diturunkan” ke bumi. Karena hanya dengan begitulah, kita akan berhenti melihat kejahatan, seperti pelecehan seksual, berkata kasar, korupsi dan kejahatan-kejahatan lainnya.

Bagikan
Post a Comment