f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
persaingan

Sesama Perempuan Sangat Menyukai Persaingan

Pernahkah Anda sebagai perempuan merasa terusik dengan kehadiran orang lain yang memiliki kelebihan di atas Anda? Bagaimana pula jika Anda berada di suatu komunitas, yang rata-rata anggotanya memiliki kualitas di bawah Anda? Sangat berbeda bukan?

Saya sendiri pernah mengalami. Merasa “insecure”  jika ada seorang perempuan yang memiliki beberapa kelebihan yang tidak saya miliki. Saya galau, resah, gelisah tak tertanggungkan. Ini terjadi terutama pada masa-masa studi saya di perkuliahan S-1 juga S-2.

Jika ada seorang dosen memuji salah satu teman, terutama sesama perempuan, saya auto merasa penasaran, hal apa yang membuat seorang dosen begitu memberi perhatian dan memujinya? Dari situ saya banyak mengamati betapa orang lain memang memiliki banyak keistimewaan dan bakat sendiri-sendiri.

Saya akan melakukan beberapa  hal yang mungkin belum terpikirkan orang lain. Merasa harus lebih dulu mengetahui suatu hal, dan menguasai satu bidang. Dengan demikian itu menjadi tabungan dan bekal bagi saya untuk tidak merasa rendah diri di komunitas manapun. Hanya untuk saya pribadi.

Dalam fenomena sosial yang  terjadi di tengah masyarakat, pertengkaran, pernyinyiran, persaingan dan sebagainya di antaranya sering terjadi antar sesama wanita. Reaksi yang lazim timbul ketika perempuan merasa tersaingi dengan perempuan lain misalnya dengan melakukan penyindiran, ghibah, melakukan hal yang sama, membeli barang yang mereka miliki, dan “Poison Comment”.  

Sebuah tinjauan dalam sebuah literarur oleh Tracy Vaillantcourt pada 2013 menemukan bahwa memberikan komentar negatif pada perempuan lain sebagai upaya untuk mengangkat “nilai” dirinya sendiri dan membuat kesan dirinya lebih unggul dari saingannya.

Dari hal ini dapat kita temukan perempuan bisa memanfaatkan apa yang mereka miliki sebagai alatnya untuk bekerja keras mendapatkan apa yang ia inginkan. Tak mengherankan perempuan yang tidak memiliki kualitas yang signifikan akan merasa “cemburu” dan iri hati. 

Baca Juga  Emak Vs Emak : Ke mana Larinya Empati?

***

Persaingan antar sesama perempuan merupakan fenomena purba dalam sejarah kehidupan manusia. Alam bawah sadar yang telah berevolusi sejak zaman dulu, mendorong perempuan untuk melindungi diri mereka sendiri dari bahaya fisik. Sehingga sifat agresif secara tidak langsung membuat perempuan merasa aman sambil tetap bisa menyingkirkan pesaingnya.

Bedanya perempuan di masa purba benar-benar terlibat dalam aksi pembunuhan untuk mendapatkan pujaan hatinya. Sedangkan perempuan modern lebih pada saling mengunggulkan kecantikan paras, harta, ketenaran, adu mulut, dan lain-lain sebagainya. Persaingan antar wanita bisa melahirkan permusuhan-permusuhan yang berlangsung sangat lama. Persaingan yang berlanjut pada permusuhan di antara mereka  semata-mata untuk menutupi kecemasan dan ketakutan akan kesuksesan orang lain.

Berbeda  antara perempuan dan laki-laki. Perempuan tidak akan menganggap laki-laki yang lebih unggul darinya sebagai saingan. Laki-laki yang lebih unggul lebih dianggap sebagai sosok yang dipuja dan diagungkan. Perempuan kerap menempatkan  laki-laki yang berkualitas tersebut sebagai sosok yang bisa dia mintai tolong. Sehingga, jarang kita menemui perempuan yang nyinyir dan iri pada laki-laki.

***

Apa sih yang membuat perempuan senang berkompetisi?

Elizabeth G dalam artikelnya di yahoo “Woman vs Woman: Competition Between Women!” menyatakan bahwa: “Women are very competitive with each other. Much more than men. Woman are constantly trying out –do each other, and they often feel threatened by other woman. Wether it be in workplace, in social environment, or where a men is concerned”.

Bisa kita katakan bahwa perempuan bisa menjadikan teman sendiri sebagai pesaing.  

Dalam sebuah penelitian  gabungan  dari University Of Ottawa dan MacMaster University Of Canada melalui sebuah percobaan menemukan bahwa hampir semua perempuan merasa terancam oleh  perempuan lain yang lebih unggul. Entah dari segi fisik, materi, prestasi, karya, skill, juga bakat dan ketenaran. 

Baca Juga  Menjadi Perempuan itu Berat, Mari Saling Menghargai

Dan sebagai hasilnya, reaksi yang mereka tampilkan sebagai pertahanan diri bisa bervariasi. Dari memasang muka masam hingga konfrontasi verbal, bahkan fisik.  Peneliti mengamati adanya perbedaan reaksi yang berbeda saat mereka bertemu dengan wanita yang berbeda total. Satunya sangat seksi, cantik, dan menarik. Satunya lagi sangat sederhana, berpenampilan cupu, dan terkesan “old fashion”.

Reaksi peserta ketika bertemu sosok perempuan yang sangat seksi, cantik, dan menjadi pusat perhatian. Mereka berbisik-bisik cibiran dan pandangan merendahkan. Berbeda reaksi ketika mereka bertemu sosok perempuan yang berpenampilan sederhana. Mereka tidak terlalu ambil pusing dan tidak menjadikannya sebagai ancaman.

***

Menurut Senior Research Executive Insight Plus, Putu Ika Waisa, ia pernah menanyakan pada rekan-rekan perempuannya, apakah mereka pernah merasa tersaingi di antara teman-teman sesama perempuan  yang mereka kenal? Mayoritas menjawab iya. Mereka merasa tersaingi pada seseorang yang mereka anggap cantik, sukses, menginspirasi, dan sukses dalam membangun keluarga.

Mereka juga mengakui, bahwa secara jujur tetapi tidak secara eksplisit menjadikan teman sebagai saingan. Jika kita lihat dari berbagai kegiatan di kalangan perempuan sosialita, akan terlihat mencolok persaingan tersebut. Misalkan ketika ada yang memakai barang baru seperti tas, perhiasan, kendaraan dan lain sebagainya. Selanjutnya pada pertemuan berikutnya akan ada yang lain membawa dan mengenakan barang baru.

Hal tersebut juga dirasakan oleh penjual barang-barang branded. Menjual barang pada perempuan itu jauh lebih mudah dibanding pada pria. Karena mereka suka dipuji, dianggap sebagai trendsetter, dan sebagainya. Apalagi jika diberitahu bahwa temannya juga telah membeli barang yang sama, tak perlu berpikir panjang perempuan akan membeli barang yang diinginkan.

Jika naluri berkompetisi di kalangan kaum hawa ini memang sebuah fakta psikologi yang tak terbantahkan, tentu hal ini bisa kita jadikan sebagai api penyemangat kita untuk memperbaiki kualitas diri kita. Dengan cara yang sehat, dan tidak perlu secara eksplisit demi keharmonisan hubungan sosial kita.

Bagikan
Comments
  • Leni

    Terima kasih artikelnya Bu Fat. Sangat bermanfaat.

    Juli 1, 2022
  • Kharirotus Sakdiyah

    Luar biasa ulasannya, Bu Fataty. salam sukses selalu!

    Juli 1, 2022
Post a Comment