Jatuh Cinta Sejuta Warna
Puncak dingin di kota ini biasanya antara bulan Agustus dan September. Suhu di pagi hari bisa sampai 15oC. Untuk kedua kalinya aku kembali ke kota ini, Malang. Sebuah kota yang banyak berubah setiap tahunnya. Pembangunan dimana-mana, gedung-gedung kampus dan apartemen baru terlihat bediri dengan kokoh, sawah dan ladang di sudut kota sudah berubah menjadi komplek perumahan. Hanya saja ada satu hal yang tak berubah. Sisa-sisa kenangan. Sebuah kisah klasik yang membuatku harus terbang jauh ke Lisbon, Portugal selama beberapa tahun lamanya.
“Selamat datang di apartemenku yang sederhana ini Alya. Maaf aku tak bisa menyambutmu dengan yang lebih baik daripada ini. Kau mungkin sudah terbiasa hidup mewah di Lisbon. Apalagi tinggal di Apartemen juga.”
“Hei, ini lebih dari cukup. Apartemen ini sudah layaknya hotel bintang tiga. Masih lebih baik apartemenmu saat ini daripada apartemen yang kusewa disana, hanya 7500 euro saja.” Jawabku dengan memeluk Rina.
“Ohya Alya. Kau boleh pakai apartemen ini sampai urusanmu di kampus selesai. Berapapun lamanya pakai saja. Toh, tidak ada yang tinggal disini. Jadi aku bersyukur bisa kau tempati. Karena setelah ini aku harus segera pulang. Maklum sudah jadi emak-emak” Kata Rina nyengir. Aku kembali memeluknya.
***
Ini hari keduaku. Kemarin aku benar-benar lelah dan langsung beristirahat setelah Rina pergi. Hari ini aku ada janji dengan Rektor kampus untuk bertemu di ruang Rektorat. Ada hal penting yang harus dibicarakan katanya.
“Jadi bagaimana doktor Alya? Apa kau menerima tawaran ini?” Tanya Rektor.
Aku bingung mau menjawab apa. Pasalnya Lisbon adalah kota kedua bagiku. UL, University of Lisbon saat ini adalah bagian dari hidupku. Separuh dari cita-citaku.
“Saya tahu, mengajar di Lisbon dan di sini tentu berbeda. Sangat jauh berbeda. Tapi doktor Alya juga bagian terbaik yang kampus ini miliki. Tak mengapa jika doktor tak menerima tawaran ini.”
“Oh bukan begitu Pak. Saya sangat mencintai kampus ini, tapi…” Ingin rasanya kulanjutkan kalimat ini. “Tapi orang yang pernah kucintai pun masih ada disini. Kisah itu teramat jelas dan nyata. Setiap sudut kampus yang kulihat sama dengan kembali memutar sebuah potongan-potongan masalalu.”
“Tapi saya harus meminta izin dulu kepada orangtua saya Pak.” Alihku.
“Baik doktor, saya tunggu kabar baiknya.”
***
Pada akhirnya kuambil tawaran itu dengan semua pertimbangan. Tapi beruntungnya, dia sedang melanjutkan studinya di Australia. Berdasarkan informasi yang kudengar dia sudah memiliki anak gadis yang masih balita. Aku bersyukur.
“Mbak Alya. Pekan depan kita kedatangan tamu. Katanya Pak Hamzah sudah selesai program doktornya. Tadi Pak Dekan menyampaikan untuk acara penyambutan kedatangannya.” Kata Bu Dian.
Tunggu-tunggu, apa aku tidak salah mendengar? Hamzah datang? Dia sudah menyelesaikan program doktoralnya? Ya Tuhan. Apa aku siap bertemu dengannya? Tolong kuatkan. Aku sudah menguburnya dalam-dalam selama tujuh tahun ini.
Benar saja. Dia datang. Semua dosen di Fakultas menyambutnya. Satu persatu menjabat tangannya dan mengucapkan selamat. Aku mengucapkan selamat padanya dengan kalimat yang datar.
“Selamat doktor Hamzah.”
“Bahkan aku pun belum sempat mengucapkan selamat atasmu menyelesaikan program magister dan doktor di Lisbon. Selamat juga untukmu doktor Alya.” Katanya dengan senyum simpulnya yang masih sama seperti dulu.
“Terimakasih.” Kujawab dengan nada yang datar.
Aku sangat yakin akan tetap profesional sekantor dengannya. Aku tak pernah berfikir macam-macam. Kita adalah dua manusia yang pernah melewati sebuah kisah. Dan kisah itu sudah berakhir. Saat ini adalah sebuah kisah yang berbeda. Kisah yang baru.
***
Kulihat kampusku dari apartemen. Rooftop lantai 19, tempat yang paling nyaman untuk melihat pemadangan kota Malang di malam hari.
“Jadi datang kerumah saya kah Bu Doktor?” Satu pesan masuk. Dari Hamzah. Pesan itu membuatku larut dalam lamunan masalalu. Kala itu dia sudah biasa memanggilku Bu doktor, sebab setiap semester nilaiku selalu terbaik. Dan mungkin itu adalah doa, sehingga saat ini aku benar-benar menjadi seorang doktor.
“Alya, aku ingin serius denganmu. Kita sudah lama pacaran. Maukah kau menikah denganku?”
Aku kaget bukan kepalang. Kenapa begitu cepat? Aku masih muda. Usiaku masih 21 tahun. Dan kita baru saja lulus jadi sarjana. Aku pun belum memiliki pekerjaan, begitupun dengannya. Aku masih ingin mengejar karir dan impianku.
“Hamzah, aku tidak akan menolak ajakanmu untuk menikah. Tapi bagaimana dengan impian dan cita-cita kita?”
“Apakah menikah akan menghalangi kita untuk meraih impian? Kita sudah sama-sama dewasa. Apakah selama ini kita pernah berpisah? Aku sudah menganggap hubungan ini serius sejak pertamakalinya, Alya.” Tegasnya.
“Tapi aku belum siap menikah. Aku belum siap menjadi seorang istri dan memiliki seorang anak.” Jawabku.
Hamzah terdiam sejenak. Begitupun denganku.
Lalu keluarlah kalimat yang membuatku teringat hingga sekarang,
“Baiklah. Mungkin kita hanya bisa sampai disini, Alya. Kejarlah impianmu. Aku takkan menghalangimu.”
Itu adalah pertamakalinya aku melihat Hamzah menitiskan airmata. Aku pun menangis seorang diri. Dan kupandanginya lamat-lamat kepergiannya. Itu adalah hari dimana terakhir kalinya aku bertemu dengannya.
***
Tak lama setelah itu, mungkin 4 bulan setelah kejadian. Sebuah undangan dilayangkan ke rumahku. Undangan pernikahan. Siapa yang menikah? Hamzah.
Bagai tersambar petir. Ini kabar yang sangat menyakitkan bagiku. Hampir saja aku tak percaya, mungkin hidup ini hanyalah rangkaian mimpi, kadang mimpi baik, kadang mimpi buruk. Ternyata tidak, hidup adalah hidup. Ia nyata apa adanya.
Hamzah pun menikah. Pasti aku tak sampai hati melihatnya di pelaminan, maka aku putuskan untuk tidak datang ke acara pernikahannya. Aku memesan tiket pergi ke Lisbon seminggu setelah undangan itu sampai kerumah. Lisbon adalah pelarianku.
Setelah Hamzah menikah aku memberanikan diri untuk melihat akun media sosialnya, ramai teman-temannya mengucapkan selamat kepadanya dan istrinya. Sementara aku di Lisbon tersiksa dengan semua perasaan kecewa dan rasa cinta yang masih tersisa. Selama di Lisbon aku tak pernah jatuh cinta pada siapapun. Dan perlahan rasa pada Hamzah pun pudar. Aku benar-benar sibuk dengan studyku dan mengajar.
Tiba-tiba ponselku berdering dan mengaburkan lamunanku. Satu pesan masuk lagi dari Hamzah.
“Jika berhalangan datang kerumah saya, saya bisa mengantarkannya kerumah doktor Alya.” Aku jadi tak enak, Hamzah memastikan kedatanganku hanya karena lama aku tak membalas pesannya.
“Baik doktor Hamzah. Saya segera meluncur.” Balasku.
***
Aku memesan ojek onine. Dan ini pertamakalinya aku memesannya. Dulu sewaktu masih jadi mahasiswa belum ada jasa ojek online seperti ini. Sungguh ini kemajuan teknologi yang luar biasa menurutku.
Kupandangi lamat-lamat sebuah rumah dengan taman kecil di depannya. Ada satu mobil dan motor Vespa biru muda terparkir di garasi. Pagar rumahnya berwarna putih. Tombol bel ada di ujung. Dengan bergetar aku memencetnya.
Tak lama kemudian Hamzah keluar dari rumahnya dan mempersilahkanku masuk.
“Hamzah, siapa yang datang?” Suara parau bertanya setengah berteriak dari ruang belakang.
“Temanku, Bu.”
“Jangan lupa buatkan minum. Gula ada di lemari atas. Yang di toples habis.”
Hamzah datang membawa teh panas dan beberapa biskuit. Dia mempersilahkanku menikmatinya kemudian mengambilkanku beberapa proposal yang hendak kubawa ke Jogja besok malam.
Sembari menunggu hamzah mengambil proposal, aku memandangi ruangan sekitar. Kulihat foto-foto pernikahan Hamzah dengan istrinya. Tapi sebentar? Dimana istrinya? Pertanyaanku belum terjawab tiba-tiba Hamzah datang membawa proposal pesananku dan seorang gadis kecil yang lucu.
“Hei, cantik. Siapa namamu?” Sapaku dengan menyentuh pipi tembamnya.
“Syifa.” Ia tersenyum.
“Kau mau biskuit?”
Dia mengangguk. Kuambilkan satu.
“Ohya Hamzah. Aku tak melihat istrimu? Apa masih sibuk di dalam?” Tanyaku basa-basi sembari mencairkan suasana.
Hamzah tersenyum. “Dia meninggal setelah melahirkan putriku ini. Oleh karenanya, kunamakan dia Syifa yang berarti obat. Semoga menjadi obat untukku selamanya.”
“Maaf. Aku tidak tahu tentang kejadian itu. Aku turut berduka cita untuk kepergian istrimu.” Seketika itu aku merasa sangat menyesal dengan pertanyaan yang baru saja ku utarakan. Tapi muncul decak kagumku kepada Hamzah yang merawat anaknya seorang diri.
“Tak apa, sudah takdirnya.”
“Ohya ini berkas yang kau inginkan. Semoga perjalanan dan urusanmu dimudahkan.” Tutup Hamzah.
***
Setelah pertemuan itu, perasaan kagumku kepada Hamzah masih melekat. Dia adalah lelaki yang serius dengan pilihannya dan selalu bertanggung jawab. Kudengar dari mahasiswa bimbingannya bahwa dia adalah dosen yang mudah ditemui, enak diajak berkomunikasi, dan selalu membantu mahasiswanya.
“Mbak Alya, boleh saya bertanya sesuatu?” Kata Bu Dian.
“Iya Bu, silahkan.”
“Mbak Alya apa ada rencana menikah tahun ini?”
Aku yang sedang minum tersedak.
“Oh, saya belum memikirkannya Bu.” Jawabku gugup.
“Saya ada calon yang tepat untuk Mbak Alya.” Tawarnya.
“Ohya, siapa Bu?” Tanyaku basa-basi.
“Pak Hamzah.”
Untuk keduakalinya aku tersedak. Kali ini disertai dengan batuk. Aku terkejut. Hamzah? Serius kah Hamzah? Apakah aku akan memulai kisah lagi dengannya? Sebuah kisah yang tentu akan berbeda dengan ragam tokoh dan rasa dari sebelumnya.
***
Tepat di malam harinya aku bercerita kepada Rina. Aku ingin berdiskusi dengannya. Dia adalah sahabat terbaikku sejak aku masih mahasiswa baru. Bahkan apartemen yang kutempati saat ini pun ia relakan untukku tanpa uang sewa sepeserpun.
“Aku gelisah dengan perasaanku sendiri Rin. Kau tahu kan kalau sekarang ini aku satu tempat kerja dengan Hamzah?”
“Aku sudah tahu dan menebak pasti kau akan gelisah seperti ini. Perasaanmu seutuhnya masih tertuju pada Hamzah, Alya.”
“Menurutmu gelisahku ini karena apa?”
“Kau sedang jatuh cinta Alya. Cintamu kepada Hamzah kembali hadir. Lihatlah dirimu sejak Hamzah meninggalkanmu dan menikah dengan gadis pilihannya, kau tak pernah lagi jatuh cinta pada siapapun. Berarti hatimu masih terpaut pada Hamzah. Selama ini kau hanya layaknya putri tidur yang sedang menunggu pangerannya membangunkanmu.”
Beku. Tiba-tiba sepersekian detik otakku tak berfungsi. Aku tak pernah berfikir sampai situ. Apa iya aku sedang jatuh cinta? Kapan terakhir kalinya aku jatuh cinta? Ya Tuhan, ini tujuh tahun sudah dari peristiwa itu. Benarkah aku jatuh cinta? Tak disangka. Jawaban Rina membuatku berkaca-kaca. Aku menangis. Ya Tuhan, apakah aku jatuh cinta? Apakah benar perasaan ini kembali bersemi? Kurasakan ribuan bunga tumbuh di hatiku. Ada jutaan warna yang tak pernah kutahu namanya. Inikah rasanya jatuh cinta?

Nur Andhira
Adakah kisah ini di dunia nyata,,,
Miftachul W Abdullah
Hehe mungkin saja mbak
Inong Islamiyati
Endingnya masih agak gantung? Kelanjutannya ada Lagi gak?
Miftachul W Abdullah
Oke mungkin bisa lah ada lanjutan kedua hehe
Miftachul W Abdullah
Sengaja begitu mbak hehe