f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
seimbang dunia akhirat

Seimbang Dunia dan Akhirat, Benarkah?

Banyak dari kaum muslimin yang berprinsip bahwasanya dunia dan akhirat haruslah seimbang. Bahkan ada saudara muslim yang berprinsip “carilah dunia tapi jangan lupakan akhirat”. Semboyan ini juga banyak para tokoh sampaikan dalam diskusi masyarakat, dan bahkan wejangan orang tua kepada anaknya. Lalu, bagaimana sebenarnya Islam mengatur hubungan antara dunia dan akhirat? Kemudian seberapa besar porsi yang tepat untuk dunia maupun akhirat. Maka tulisan ini berusaha untuk mengutarakan lebih jauh permasalahan tersebut. Tulisan ini juga berusaha untuk menjelaskan hakikat sebenarnya dari dunia dan akhirat. Sehingga, masyarakat dapat menyikapi dunia dan akhirat sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Dalam prinsip “seimbang dunia dan akhirat” terkandung makna bahwa porsi dunia dan akhirat haruslah sama. Sehingga dalam prinsip ini dunia dan akhirat mempunyai kedudukan yang sama. Bahkan prinsip ini juga menyeleweng sehingga porsi dunia lebih besar. Sehingga dengan begitu akan lebih mengarah kepada prinsip “carilah dunia jangan lupakan akhirat”. Sehingga dengan prinsip ini masyarakat terkadang terlena hingga terlupa akan akhirat.

Urgensi Dunia dan Akhirat

Untuk dapat menempatkan suatu hal maka harus kita pahami terlebih dahulu hakikat hal tersebut. Begitu pula dengan dunia dan akhirat. Untuk dapat menempatkan dunia dan akhirat sesuai porsinya harus kita pahami terlebih dahulu hakikat keduanya. Berikut beberapa ayat Qur’an dan beberapa hadis yang dapat kita jadikan perenungan tentang hakikat sekaligus makna dunia dan akhirat yang sebenarnya.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya : Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali Imrân/3: 185)

Baca Juga  Jangan Menerka, Tawakal Saja

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Artinya : Kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (al-An’âm/6: 32)

عْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya : “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Qs. Al Hadid 20)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 مَالِيْ وَلِلدُّنْيَا ؟ مَا أَنَا وَالدُّنْيَا؟ إِنَّمَا مَثَلِيْ وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رَاكِبٍ ظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Artinya : Apalah artinya dunia ini bagiku?! Apa urusanku dengan dunia?! Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia ini ialah seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon, ia istirahat (sesaat) kemudian meninggalkannya. (H.R. Bukhâri, no. 6416)

Dalam beberapa ayat Qur’an dan beberapa hadis dapat kita ketahui bahwa hakikat dunia adalah kesenangan yang memperdayakan. Dunia hanyalah tempat persinggahan. Dunia lebih buruk dari bangkai kambing dan sayap nyamuk. Sedangkan akhirat adalah kekal dan abadi.

Menyelaraskan Dunia dan Akhirat

Setelah memahami hakikat dunia dan akhirat, maka relakah kehidupan dunia disamakan dengan kehidupan akhirat? Adilkah akhirat yang kekal disamakan porsinya dengan dunia yang hanya sementara? Tentu tidak. Karena kaum muslimin akan merugi jikalau dunia memiliki porsi seimbang atau bahkan lebih besar dari akhirat.

Baca Juga  Istikharah dengan Wasilah Al-Qur’an

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan–Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (Terjemah Huud: 15-16).

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (Ar Ruum: 7). Ayat ini menegur bagi orang yang tujuan utamanya adalah dunia. Karena dunia membuat lalai akan kehidupan akhirat.

Lalu apakah dunia kita lupakan? Tentu tidak. Tempatkan dunia sesuai porsi yang Allah tetapkan. Sehingga yang menjadi kepastian porsi dunia tidak boleh menyamai bahkan lebih besar dari akhirat.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Artinya : “Carilah negeri akherat pada nikmat yang diberikan Allah kepadamu, tapi jangan kamu lupakan bagianmu dari dunia“. (QS. Al-Qosos: 77).

Jikalau tetap berpegang pada prinsip seimbang tersebut bukankah manusia akan rugi. Bukan hanya rugi, tapi Allah akan menceraberaikan urusannya. Karena dunia bukanlah tujuan utama. Dunia hanyalah pendukunh untuk mencapai tujuan yang utama yaitu akhirat

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh Azza wa Jalla akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.[HR. Ibnu Mâjah no. 4105]

Dalam pemaparan di atas dapat kita simpulkan bahwa jika dilihat dari perpektif Islam prinsip seimbang dunia dan akhirat adalah kurang tepat. Seharusnya dalam diri setiap kaum muslimin berpinsip untuk akhirat dan tidak melupakan dunia. Karena manusia mendapatkan perintah untuk berorientasi pada akhirat. Islam mengajarkan untuk menempatkan kehidupan akhirat sebagai poin utama dan dunia sebagai poin pendukung. Hal tersebut tentunya sesuai hakekat dari dunia dan akhirat. Harapannya pengetahuan mengenai hubungan dunia dan akhirat ini dapat membantu kaum muslimin untuk bersemangat dalam mencapai akhirat. Kemudian dapat meniatkan hal-hal dunia untuk tetap bernilai pahala.

Bagikan
Post a Comment