Mengambil Hikmah dari Sahabat Syaban RA
Pernahkah Anda mendengar kisah sahabat nabi, Sya’ban RA?
Salah satu sahabat nabi Muhammad yang pasti terjamin baginya surga. Akan tetapi saat sakaratul maut Sya’ban menyesal dengan apa yang telah ia perbuat.
Alkisah, Sya’ban RA merupakan salah satu sahabat nabi yang kisahnya jarang terdengar tapi terkenal oleh seluruh penduduk langit. Ia memiliki kebiasaan yang sangat unik dibandingkan dengan para sahabat pada umumnya. Saat berada di masjid untuk itikaf dan melaksanakan shalat, Syaban selalu mengambil posisi di pojok masjid dikarenakan ia tidak mau mengganggu bahkan menghalangi jamaah lainnya.
Pada saat shalat subuh hendak berlangsung, Nabi Muhammad yang selalu memahami dan mengenal para sahabatnya merasa ada kejanggalan. Beliau tidak melihat Syaban ra, maka Rasulullah pun mengulur sedikit shalat subuh. Sembari menunggu Rasulullah bertanya pada jamaah, “Di manakah Sya’ban?”. Hening tidak ada jawaban, akhirnya Rasulullah melaksanakan shalat khawatir akan hilangnya waktu shalat subuh.
Selepas shalat nabi bertanya lagi, “Jika tidak ada yang mengetahui di mana Sya’ban sekarang. Adakah di antara kalian yang mengetahui di mana rumah Sya’ban?”
***
Kemudian salah satu sahabat mengatakan, “Saya mengetahui di mana letak rumahnya, Wahai baginda nabi.”
Perjalanan Rasulullah menuju rumahnya membutuhkan waktu yang sangat lama. Setelah sampai di rumah Sya’ban, nabi mengucapkan salam, maka keluarlah istri Syaban dan mempersilahkan nabi.
“Apa benar ini rumah Sya’ban?” tanya nabi.
“Benar wahai baginda rasul. Saya adalah istrinya,” jawab istri Syaban.
“Bolehkah aku menemui Syaban, saat shubuh hendak shalat tadi aku tidak melihatnya di barisan shaf pojok,” jelas nabi.
Dengan meneteskan air mata, istri syaban menjawab, “Ia telah meninggal tadi pagi Rasulullah”.
“Innalillahi wa innaa ilaihi rajiun,” sahut nabi.
***
“Wahai Rasulullah, ada sesuatu yang mengganjal saat suami saya meninggal. Ia berteriak 3 kali dan setiap teriakan dibarengi dengan kalimat,” ucap istri Syaban.
“Apa saja kalimatnya?” tanya nabi.
“Pada setiap teriakannya, ia mengucapkan ‘Aduh, kenapa tidak lebih jauh, aduh kenapa tidak yang baru, aduh kenapa tidak semua,” jawab istri Sya’ban.
Rasulullah pun membacakan ayat al-Qur’an :
لَقَدْ كُنْتَ فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ
“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. (Q.S. Qaf : 22).
“Saat Syaban berada pada kondisi sakaratul maut, Allah singkapkan dan Allah perlihatkan semua apa yang telah ia perbuat yang tidak dapat orang lain lihat selain syaban sendiri.” Ucap nabi.
***
Saat sakaratul maut itulah Allah perlihatkan padanya juga surga yang telah Ia ijanjikan untuknya. Di situ syaban mengatakan ‘aduh, kenapa tidak jauh’ timbul penyesalan pada syaban kenapa rumahnya tidak lebih jauh dari masjid, sehingga ganjaran dari jauhnya jarak rumah syaban dan masjid lebih besar.
Saat membuka pintu surga, Allah perlihatkan ganjaran untuk Syaban dari apa yang syaban berikan bajunya kepada orang yang kedinginan saat hendak ke masjid. Syaban pun berteriak sambil mengatakan ‘aduh kenapa tidak yang baru’ karena pada saat itu syaban hendak pergi ke masjid. Akan tetapi karena cuaca yang dingin syaban melapisi bajunya.
Baju pertama adalah baju terbaiknya, baju kedua sebagai pelapisnya baju yang sedikit lusuh. Pada saat perjalanan syaban bertemu dengan seseorang yang kedinginan. Maka ia berikanlah yang lusuh itu kepadanya sehingga ia pun mengikuti Syaban untuk sama sama shalat berjamaah. Itulah yang membuat Syaban menyesal kenapa tidak baju yang terbaiknya yg ia berikan, agar ganjarannya lebih besar.
***
Selanjutnya Allah persilahkan Syaban melihat lebih dalam indahnya surga yang terjanjikan untuk syaban. Maka semakin menjadilah teriakan Syaban, ia teringat saat di mana ia membeli roti yang utuh untuk ia santap akan tetapi di tengah perjalanan hendak pulang ia melihat orang kelaparan.
Akhirnya Syaban berikan separuh untuknya separuh lagi untuk orang kelaparan. Dalam teriakannya itu syaban mengucapkan ‘aduh, kenapa tidak semua’ karena ia tau bahwa ganjaran dari apa yang ia berikan jauh lebih besar.
Dari sini kita melihat bahwa apa yang Syaban sesalkan bukan karena perbuatannya. Akan tetapi kurang maksimal dan optimalnya ia dalam beramal shalih.
Hikmah Kisah
Pertama, Sya’ban merasa jarak antara rumah dan masjid terlalu dekat menurutnya. Padahal jika dihitung jarak rumah dengan masjid tempat biasa ia beribadah sekitar tiga jam yang mana jika dipadankan dengan keadaan kita yang serba mudah di zaman sekarang, dirasa belum seberapa dibandingkan dengan Syaban ra. Nabi Muhammad bersabda:
كلُّ خطوةٍ يخطوها أحدُكم إلى الصلاةِ يُكْتَبُ لَهُ [ بها ] حسنةٌ ويُمْحَى عنه بِها سَيِّئَةٌ
Artinya: “Setiap langkah menuju tempat sholat (masjid) akan dicatat sebagai kebaikan dan akan menghapus kejelekan.” (HR. Ahmad)
Kedua, Syaban di saat sakaratul maut mengucapkan ‘aduh, kenapa tidak yang baru’. Kita sebagai umatnya nabi Muhammad yang masanya dengan para sahabat bahkan nabi Muhammad, sanggupkah memberikan suatu barang atau harta benda yang baru dan sangat berharga bagi kita secara spontanitas atau dengan sukarela. Bukankah kita selalu mempertimbangkannya, selalu terbesit dalam benak ’baiknya yang baru apa yang lama ya yang akan diberikan’.
***
Dari kisah ini kita dapat mengambil hikmah bahwa apa yang kita berikan akan berbuah pahala bahkan berlipat ganda, Allah berfirman dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 261:
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
Artinya: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”
Ketiga, adalah ucapan terakhir Syaban ‘aduh, mengapa tidak semua’, ia menyesalkan kenapa saat memberikan roti kepada orang yang kelaparan ia hanya memberikan separuhnya saja, dalam pikirannya semisal ia berikan semua, niscaya Allah berikan ganjaran yang lebih besar, meskipun telah Allah berikan dan terjamin surga.
Sebagai umat akhir zaman bahu membahu untuk saling membantu adalah sebuah prioritas, bahkan di era pandemi ini, tidak sedikit orang yang perlu talih asih dan bantuan. Maka belanjakan dan investasikanlah harta kita di jalanNya. Terakhir, kita sebagai hamba Allah yang hanya bisa berikhtiar dan tawakkal yang surga saja belum jelas bagi kita, seyogyanya sebagai hambaNya kita mengusahakan yang terbaik, karena sebaik-baiknya investasi akhirat adalah amal perbuatan kita selama di dunia.
Alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Abubakar Sidik
mohon maaf apakah kisah ini ada sanad riwayatnya?
achmad miftachul ulum
السلام عليكم، هل يمكن لكم أن ينشر عبارة هذه القصة؟ شكرا جزيلا