f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
manusia

Memanusiakan Perempuan

“Perempuan adalah manusia, namun manusia tidak hanya perempuan.” Pernyataan ini adalah awal yang perlu kita sepakati bersama ketika membicarakan berbagai problem dalam masalah kesetaraan. Pernyataan tersebut sama perlunya untuk laki-laki. Laki-laki adalah manusia, namun manusia tidak hanya laki-laki saja.

Hal ini untuk menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan masing-masing memiliki empat posisi eksistensi, yaitu eksistensi personal dalam wilayah masing-masing; eksistensi kolektif dalam kehidupan sosial; maupun eksistensi kelembagaan dalam wilayah masing-masing. Karena itu, masing-masing saling menegaskan diri, bahwa meskipun terpisah ataupun bersatu, keduanya memiliki eksistensi yang menjadi ciri khas.

Dalam Al Qur’an, perempuan menempati posisi penting dalam perkembangan kehidupan yang mempengaruhi siklus perubahan bumi. Dari rahim perempuan, cikal bakal generasi penerus kehidupan manusia lahir; membangun peradaban; menghiasinya dengan pengetahuan dan teknologi guna untuk memudahkan kehidupan mereka.

***

Dari hati perempuan, laki-laki mampu memahami cinta dan kasih sayang. Dari tekad yang perempuan miliki juga lah, laki-laki mampu untuk bangkit dan menegaskan diri. Sebab dari itu, umum jika beberapa orang mengatakan bahwa “Di belakang laki-laki yang sukses, terdapat sosok perempuan berhati lembut yang mampu menguatkan langkahnya”. Zaman telah membuktikan bahwa perempuan adalah salah satu sosok yang memberikan peran besar dalam kehidupan.

Peran perempuan yang begitu besar terhadap laki-laki digambarkan dengan indah dalam kisah Adam dan Hawa. Adam, manusia yang pertama Allah Swt ciptakan, memohon agar Allah beri pasangan sebagaimana hewan-hewan yang Allah berikan pasangan di surga.

Kemudian atas keinginan dan gerak hati Adam, Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam sendiri. Keinginan atas terciptanya Hawa bukan semata-mata untuk menemani Adam atau hanya sekedar untuk mengisi kesepian Adam selama di surga. Tapi lebih dari itu, terciptanya Hawa sebagai pasangan dari Adam mengisyaratkan bahwa Adam tidak dapat memahami cinta sebagaimana yang hewan-hewan rasakan dalam surga.

Baca Juga  Manusia Pergerakan dan Era Disrupsi

Hawa tercipta sebagai pasangan Adam merupakan suatu gambaran bahwa selain memberikan pemahaman akan cinta terhadap Adam, Allah Swt juga memberikan klasifikasi akan hubungan masing-masing makhluk-Nya. Karena itu, muncul gambaran besar dua hubungan cinta dan kesepahaman dalam Islam, yaitu hubungan antara Allah Swt dengan manusia; hubungan antara manusia dengan sesamanya.

Dewasa ini, terjadi banyak kasus yang membawa perempuan pada pihak yang “dikambing hitamkan”. Serangkaian kasus mulai dari pelakor, kekerasan dalam rumah tangga, bahkan pernikahan dini seringkali memposisikan perempuan pada sisi “korban” sekaligus “pelaku”.

Media massa rajin memberikan update yang selalu membuat pembaca merinding, seperti penyiksaan yang seorang suami lakukan terhadap istrinya. Istri yang harus masuk penjara hanya karena mencuri demi bisa menghidupi anak-anaknya setelah bercerai dari suaminya. Dan tentu saja masih terdapat setumpuk kasus yang tidak dapat diselesaikan begitu saja. Dalam menyelesaikannya pun, kita tidak boleh mengklaim pihak tertentu sebagai pihak yang “harus bertanggung jawab”. Melainkan keseluruhan dari kasus tersebut harus diselesaikan dengan satu cara, yaitu saling berbagi pemahaman.

***

Ketika membaca serangkaian kasus tersebut, penting bagi pembaca untuk memposisikan diri sebagai perempuan. Memposisikan diri tersebut bukan sekedar memandang perempuan dalam kondisinya pada saat itu. Melainkan, memandang perempuan sebagai salah satu makhluk ciptaan Allah Swt yang sama-sama memiliki kehendak sebagaimana yang laki-laki rasakan.

Al Qur’an, tepatnya pada Surah al-Hujurat ayat 13 telah memberikan pernyataan secara tegas bahwa tidak ada satupun makhluk yang lebih mulia di sisi Allah SWT, kecuali mereka yang lebih meningkatkan ketakwaan yang berdasarkan semangat kesadaran untuk senantiasa mengerjakan perbuatan baik, yang memberikan kemaslahatan terhadap sesama.

Melihat kasus yang “mendera” perempuan, perlu untuk kita sikapi secara kritis. Tidak jarang berbagai kasus yang menempatkan perempuan sebagai pelaku bukanlah sebuah hal yang perempuan tersebut sengaja, melainkan terdapat faktor keterpaksaan.

Baca Juga  Menjadi Pahlawan bagi Diri Sendiri

Misal, ketika membaca kasus pencurian yang seorang perempuan lakukan, maka pembaca harus melihat terlebih dahulu lingkungan perempuan tersebut, baik lingkungan keluarga; lingkungan masyarakat tempatnya bersosialisasi. Tidak jarang dalam kasus tersebut, perempuan yang melakukan pencurian ternyata memiliki seorang suami yang menganggur. Mereka (para istri) tertekan oleh kebutuhan ekonomi sekaligus untuk menjamin kenyamanan anaknya, perempuan tersebut mencuri. Bisa juga karena perempuan tersebut merupakan korban perceraian atau perselingkuhan suaminya, sehingga karena keadaan keluarganya yang tidak terlalu mapan memaksanya untuk melakukan tindakan-tindakan tersebut.

***

Memanusiakan perempuan sebagaimana yang terdapat dalam judul di atas bukanlah sebuah penjelasan dari keseluruhan narasi panjang ini, melainkan keseluruhan narasi ini adalah kontradiksi dari judul tersebut. Apa yang saat ini telah kita lakukan, baik dari sisi laki-laki maupun dari sisi perempuan sama-sama kurang bijak.

Laki-laki yang otoriter karena fisiknya yang kuat, memposisikan diri sempurna untuk melakukan praktek penindasan terhadap golongan yang lemah, yang salah satunya adalah perempuan. Sedangkan perempuan yang melakukan perlawanan terhadap laki-laki, membawa kepentingannya sebagai perempuan secara personal tanpa menyadari bahwa baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki kepentingan, yaitu untuk mewujudkan kehidupan yang layak bagi manusia dan generasi anak cucu nanti.

Ketidak sepakatan yang diperparah dengan ketidak sepemikiran inilah yang melahirkan berbagai bias makna dan kepentingan yang pada akhirnya hanya semakin memperburuk posisi dan kondisi perempuan di masyarakat.

Membaca kesetaraan dan perempuan perlu sebuah kesadaran dan kesepahaman, baik dari pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan. Sekalipun penulis adalah seorang laki-laki, namun penulis menyadari bahwa perempuan juga sama pentingnya seperti saya, mereka memiliki hak hidup; hak kesejahteraan; yang terpenting adalah hak untuk bahagia. Karena itu, berfikir dan bertindak dengan bijaksana merupakan kunci untuk memahami segala problem yang saat ini membiaskan peran perempuan dalam kehidupan. Sekaligus ini juga adalah langkah awal dari keseluruhan langkah untuk menciptakan tatanan masyarakat yang sama-sama menjunjung tinggi kesejahteraan sebagai misi bersama umat manusia di dunia.

Baca Juga  Politik Perempuan Desa Madura

Bagikan
Post a Comment