f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mendengarkan

Seni Mendengarkan

Keterampilan untuk menarik hati seseorang itu memiliki banyak cara. Antara lain seperti ketika kita melakukan sesuatu yang disukai seseorang, atau bahkan tanpa melakukan apa yang disuka, ia tertarik dengan kita. Senyuman, perkataan yang tidak menyinggung, bercanda yang sehat, keramahan mampu menghadirkan simpati seseorang kepada kita; bahkan bagaimana respon kita ketika mendengarkan pembicaraan dengan  lawan bicara dapat mempengaruhi sikap seseorang.

Mungkin kita pernah menemui seseorang dalam suatu majelis, masjid, perkumpulan, kantor bahkan di lingkungan keluarga sendiri; yang mana ia hanya menganggukkan kepala, menggerakkan kedua matanya, tersenyum saat mendengarkan seseorang bicara dengannya, akan tetapi ia sangat disukai. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana bisa?

Jawabannya, karena ia telah menguasai keterampilan untuk mendengarkan, yang dari keterampilan itu muncullah simpati kepadanya. Seni mendengarkan memiliki berbagai macam keterampilan yang dapat dipahami:

Pertama,  ketika kita berbicara kepada seseorang, kemudian kita menceritakan banyak kisah, pengalaman akan tetapi di setiap kita sedang bercerita ia selalu memotong pembicaraan, “loh kok sama dengan ceritaku, kemarin aku begini begitu.” Di dalam hati pasti kita mengatakan “ayolah kawan, dengarkan dulu ceritaku sampai selesai.”

Kedua, ketika kita sedang berbicara kepada seseorang, akan tetapi dalam setiap obrolan ia selalu melihat HP nya; entah membalas pesan, melihat sosial media,  atau lebih parahnya ia bermain game saat kita sedang asik bercerita

Ketiga, ketika kita sedang berbicara kepada seseorang, ia memfokuskan matanya kepada kita, sesekali menganggukan kepala, sesekali tersenyum sebagai bentuk respon terhadap cerita kita. Maka pertanyaan yang mencuat adalah manakah di antara ketiga orang tersebut yang lebih kamu sukai untuk berbagi cerita? Tentu saja kita akan memilih yang ketiga.

Baca Juga  Lakuna

Dengan demikian, ternyata menarik simpati seseorang itu tidak hanya kita melakukan sesuatu yang lawan bicara kita sukai, bahkan juga dengan cara kita mendengarkan apa yang mereka sukai.

***

Kita ambil sebuah kisah pada permulaan diangkatnya Nabi Muhammad Saw., jumlah kaum muslimin saat itu hanyalah sedikit. Saat itu orang-orang kafir Quraish tidak mempercayai beliau. Dan kaum kafir itu membuat orang-orang menjauhi Nabi Muhammad dengan menyebarkan berita dusta tentangnya seperti nabi adalah seorang dukun dan tukang bohong, bahkan sampai menyebarkan desas-desus bahwa beliau adalah orang gila dan tukang sihir.

Pada suatu hari, seorang pria bernama Dhimad datang ke Mekah. Dia adalah seorang bijaksana yang menguasai ilmu kedokteran dan pengobata. Ia juga bisa mengobati orang gila dan orang yang dalam pengaruh sihir. Ketika ia tidak sengaja bertemu kafilah dagang di Mekah, Dhimad mendengarkan orang-orang sedang membicarakan nabi, “Orang gila datang. Kami melihat orang gila.”

Dhimad pun bertanya, “Katakan pada ku dimana orang itu, semoga Allah melalui tanganku mampu menyembuhkannya.”

Dhimad pun menemui Nabi Muhammad seraya berkata, “Wahai Muhammad, saya adalah seorang tabib, Allah telah menyembuhkan banyak orang melalui tanganku, kemarilah, aku akan menyembuhkanmu.”

Mulailah Dhimad menceritakan tentang pengobatan serta kemampuannya yang sudah kesohor.

Nabi Muhammad pun mendengarkan dia bercerita dengan seksama, bayangkan! Nabi Muhammad tetap mendengarkannya, sedangkan Dhimad dengan bangganya menceritakan tanpa ada jeda sedikitpun. Apa yang beliau dengarkan dengan seksama? Beliau mendengarkan dengan seksama ocehan orang kafir yang datang kepada beliau karena menganggap beliau adalah orang gila. Bijaksana sekali bukan Nabi Muhammad?

***

Ketika Dhimad selesai dengan ceritannya, Rasulullah Saw. dengan tenangnya mengatakan, “Sesungguhnya pujian hanyalah milik Allah, kami memohon pertolonganNya, barangsiapa mendapatkan petunjuk dariNya, tidak akan ada yang mampu menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan olehNya, tidak akan yang dapat memberikannya petunjuk. Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah, Dia tidak memiliki sekutu.” Mendengar ucapan nabi, Dhimad bergetar. Ia pun berkata, “Coba ulangi lagi kata-kata itu untukku.”

Nabi pun mengulanginnya.

Baca Juga  Menunjukkan Eksistensi Tak Harus dari Kontes Kecantikan

Dhimad berkata, “Demi Allah, aku pernah mendengarkan perkataan seorang dukun, tukang sihir, dan para ahli sya’ir. Namun, aku belum pernah mendengarkan kata-kata yang sedalam dasar lautan ini. Ulurkanlah tanganmu agar aku dapat bersaksi untuk memeluk agama Islam.”

Maka nabi Muhammad mengulurkan tangannya, mulailah Dhimad menanggalkan pakaian kekafirannya dan mengucapkan, “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasuluhu.”

Nabi Muhammad tahu bahwa Dhimad adalah orang yang sangat berpengaruh pada kaumnya maka beliau bertanya kepada Dhimad, “Apakah kau juga bersedia bersumpah untuk mendakwahi kaummu?” “Benar, juga untuk mendakwahi kaumku,” jawab Dhimad dengan penuh keyakinan. Sejak saat itulah Dhimad pergi menemui kaumnya sebagai seorang pembawa petunjuk dan juru dakwah.

Dengan demikian dapat ditarik sebuah garis besar agar kita mahir dalam menjadi pendengar yang baik:

  1. Mendengarkan dengan seksama
  2. Menganggukkan kepala sebagai tanda mengikuti jalannya pembicaraan
  3. Menunjukkan ekspressi dengan mimik muka
  4. Tersenyum dan menggerakkan kedua bibir sebagai tanda kagum.
Bagikan
Comments
  • 0307

    🤍

    Oktober 8, 2021
  • Fir

    ❤️

    Oktober 8, 2021
  • Wurry Srie

    Keren.

    Oktober 8, 2021
Post a Comment