f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ambisi

Strategi Tetap Waras di Tengah Gelombang Ambisi

“Hari ini kamu telat 3 menit. Banyak orang di dunia ini yang susah payah cari kerja sana-sini, kamu itu harus bersyukur apalagi punya Pimpinan yang super baik, kerja yang bener”. Satu dari sekian banyak motivasi hari yang kerap dilontarkan rekan satu ruangan di tempat kerjaku. Daya tubuhnya full, seperti handphone yang sudah semalaman dicharge. Semua dikomentarinya, bahkan apa yang kukenakan pun bisa menjadi bahan perhatiannya. Memang naluri juri di dirinya begitu kuat, sehingga hidup menjadi tidak lengkap bila ia tidak melakukanya.

Entah aku tidak pandai bersyukur punya teman begitu perhatian, sampai-sampai baru melihat pagar kantorku saja, aku langsung pening teringat tingkah lakunya. Seakan menghantui, fikirku ‘Ocehan apa lagi yang akan menyambut pagiku ini ?’.

Bekerja memang selalu tidak mudah. Contoh tidak mudahnya begini, bagiku bekerja adalah salah satu cara untuk bertahan hidup dan berbagi bersama keluarga, sesederhana itu. Tapi akan menjadi tidak sederhana ketika di ruang lingkup bekerja bertemu orang-orang dengan ambisi lebih dari pada itu. Misalnya, mencari jabatan dan eksistensi. Mereka itu jadi berperilaku tak lazim, membentuk standar “hebat” sendiri. Mereka jadi ingin mengerjakan semua hal, tak jarang peran orang lain pun dikerjakan. Kemudian membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain, seperti meminta pengakuan bahwa dirinya lah yang paling hebat, paling berkualitas.

***

Aku tidak pernah membayangkan menjadi orang semacam itu. Bayangkan jika perhatian dan pengakuan kemudian tidak didapatkannya ? Mereka pasti berfikir berlebihan, khawatir berlebihan. Khawatir disaingi orang lain, khawatir digeser orang lain, pokoknya khawatir target hidupnya di kantor justeru diraih oleh orang lain. Digerakan oleh ambisi memang bisa berujung frustasi.

Baca Juga  Seni Menguatkan Pondasi Keluarga Melalui Komunikasi

Ya, begini lah dunia kerja. Tipe-tipenya semua sama. Di tengah situasi semacam itu, aku tidak bisa berbuat banyak, apalagi aku bekerja di lingkungan politik. Lingkungan politik yang di mana semua orang rubah, menjadi serigala hanya akan musnah. Meski serigala hewan pemangsa, ia akan tetap kalah dengan musuh yang jumlahnya banyak apalagi musuh yang tidak terlihat. Artinya, aku tidak bisa melawan orang-orang menyebalkan itu secara terang-terangan.

Setidaknya, aku enggan mengubah diri. Aku tetap menjadi pribadi menyendiri, lebih sering membaca buku, hobby photography, dan bicara seperlunya. Aku lebih senang memperhatikan dan kutandai sedikit orang sebagai tempatku mengeluarkan suara. Tidak jarang saat orang-orang mendekat, kukeluarkan headset, senjata ampuh yang membantuku pura-pura gila. Apa saja yang menjadi kewajiban, kupastikan selesai. Selebihnya, aku sangat menghindari percakapan di luar konteks pekerjaan apalagi dengan sembarang orang. Tak perduli orang menilaiku apa. Bagaimanapun kita tidak akan pernah bisa mengendalikan orang lain, maka yang kulakukan adalah mengendalikan diriku sendiri.

Jika orang-orang penuh ambisi membiarkan dirinya terus dikejar pekerjaan, aku justru membayangkan bekerja penuh ketenangan. Di mana aku benar-benar bekerja pada waktu 8 jam. Tidak ada lagi telepon tengah malam, rapat mendadak di luar kota, atau perintah saat menghabiskan weekend with friend. Bila perlu aku bekerja dengan waktu lebih sedikit namun penghasilan membukit.

***

Bekerja berdasarkan passion dan hobby menyenangkan. Sebut saja Hendy, temanku. Saat anak seusianya sibuk mempersiapkan diri ke perguruan tinggi, ia memilih tetap asik dengan hobbynya di bidang photography. Saat langkahnya itu ditertawai, sekarang ia yang mentertawai kita yang setengah gila karena pekerjaan. Mentertawai sambil asik mengembara hingga mancanegara.

Baca Juga  Hari Anak: Mempopulerkan Ruang Aman dan Nyaman Anak Sejak dari Pengasuhan

Aku bahkan menyesal tak mengikuti langkahnya. Meski bekerja di kantoran memiliki gengsi yang lebih tinggi, nyatanya produktifitas berdasarkan passion dan hobby membuat pikiran lebih fokus dan segar. Ditambah banyak waktu untuk dinikmati bersama keluarga ketimbang rekan kerja yang sama sekali tidak bersahabat.

Pekerjaan semacam ini lebih ideal apalagi untuk karakter milenial. Berdasarkan survei Jobstreet.com pada 2015 lalu, sekitar 65,8% generasi milenial memilih untuk meninggalkan pekerjaanya setelah bekerja selama satu tahun. Mereka merupakan generasi ‘tidak betahan’ yang tidak mudah dimengerti oleh kaum pasca colonial seperti para orang tua. Faktanya saja mayoritas orangtua lebih mendorong anak-anaknya untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Kita hidup tidak hanya untuk mengejar ambisi kemudian mati, bukan ? Ayolah, pola hidup sehat bukan hanya sekedar menjaga kebersihan diri dan memakan makanan sehat. Tapi juga bagaimana menyeimbangkan hidup, kapan harus bekerja, kapan harus mengembangkan kemampuan, melakukan hobby hanya sekedar untuk membahagiakan diri sendiri.

Atau memang begitu ya cara orang-orang penuh ambisi menikmati hidupnya ? Sadarkah kalian orang-orang penuh ambisi, saat dirimu berkutat dengan pekerjaan yang sesekali membuatmu gila, orang lain justru asyik mengembangkan dirinya. Entah baca buku, melakukan hal-hal yang mereka suka, pergi ke tempat-tempat indah yang membuat hidup menjadi lebih terasa bahagia. Ambisi itu seperti senapan, bisa menaklukan orang lain tapi bisa juga membunuh diri sendiri. Maka berhati-hati lah.

Bagikan
Post a Comment