f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
falling in love

Falling in Love atau Standing in Love?

Saya terdorong untuk menulis coretan ini karena saya ingin skali berbagi hal yang basic; tapi sangat krusial dalam hidup yang tampaknya disalahpahami bahkan dinafikan oleh kebanyakan orang di era yang penuh distorsi ini. Semoga saya bisa menghadirkan paradigma baru demi memperkaya pandangan kita untuk bisa melihat segalanya dari sudut pandang yang berbeda. Saya menemukan kalimat yang cukup menarik ini dan seketika merubah paradigma saya; “Standing in love not falling in love”.

Kalimat ini ada pada buku “The art of loving”; salah satu karya milik Erich Fromm. Mengenai ini, Fromm menolak ekspresi falling in love, ia menawarkan alternatif baru yakni standing in love. Baginya, cinta selalu melibatkan sebuah tindakan yang aktif bukan pasif. Sedangkan ekspresi falling in love merupakan ekspresi yang mengisyaratkan makna cinta sebagai tindakan pasif: sebuah tindakan dengan pengharapan dicintai dan memiliki.

 “Jika cinta adalah seni ia membutuhkan pengetahuan dan usaha”(Erich Froom, 2020:1). Menurut saya, pernyataan ini menuai kritik dan juga memberikan pandangan baru bagaimana selayaknya kita mempresepsikan dan memperlakukan cinta. Cinta sebagai sebuah tindakan aktif: tindakan mencintai dengan kemampuan menerima segala kekurangan orang atau apa yang ia cintai. Kemudian, Fromm juga menyatakan “Cinta; satu-satunya jawaban yang paling memuaskan untuk permasalahan eksistensial manusia” (Erich Fromm, 2020:9). Saya yakin jika kita mampu mempresepsikan cinta dan melakukannya dengan tindakan aktif, akan ada banyak skali permasalahan-permasalahan kehidupan yang dapat kita selesaikan dengan baik.

Falling in Love

 Kebanyakan orang di era sekarang mempresepsikan dan mengekspresikan cinta dengan konsep falling in love. Hal ini cukup jelas jika kita perhatikan dengan saksama; bagaimana banyak muda-mudi melakukan banyak treatment agar memiliki bentuk tubuh dan rupa yang lebih indah dan menawan. Para kaum hawa akan mengikuti berbagai treatment kecantikan berapapun harganya asalkan bisa tercapai keinginannya agar mendapatkan perhatian lelaki atau agar lebih dicintai, begitupun sebaliknya para lelaki.

Baca Juga  Komunikasi Hati Pasangan, Untuk Kebahagiaan Sejati

Tidak hanya itu, dengan banyaknya produk-produk kecantikan yang berkembang pesat di berbagai tempat, tentu karena memiliki pasar yang amat besar. Ini adalah indikasi bahwa pandangan mereka dan perilaku mereka terhadap cinta adalah tindakan pasif. Selain dari memperindah wajah dan tubuhnya mereka juga akan memperbaiki perilaku mereka sesuai dengan pembawaan yang banyak digandrungi oleh lawan jenisnya; contohnya menjadi orang yang easygoing, outgoing, menjadi pendengar yang baik dan lain-lainnya.

***

Dalam hal ini sebenarnya tidak ada yang salah dengan memperindah diri kita baik dari segi fisik dan tingkah laku bahkan itu sangat diperlukan sebagai bukti bahwa kita mencintai diri kita. Namun yang menjadi pertanyaannya adalah kalau semua orang hanya fokus semata-amata agar dicintai lalu siapa yang siap untuk mencintai?

Sebagai konsekuensinya, fakta yang sering kita temui di masyarakat;  yang mereka lakukan antara sesama pasangan kekasih adalah exchange relationship: mereka akan menyandarkan hubungan mereka pada keindahan fisik dan apa yang dimiliki pasangannya: harta, jabatan atau status sosial. Ketika sudah bosan dengan hal-hal tersebut mereka akan saling meninggalkan. Orentasi dalam setiap hubungan ataupun hal yang mereka lakukan adalah keinginan bukan kehendak penuh.

Hal ini telah menjadi rahasia umum, sering sekali kita temukan hal serupa juga terjadi dikalangan para aktris yang dikabarkan di media mainstream seperti televisi maupun di social media. Mengenai hal ini, ada data dari Menteri Agama pada tahun 2020 tentang tingkat perceraian di Indonesia. Angka perceraian di Indonesia terkhususnya yang beragama Islam, pada tahun 2019 mencapai angka 480,618 kasus.

Angka ini telah meningkat ditahun-tahun sebelumnya sejak 2015 (394,248 kasus), 2016 (401, 717 kasus), 2017 (415, 510 kasus), dan 2018 (444, 358 kasus). Tepat tahun 2020, tepatnya pada Agustus angkanya bertambah 306, 688 kasus (kemenag.co.id). Dari fenomena tersebut di atas, saya sepenuhnya yakin bahwa fenomena di atas sangat erat kaitannya dengan paradigama; dan sikap masyarakat atas cinta yakni falling in love yang merupakan sikap pasif atas cinta.

Baca Juga  Wanita Haid, Bolehkah Masuk Masjid?
Standing in Love

Jika Rahmania takut tidak dicintai berarti kamu tidak siap untuk mencintai (Erich Fromm, 2020:160). Dari sudut pandang ini, secara tersirat kalimat di atas memberi pesan sikap aktif terhadap cinta. Cinta itu selalu tentang seberapa besar yang bisa kamu beri bukan sebaliknya. Cinta adalah keterampilan yang mesti selalu di asa seperti; usaha, tenggungjawab, kesabaran dan konsistensi yang mana keempatnya ini merupakan kesatuan integral dari standing in love.

Jika Rahmania mencintai seseorang atau sesuatu tapi tanpa disertai dengan usaha, tanggung jawab, kesabaran dan konsistensi dalam mencintai, maka kamu tidak akan berhasil dalam mencintai. Keterampilan dalam mencintai seperti usaha, tanggung jawab, kesabaran, dan konsistensi harus selalu di asa/dipraktikan dalam segala hal. Ketika kamu memiliki keterampilan tersebut maka kamu telah mempunyai keterampilan dan kemampuan untuk mencintai.

Ada satu lagi pernyataanyang sudah saya paparkan di awal coretan ini “Cinta; satu-satunya jawaban yang paling memuaskan untuk permasalahan eksistensial manusia” (Erich Fromm, 2020:9). Saya pikir ini adalah kunci dalam membuat kita sadar betapa krusialnya cinta dalam hidup ini. Saya akan coba untuk menguraikan inti dari pernyataan ini. Seluruh manusia pasti membutuhkan cinta disegala circle kehidupannya seperti keluarga, hubungan cinta kasih, pertemanan, kerja, seni dan lainnya.

Dapatkah kamu bayangkan kamu melakukan semua itu tanpa cinta? Apabila Rahmania meletakkan usaha aktif dengan cinta ke semua hal itu, tidak hanya keberhasilan, tapi juga akan mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan spiritual yang tak dapat kamu beli dengan uang. Karena, jika mencoba untuk mencintai apa yang kita lakukan, maka tidak akan pernah merasa terbebani apalagi depresi karena kamu cinta akan hal itu. Kedengaranya cliche kalimat terakhir yang saya terangkan, tapi itulah kebenarannya.

Bagikan
Comments
  • Mila

    Keren sih kak Ishaq 😄😄

    April 26, 2021
  • Thank you deq

    April 26, 2021
  • Reza Pangestu Wajo

    Keren abis bro. Membuka beta punya pikiran

    April 27, 2021
  • Dlestayooo

    Good job yooo!!!

    Mei 4, 2021
Post a Comment