f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
sinyal tubuh

Self Love: Mendengar Sinyal Tubuh

Beberapa hari yang lalu ketika saya sedang praktek sadar nafas untuk self love. Saya jadi ingat kerja keras yang dilakukan tubuh saya. Untuk melakukan latihan self love, saya melakukan sadar nafas disertai mengelus seluruh anggota tubuh satu per satu.

Saya kemudian mengucapkan terima kasih dari kepala hingga kaki. Terima kasih telah bekerja keras, telah menyertai saya, telah berjuang hingga detik ini. Bersama-sama mewujudkan cita-cita, dan melakukan semua hal untuk mencapai keinginan saya.

Setelah berterima kasih, saya melanjutkan dengan meminta maaf pada seluruh organ tubuh saya. Saya meminta maaf karena telah lalai terhadap organ saya, lalai pada hak-hak tubuh saya, dan lalai pada kebutuhan tubuh saya.

Kemudian, saya seringkali kurang istirahat, kurang asupan nutrisi, dan memaksakan diri. Terlalu banyak mengambil peran hingga sering insomnia dan sakit kepala. Saya menangis sejadi-jadinya, saya sadar bahwa saya telah melalaikan hak tubuh saya.

***

Saya jadi teringat kejadian tahun 2012 tepat ketika saya lulus SMA. Saya sakit selama satu bulan, sakit kepala, muntah, demam, dan tak bisa bangun dari kasur. Setiap hari saya hanya bisa berbaring, makan lalu muntah lagi, tidur dalam keadaan sakit kepala yang tak kunjung mereda.

Setelah saya banyak merenung, saya tahu bahwa hal itu adalah sinyal dari tubuh saya. Tiga tahun sebelumnya saya benar-benar lalai. Saya tidur paling cepat jam 11 malam kadang jam 12 atau jam 1 pagi, lalu terbangun jam 3 atau 4 pagi. Begitu terjadi selama tiga tahun.

Saya juga mengikuti berbagai macam kegiatan. Anehnya, saya sendiri tak pernah merasakan sakit atau lemas. Pernah saya merasa ngantuk di siang hari selama beberapa minggu, namun setelah itu normal lagi. Lalu pernah juga saya merasakan diri ini hilang selama beberapa detik.

Baca Juga  Hakikat Manusia dalam Islam Sebagai Makhluk

Saya kehilangan kesadaran meski sedang berjalan atau beraktivitas. Saya tak menceritakan hal ini pada siapa pun karena hal ini sulit dipahami orang. Ohiya ketika saya sakit satu bulan itu, saya sudah periksa ke dokter, lalu ke tabib Cina, dan tak terdeteksi penyakitnya apa.

Saya diberi obat dokter tapi tak ada efeknya, saya juga diberi obat Cina tapi juga tak berefek, sampai akhirnya saya berhenti meminum semua obat itu. Saya akhirnya hanya pasrah dan hanya berdoa agar Tuhan mengangkat penyakit saya.

***

Lalu akhir tahun 2019 suami saya sakit. Demam, sakit kepala, lemas. Segala upaya saya lakukan, bekam, pijat, obat herbal dari mulai propolis, madu, sari kurma, semua diminum. Satu minggu berlalu, dengan panas yang naik turun. Saya minta suami ke rumah sakit dan cek darah.

Hasilnya semua normal, tak ada sakit apa pun. Saya lega, saya pikir suami saya sudah berangsur sembuh. Ternyata satu minggu berikutnya masih sakit, hanya saja tidak separah sebelumnya. Kemudian saya mulai mengingat pola hidup suami saya.

Ia memang terbiasa begadang, meski ia kerja pagi, ia tetap terbiasa tidur dini hari. Sulit sekali mengubah kebiasannya ini. Jika sedang tidak kerja, ia akan tidur seharian, lalu melupakan jam makan. Akhirnya pola tidur yang berantakan berdampak pada pola makan.

Di sinilah saya mulai berpikir tentang sinyal-sinyal tubuh. Sebenarnya tubuh kita sudah sering memberikan sinyal, misalkan sakit kepala atau masuk angin. Namun sinyal itu masih lemah, hingga seringkali kita abaikan.

Ketika kondisi tubuh sudah parah, sinyal itu menguat lalu berakhir dengan sakit parah. Ada yang sakitnya kronis lalu harus menjalani perawatan. Ada pula yang sakitnya malah tidak terdeteksi seperti yang terjadi pada saya dan suami. Bersyukur kami tak perlu menjalani perawatan kemudian sembuh.

Baca Juga  Jeratan Informasi Digital dan Peran Perempuan di Dalamnya

Mencintai diri sendiri artinya kita mau mendengar sinyal tubuh kita. Sinyal ini kita telusuri berbagai sebabnya. Mulai dari istirahat, makanan, juga aktivitas yang overload. Seringkali kita tidak menyadari bahwa tubuh kita sudah jenuh dan lelah karena kita paksa.

***

Mencintai diri bukan hanya tentang mengaktualisasikan potensi yang ada dalam diri. Mewujudkan cita-cita pribadi dengan memaksakan kondisi fisik. Jika kita jatuh sakit dan tak bisa bangun, apa gunanya semua yang telah kita lakukan?

Dalam kondisi sakit kita sendiri tak akan bisa menikmati apa saja yang telah kita korbankan. Jika kita bekerja keras hingga kita bergelimang harta dan memiliki kedudukan kemudian sakit, maka apa gunanya seluruh harta dan status sosial itu?

Mencintai diri artinya mendengar sinyal tubuh. Memenuhi kebutuhan tubuh dan berhenti menzalimi diri. Bukan hanya tentang aktivitas duniawi, aktivitas ukhrawi juga perlu kita perhatikan. Ibadah semalaman tanpa tidur lalu paginya beraktivitas juga menzalimi diri.

Kita mengejar begitu banyak target dan melupakan kondisi fisik tubuh kita. Asupan yang tidak seimbang dan istirahat yang tidak cukup seringkali menjadi faktor utama. Kita sibuk bekerja namun lupa olahraga, padahal itu juga hak tubuh kita.

Lalu, kita sibuk berpikir, membuat target, membuat list to do hingga lupa kebutuhan jiwa dan raga kita. Kita mengabaikan sinyal-sinyal tubuh kita hanya untuk memenuhi target kita. Seringkali kita memenuhi harapan orang lain, memenuhi target bos kita, atasan kita, karena tak ingin menunaikan hak mereka.

***

Padahal di saat bersamaan kita justru menzalimi diri kita sendiri.  Coba kita lepaskan semua itu, mencintai diri dengan mendengar seluruh sinyal tubuh. Lepaskan sejenak seluruh target dan list to do itu, lalu biarkan tubuh kita berbicara. Kita selami samudra ketenangan dan kedamaian. Pikirkan apa saja yang dibutuhkan tubuh dan hak-hak tubuh kita.

Baca Juga  Dinamika Perempuan dalam 3 Peran: Menikah, Bekerja, dan Kuliah

Kata para ahli agama, kelak seluruh organ tubuh kita akan bersaksi di hadapan Tuhan atas apa saja yang telah kita lakukan. Dulu saya berpikir kelak organ tubuh saya akan bersaksi dosa saya terhadap orang lain. Hak-hak orang lain yang tidak saya penuhi.

Kini saya berpikir, barangkali kelak organ tubuh saya bersaksi bahwa saya sendiri tidak memenuhi hak atas mereka. Saya sendiri telah berbuat dosa karena menzalimi tubuh saya sendiri. Kita sering berpikir tentang orang lain, tapi melupakan diri sendiri. 

Kebenaran hakiki sudah digaungkan berkali-kali, hanya saja kita memilih untuk mendengar atau tidak.

Bagikan
Post a Comment