Quarter Life tidak Selalu Crisis!
Penghinaan – kekerasan secara verbal – terhadap ciptaan Tuhan, berarti penghinaan pula terhadap penciptanya. Sebab itulah saya tak pernah sepakat dan terus terang menolak adanya body shaming dalam konteks apa pun. Bagi yang menganggap itu sebagai sebuah candaan, coba perbaiki selera humornya. Masih banyak hal lain yang bisa membuat kita tertawa selain fisik orang.
Saya tidak – lebih tepatnya sudah berhenti – merokok. Itu satu modal besar yang membuat saya tak pernah berkecil hati, modal yang jauh melampaui perihal fisik. Idaman banyak perempuan dan mertua. Meski lagi-lagi, saya dan banyak laki-laki yang kurang beruntung, kadang, terpatahkan oleh celetukan, “Nggak apa-apa perokok, yang penting ganteng.”
Perempuan memang seperti itu, menggemaskan! Kadang memilih lelaki yang tidak tepat, dan cerobohnya, pada akhirnya menganggap semua laki-laki sama saja. Tak mudah membaca dan mengeja perempuan. Tapi saya tidak mau ambil pusing, terlebih ketika banyak orang seusia saya merasa terjebak dalam suatu masa yang konon, krisis.
Menjalani Seperempat Abad dengan Santuy
Istilah Quarter Life Crisis semakin popular dan menjadi perbincangan hangat; terutama di kalangan mereka yang menginjak usia berkepala dua. Kekhawatiran dan ketidakpastian akan karir, percintaan, dan finansial yang bisa saja berujung pada depresi. Begitulah banyak orang mengartikannya.
Sebenarnya itu hal yang lumrah, wajar, dan biasa saja tanpa perlu didramatisir. Bahwa setiap orang pasti akan menjumpai fase itu kecuali mereka yang bernasib mujur, lahir dan besar di keluarga yang dipenuhi privilege. Maka, sering-seringlah muhasabah, sesekali menangis, dan jangan terlalu banyak tertawa supaya mendapati jalan yang terang sekali pun tetap terjal.
Quarter life tak selalu crisis, modal utama melalui seperempat abad dengan santuy ialah dengan memegang prinsip. Orang lemah ialah mereka yang tak punya prinsip, sementara orang kalah ialah mereka yang mangkir dari prinsipnya sendiri.
Belakangan, tanpa mengikuti seminar-seminar parenting, dengan sendirinya saya belajar dari para praktisinya langsung; rekan kerja di kantor, senior organisasi, bahkan penjual martabak. Ternyata perihal percintaan dan hubungan rumah tangga itu unik. Rumit atau tidaknya tergantung masing-masing orang menyikapinya. Yang pasti, saya dapati cerita-cerita yang menarik untuk ditertawakan.
***
Sewaktu orang-orang mendadak memiliki hobi yang sama: bersepeda. Teman saya bermaksud membeli sepeda di market place facebook, sudah deal soal harga, tapi sialnya ia tak jadi membeli karena tidak dapat izin dari istri. Teman yang lain, akan mengikuti kompetisi sepak bola di luar kota, demi mengantongi izin dari istri, ia harus membelikan sprei motif kesukaan istrinya.
Satu lagi, cerita dari sepasang senior. Menjelang Maghrib tiba, istrinya bilang, “Mas, sudah sore.” Dan maksud dari ucapan singkat itu bukan semata pemberitahuan bahwa hari sudah mulai gelap, tapi kode supaya menutup jendela dan menyalakan lampu.
Soal percintaan, bagi kita yang sudah beranjak dewasa. Yang harus menjadi pemahaman bersama, bukan saja bagaimana mendapatkan hati seseorang yang dicintai, tapi jauh lebih dari itu; bagaimana melalui hari-hari bersama seseorang yang kita cintai setelah berkeluarga nanti.
Barangkali, ayah dan ibu saya ialah role model pasangan yang telah purna, sudah khatam mengenai pembagian tugas domestik maupun publik antara laki-laki dan perempuan.
Dari mereka, banyak sekali pelajaran, terutama soal kemampuan basic yang perlu saya miliki. Seperti mengganti pipa yang bocor, menyambung kabel yang putus, dan mengganti genteng yang bocor, supaya tidak buru-buru panggil tukang bila ada yang rusak.
Quarter Life, Mencintai Sebaik-baiknya, Sehormat-hormatnya
Kisah Plato dan Socrates tentang makna cinta masih selalu relevan untuk kita ambil hikmahnya. Suatu ketika, Plato bertanya pada gurunya – Socrates – tentang apa itu cinta dan bagaimana cara mendapatkannya. Lantas Plato diperintah untuk menyusuri ladang gandum dan memetik satu ranting yang paling indah, syaratnya ia hanya boleh memetik satu ranting saja dan tak boleh mundur berbalik arah.
Sepulang dari ladang, Plato tak membawa satu pun ranting. Sebenarnya tadi ia telah menemukan ranting yang begitu indah, tapi ia mengira akan menemukan ranting yang lebih indah di depan. Ternyata hingga kembali dari ladang Plato tak membawa satu pun ranting sebab tak mendapati ranting yang lebih indah dari yang ia temukan semula.
Kemudian Socrates menjelaskan bahwa itulah cinta, semakin dicari, semakin tak ditemukan. Maka ketika kamu menemukan dan mengaguminya, ambil dan rawatlah dengan baik.
Setiap yang tulus dari hati akan sampai ke hati. Demikian dengan cinta yang tulus juga akan bisa dirasakan bahkan tanpa diungkapkan sekali pun. Meskipun kita juga tahu. Kadang bahkan sering, cinta yang tulus dan penuh pengorbanan tak selalu dihargai.
Karenanya, saya selalu ingat pesan Cak Nun, “Jangan tagih orang lain untuk mencintaimu, tapi tagihlah dirimu untuk mencintai siapa pun.”
Terakhir, terkait cinta, kita bisa banyak belajar dari Erich Fromm, Kahlil Gibran, Rumi, dan banyak lainnya. Namun, yang selalu saya ingat dan sepakat ialah apa yang dikata Gandhi, bahwa cinta adalah hak prerogatif bagi orang-orang yang berani. Aku berani, maka aku mencintaimu, Dik. Sungguh, aku mencintaimu sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Tenaga Kependidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
