Tentang Palestina: Perempuan dan Perjuangannya
Kedamaian dan kesucian bulan Ramadhan seakan terampas paksa. Penyerangan zionis Israel kepada saudara kita di Palestina terus bergulir bahkan sampai detik ini. Tidak pandang agama maupun usia semua terkena dampak yang sangat memilukan. Tidak hanya laki-laki dewasa yang melawan para tentara zionis, anak-anak dan perempuan Palestina pun ikut andil melawan kebiadaban. Tak jarang mereka harus bertaruh nyawa mempertahankan tanah airnya.
Berbagai media telah memberitakan bagaimana serangan-serangan Israel kepada Palestina. Dari CNN Indonesia, Hamas yang memerintah di Jalur Gaza mengatakan penduduk Gaza yang luka-luka mencapai 1.900 orang dan sekitar 120 ribu penduduk terpaksa mengungsi. Kemudian jumlah penduduk di Jalur Gaza yang tewas dalam peperangan yang berlangsung selama sebelas hari mencapai 232 orang, 65 di antaranya adalah anak-anak. Sedangkan jumlah korban tewas dari pihak Israel akibat serangan roket milisi Palestina dari Jalur Gaza tercatat sebanyak 12 orang.
Sungguh ironi melihat jumlah korban yang tewas maupun luka. Jiwa-jiwa yang terus berharap akan kedamaian terpaksa mengungsi di tempat aman namun tak hangat. Pastinya terdapat kisah heroik dari para pejuang Gaza. Utamanya penulis juga seorang perempuan, sangat terharu dan bangga akan perjuangan para perempuan Palestina. Perjuangan yang Insyaa Allah bernilai Syurga dan bergelar Syahidah.
Perjuangan Para Perempuan Palestina
Kisah heroik para perempuan Palestina bermula di awal abad ke-20. Perjuangan ini bermula ketika para perempuan Palestina berpartisipasi dalam kampanye dan demonstrasi menentang Deklarasi Balfour pada tahun 1917. Pada tahun 1936 perempuan Palestina berpartisipasi dalam mengirim logistik berupa senjata, makanan dan minuman kepada para pejuang laki-laki. Kemudian mengorganisir bantuan berupa makanan untuk keluarga miskin terutama pada mereka yang anggota keluarganya dipenjara oleh Zionis Israel.
Tahun 1967 sampai 1970 merupakan tahap kedua perjuangan para perempuan Palestina. Pada tahap ini mereka tidak hanya bertugas mengantarkan logistik saja. Namun mereka juga ikut ambil posisi dalam merencanakan dan melaksanakan operasi bersenjata. Tak jarang dari mereka dikirim ke penjara karena kegiatan tersebut.
Di antara banyaknya perempuan yang aktif dalam demonstrasi, Leila Khaled sangat populer dan menjadi ikon perlawanan perempuan Palestina. Perjuangannya terabadikan dalam sebuah buku karya Sarah Irving. Leila merupakan perempuan yang lahir di kota pelabuhan Haifa pada tanggal 9 April 1944. Ayahnya merupakan seorang pemilik kedai dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Leila mulai aktif turun ke jalan ikut demonstrasi bersama kawan-kawannya sejak berusia 10 tahun. Di Palestina anak-anak turun ke jalan bersama teman-teman sekolahnya tidak menjadi permasalahan. Karena itulah sikap anak-anak Palestina yang selalu ingat tanah kelahirannya.
Atas rasa nasionalisme dan cinta tanah air, Leila Khaled memberanikan diri mengangkat senjata. Leila juga bergabung dan aktif dalam PFLP (Pront For Liberation Palestinian). Tidak sampai di situ, Leila juga sudah melakukan dua kali pembajakan pesawat bersama kawannya yang juga tergabung dalam PFLP. Dari situlah dunia mengenal Leila Khaled dan media massa selalu mencarinya. Ketika Laila ditanya, “Apakah dia siap untuk dipenjara disiksa dan siap mati?”. Dengan tegas Leila menjawab bahwa dia siap akan segala konsekuensinya.
Kilas Balik “Pedang Allah” di Zaman Rasulullah
Perjuangan para perempuan di Palestina tentu saja mengingatkan kita akan perjuangan perempuan di zaman Rasulullah. Sering kita mendengar perjuangan Bunda Khadijah yang rela menggunakan hartanya untuk kepentingan dakwah. Kemudian ada Bunda ‘Aisyah binti Abu Bakar dengan kecerdasannya. Beliau juga banyak berkontribusi dalam pengembangan Ilmu Hadist, karena kecerdasan, berpikir kritis serta analisis yang tajam ketika melihat suatu masalah.
Ada kisah yang mungkin relevan dengan para pejuang perempuan Palestina. Jika Khalid bin Walid mendapat julukan “Pedang Allah” dari kaum laki-laki. Adapun dari kaum perempuan yaitu bernama Khaula binti Azur. Perjuangan Khaula bermula ketika ia menjadi petugas medis sata berjihad melawan Romawi. Saat itu, keberanian Khaula muncul ketika mengetahui kakaknya yaitu Dhirara bin Azur gugur dalam perang.
Kedekatan Khaula dengan Dhirara membuat Khaula mengerti tentang ilmu perang. Khaula juga pandai menunggangi kuda. Dengan senjata yang sudah siap, Khaula menutup seluruh tubuh kecuali matanya. Berpacu dengan kuda, Khaula mulai mendekati pasukan musuh. Saat itu pasukan muslim sedang dipimpin oleh Khalid bin Walid. Khaula datang di saat yang tepat. Karena pasukan muslim sedang terdesak karna serangan dari Romawi.
Mereka semua terheran atas datangnya seorang ksatria yang menutupi tubuhnya. Tak lain itu adalah Khaula dengan gagah dan berani melawan musuh Allah. Khalid bin Walid sebagai pemimpin perang saat itu tidak mengetahui siapa yang berani menyergap para musuh. Pada awalnya Khaula tidak mau menjawab pertanyaan dari Khalid tentang siapa dia. Kemudian setelah terkejar oleh Khalid, Khaulah pun menjawab siapa ia sebenarnya.
Kisah ketangguhan Khaula binti Azur tidak hanya berani dalam medan perang saja. Khaula juga terkenal pandai mengatur strategi menghadapi musuh. Kepandaiannya terrbukti ketika sejumlah Muslimah menjadi tahanan saat Perang Sahura. Khaula mengatakan kepada Muslimah yang ditahan untuk memanfaatkan yang apa yang ada di sekitarnya agar terbebas. Khaula selalu mengingatkan bahwa pertolongan Allah itu pasti dan syahid itu lebih baik bagi kita daripada terhinakan kaum kafir.
Untuk Kita, Para Perempuan Indonesia
Banyak yang bertanya, “Lalu apakah kita harus ikut perang/demo supaya kita yang perempuan bisa dikatakan berjuang?” Tentu jawabannya, tidak selalu begitu kawan. Apa yang dilakukan para Mujahidah tadi tidak langsung atau tiba-tiba saja ikut perang. Palestina dengan kondisi wilayahnya yang sering terjadi konflik, maka dari kecil sudah ditanamkan rasa keberanian untuk melawan secara mental dan fisik. Bahkan di zaman Rasulullah pun ada ilmu perang. Karena saat itu untuk memerangi para musuh Allah dilakukan dengan cara perang.
Indonesia mempunyai segudang permasalahan dan perempuan punya peran besar dalam menuntaskan solusinya. Namun terkadang, rasa insecure seringkali menghambat kita dalam berjuang. Padahal kita punya potensi dan keahlian masing-masing. Atau jika insecure itu kita olah dengan baik, maka dengan rasa insecure itu membuat kita terpacu agar bisa seperti yang kita impikan.
Maka dari itu, jadilah perempuan yang punya kemauan belajar
Tidak payah ketika berpikir
Tidak menyerah untuk bertindak
Maka kebermanfaatan akan terus menyertaimu
Karena kisah perjuangan perempuan akan terekam abadi
Ketika ia mau belajar, berpikir, bertindak dan bermanfaat.
