f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
telat menikah

Salahkah Perempuan yang “Telat” Menikah ?

Setiap orang dewasa pasti memimpikan sebuah pernikahan.  Tujuan seseorang menikah beragam, demi meneruskan keturunan, membentuk keluarga sakinah  dan sebagainya. Dan bagi seorang perempuan, seringkali pernikahan menjadi hal yang dinantikan dalam perjalanan hidupnya.

Namun bagaimana jika seorang perempuan justru dianggap “telat” menikah karena tak kunjung menemukan jodoh pada usia yang dianggap ideal menikah  oleh masyarakat ? Sebenarnya tidak ada standar baku berapa usia ideal perempuan menikah, kecuali aturan batas usia minimal menikah dalam undang-undang.

Adakah Batasan Umur Telat Menikah?

Pada generasi ibu kita, usia 20-an mungkin dianggap “telat” menikah, karena waktu itu perempuan lazim menikah di usia belasan. Namun di masa sekarang, hal ini tidak berlaku lagi karena banyak perempuan justru sedang kuliah atau mungkin mulai bekerja. Walaupun ada segelintir yang memilih menikah selepas tamat SMA.

Jadi, berapa usia ideal perempuan menikah tergantung pada persepsi masing-masing. Yang pasti, bagi perempuan yang belum menikah di usia yang dianggap “telat” oleh masyarakat, bukanlah perkara yang mudah. Belum lagi di beri label “Perawan Tua”, tentu sangat membuat tidak nyaman. Apalagi bagi perempuan yang tinggal di kota kecil yang tipikal masyarakatnya masih “peduli” bahkan pada kehidupan pribadi seseorang. Tak jarang, perempuan “telat” menikah menjadi bahan pergunjingan bahkan dianggap ancaman terhadap rumah tangga mereka.

Lalu mengapa seorang perempuan sampai mengalami kondisi tersebut ? Menurut anggapan masyarakat, banyak alasan yang melatarbelakanginya mulai dari sibuk mengejar karir atau menuntut ilmu, terlalu pemilih sehingga mematok standar tinggi dalam memilih pasangan, terlalu menutup diri, tidak berusaha dan sebagainya.

Di sisi lain, kita sering melihat perempuan yang seakan memiliki segalanya seperti cantik, mapan, baik hati, dewasa, cerdas, mandiri, pergaulan luas namun belum menikah bahkan tidak mempunyai kekasih. Timbul pertanyaan apakah si perempuan menganggap pernikahan  bukan prioritas atau para lelaki segan untuk mendekatinya. Konon, lelaki tidak suka ego dan harga dirinya dikalahkan perempuan, sehingga malas mendekati perempuan yang memiliki segalanya. Namun bisa juga sebagai alasan untuk menutupi masalah percaya dirinya. Sehingga muncul kesan bagi si perempuan tipe tersebut, mereka layak dikagumi namun tidak layak dimiliki.

Baca Juga  Urgensi Me Time bagi Para Istri
Stigma Telat Menikah

Banyak perempuan lajang yang dalam kondisi “telat” menikah, sebenarnya tidak terlalu pemilih, tidak menutup diri bahkan mencoba menjalani hubungan serius dengan lelaki, namun ternyata belum juga naik pelaminan yang tentu saja di luar kuasa mereka. Walaupun ada juga segelintir yang memilih melajang dengan alasan sudah biasa sendiri, bisa bebas bepergian dan berteman dengan siapa saja.

Inti dari pernikahan adalah kesepakatan dan itikad baik dari kedua belah pihak. Kalau tidak sepakat, untuk apa dipaksakan. Lantas jika kondisinya begini, layakkah mereka dibebani pertanyaan, “kapan menikah?!” atau guyonan, “truk aja gandengan, masa kamu nggak?!”.

Belum lagi secara biologis dihakimi dengan anggapan perempuan yang menikah di atas usia 35 tahun akan sulit hamil dan memiliki keturunan. Mereka lupa bahwa teknologi fertilisasi sudah canggih saat ini atau melakukan adopsi anak.

Yang paling “menyakitkan” secara agama pun mereka dipinggirkan, karena ajaran agama yang menyatakan “menikah adalah ibadah”. Seharusnya dalil tersebut bukan menjadi pembenaran untuk menghakimi mereka sebagai orang yang tidak taat beragama. Justru banyak di antara mereka yang sangat taat, namun sekali lagi jodoh bukan wewenang mereka.

Akhirnya, bagi perempuan yang “telat” menikah, apakah itu merupakan “Pilihan” atau karena “Keadaan”, semua berpulang ke tiap individu. Tetap tegar bagi yang menjalani sebagai “Pilihan” dan tetap sabar bagi yang menjalani sebagai “Keadaan”.

Rahmania, bukankah jodoh, hidup, mati, rezeki sudah diatur oeh Sang Maha Pengatur ? Jadi mengapa kita – sebagai masyarakat – harus beropini negatif bahkan menghakimi mereka seolah-olah kitalah yang  paling benar di hadapan-NYA?

Bagikan
Post a Comment