f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kupu-kupu

Kreativitas Milenial untuk Ekonomi Bangsa

“Apa sumbangsih kalian untuk negara ini?” Tantang Bu Megawati kepada generasi milenial dalam pidatonya di acara PDI-P, pada Oktober lalu. Pernyataan itu tentu cukup menggegerkan banyak pihak, karena diungkapkan dalam emosi politik yang memandang salah satu kalangan terbesar dan paling berpengaruh di negeri ini, yaitu kaum milenial, kaum anak muda yang mulai jadi roda penggerak jalannya ekonomi bangsa.

Namun, alih-alih muntab karena tersinggung oleh kritikan generasi lalu yang hampir habis masanya itu, apa tidak sebaiknya milenial menganggap itu tantangan untuk jadi batu loncatan? Jawabannya, sudah barangtentu!

Maksud terdalam dan tersirat dari ocehan Bu Mega mungkin mengandung unsur motivasi. Yang sebenarnya ingin ia sampaikan sejatinya adalah bahwa tampuk kemajuan bangsa harusnya oleh milenial. Ia juga menginginkan bahwa anak muda harus cepat sadar dan bangun sejak dini, sadar, eling, dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menciptakan karya terbaik.

Bu Mega juga hendak memperingatkan kepada anak muda yang masih terlena dalam belenggu ketidaksadaran akan pentingnya membangun fondasi dan pilar-pilar penopang ekonomi. Memang benar, kalau dihitung secara apa yang tampak, dari berita-berita di media televisi dan media daring, pemuda Indonesia masih terganjal oleh penghalang-penghalang yang tak mudah dilepaskan. Betapa banyak pemuda yang menghabiskan waktunya di depan gawai untuk bermain gim daripada belajar mengejar passion-nya. Itu contoh kecil saja.

Selain itu, Bu Mega khawatir, di tengah pandemi yang mengancam resesi ekonomi dan bisa terus berkomplikasi menjadi krisis ini; seharusnya milenial menjadi garda depan sebagai pasukan penyelamat ekonomi dengan kreativitasnya.

Milenial, seperti yang disebut oleh Andrew Senduk dalam bukunya “Ignite Millenial Leadership”, adalah anak muda yang berjiwa wirausaha dan ingin menjalankan bisnis sejak awal. Maka sudah semestinya, setidaknya milenial mendayagunakan passion-nya untuk merintis UMKM dengan ide yang cerdas dan solutif pada masa pandemi.

Baca Juga  Generasi Sandwich, Tak Seenak Namanya
…

Milenial yang dapat menemukan terobosan solutif di masa seperti ini bisa kita sebut pahlawan super. Apalagi, jika usaha milenial tersebut dapat mendorong terciptanya kekosongan lapangan kerja yang diakibatkan oleh merosotnya ekonomi makro; tentu akan sangat bermanfaat. Ruang kerja tercipta dan mengurangi gelombang depresi karena PHK massal. Rakyat kembali mendapat daya beli dan ekonomi mulai menggeliat.

Sangat wajar dan logis apabila generasi lalu berharap dengan ekspektasi tinggi kepada generasi penerus. Sehingga, kealphaan generasi milenial dalam sumbangsih bangsa yang disinggung Bu Mega, merupakan perwakilan keresahan generasi lalu untuk generasi penerusnya. Kalau Soekarno adalah generasi yang mewujudkan kemerdekaan, Megawati adalah generasi penciptaan demokrasi melalui reformasi tahun 1998, generasi selanjutnya akan mengkaryakan apa? Harapannya: ekonomi.

Generasi milenial mampu melihat dan menciptakan sesuatu yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh generasi lalu. Maka dalam suatu negara yang berkembang, ia adalah ujung tombak dan roda depan yang menentukan kemana arah ekonomi negara ini untuk beberapa dekade ke depan. Idealnya, generasi milenial menemukan kecerdasan baru yang lebih sangkil dan mangkus.

Katakanlah Nadiem Makarim, yang sekarang terpilih menjadi menteri pendidikan dan kebudayaan di kabinet Jokowi pediode kedua ini. Tetapi jangan pandang Nadiem sebagai menteri, pandanglah ia sebelum itu. Bukankah sebelumnya Nadiem adalah milenial yang sangat kreatif yang mendirikan sekaligus menjadi CEO aplikasi ojek daring bernama Gojek? Mungkin saja, sumbangsih yang seharusnya diberikan milenial adalah seperti karya Nadiem tersebut.

…

Menyebut nama Nadiem Makarim menstimulasi saya untuk membandingkan pula, lebih tepatnya memberikan contoh lain, dengan pemuda milenial sukses lainnya. Sebut saja Ahmad Dzaky yang sebelumnya juga pendiri sekaligus CEO Bukalapak. Ada pula Rico Huang, anak muda penunggang Ferrari sebelum umur tiga puluh pendiri Alona. Selain itu, Dewa Eka Prayoga, dengan Billionaire Store dan beberapa bisnis lainnya. Bahkan kalau boleh, Gibran Rakabuming, putra dari presiden Jokowi sendiri, yang sempat mendirikan perusahaan rintisan dalam bidang kuliner dengan nama Markobar.

Baca Juga  Saya Bercengkrama dengan Istri Tentang Islam dan Perempuan

Bukankah nama-nama di atas adalah contoh sekaligus jawaban telak untuk Bu Mega bahwa milenial Indonesia sudah barangtentu memiliki banyak karya? Ya. Ternyata jika kita telaah, tidak sedikit generasi milenial yang sudah berkarya besar. Contoh-contoh itu belum termasuk puluhan ribu anak muda lainnya yang sedang menggerakkan bisnis atau usaha.

Maka dari itu, sudah saatnya generasi lalu percaya dan sepenuhnya mendukung dengan memberikan fasilitas dan daya; baik berupa aset atau investasi pada anak muda yang memiliki kreativitas. Daripada menanyakan sumbangsih, menekan dan meminta, lebih baik sediakan program yang memproteksi agar anak muda tidak selalu “tidur” ataupun “kebablasan” dalam langkah-langkahnya. Kalau perlu, buat seperti Silicon Valley yang ada di San Fransisco, AS. Bawa konsepnya ke negeri kita untuk membimbing dan memberikan mentoring kepada generasi milenial kita.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment