f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
di masa pandemi

Spiritual Education: Romantisme Guru dan Murid di Masa Pandemi

Suasana kelas pagi ini  tidak seperti biasanya, ramai diskusi dan saling sapa. Iya, inilah suasana kelas online perdana semester pertama di mana penulis berada di Jogja dan mahasiswa-mahasiswi berada di ragam tempat yang berbeda.  Seluruh pembelajar yang sedang  menempuh studi atau belajar pasti merasakan kondisi pembelajaran daring yang kami alami ini. Karena berada pada satu masa yang sama dengan kondisi yang sama, menjalani pola adaptasi terhadap keadaan yang saat ini berjalan.

Sungguh, kondisi seperti ini tidak ada yang pernah menyangka, bukan pula terjadi secara kebetulan namun semua hadir karena ijin-Nya. Sebagai seorang pendidik di satu perguruan tinggi di Yogyakarta, penulis merasakan bagaimana posisi mahasiswa-mahasiswi saat mulainya pembelajaran awal ini. Di mana proses penyesuaian banyak yang harus dilakukan.

Menyesuaikan diri dari proses seorang pelajar untuk beradaptasi menjadi mahasiswa. Ditambah lagi penyesuaian dari pembelajaran di masa pandemi saat ini. Siap tidak siap, harus disiapkan. Kesiapan perubahan yang dilalui mahasiswa-mahasiwi  ini terasa sekali saat penulis juga menjalani posisi yang sama sebagai mahasiswa di satu perguruan tinggi di kota Surabaya.

Hal apapun akhirnya membutuhkan satu penyadaran bahwa ada sesuatu yang hilang dari pembelajaran yang berjalan saat ini dari keadaan sebelum pandemi. Di mana pendekatan pembelajaran yang partisipasi aktif melalui keaktifan di kelas dan ragam kreativitas yang muncul di saat sebelum pandemi. Dan saat penulis tanyakan pada sejumlah mahasiswa, mereka juga merasakan perbedaan saat belajar di kelas didampingi Bapak/ Ibu guru. Lantas, Apa yang sebenarnya  berkurang dalam proses pembelajaran saat ini?

Sentuhan

Satu kata kunci yang kami simpan bersama adalah ‘sentuhan”. Sentuhan seperti apa? Makna yang dimaksud bukan bahasa fisik namun sentuhan yang dimaksud adalah bagaimana nilai yang terpatri bagi seorang guru dan murid. Ataupun bagi sesama murid yang dapat dirasakan dari munculnya pola asah, asih, asuh dalam pembelajaran. Ketiga pola tersebut dikenal sebagai bentuk dari spiritual education/ pendidikan spiritual. Kalau dalam pembelajaran di keluarga terpatri spiritual parenting. Maka hadirnya spiritual education sebagai bentuk pola pembelajaran guru dan urid yang dirasakan  berkurang di masa pandemi.

Baca Juga  Pandemi Covid-19 Membuka Wawasan Baru

Pendidikan spiritual  menghadirkan kelekatan antara kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani.  Bentuk kelekatan dari kebutuhan jasmani dan ruhani. Yakni bagaimana pola asuh dalam pembelajaran seperti adanya ruang konsultasi, interaksi (pola asuh pembelajaran). Selanjutnya pola asih di mana dalam pembelajaran seperti sekarang. Kami rasakan bagaimana upaya menciptakan suasana kasih sayang berupa perhatian, sapaan, sebagai suatu kebutuhan afektif yang sejatinya menghadirkan suasana ikatan batin antara guru dan murid sangat dibutuhkan dalam kelangsungan penanaman nilai. Artinya pembelajaran tidak sekedar gugur kewajiban.

Sebab proses ini berlangsung utuh terdapat internalisasi nilai yang diharapkan terpatri. Proses ini dapat diwujudkan melalui pembiasaan salam. Seperti dengan saling tersenyum sebagai wujud menguatkan antara satu dengan yang lain. Mengasah empati dan simpati dilakukan pula dalam ragam pola asah pembelajaran yakni memberi stimulus untuk tetap produktif, melakukan tadarus bersama, diskusi dan membuka ruang belajar tutorial khususnya dalam mengasah keterampilan. Ketiga hal tersebut diistilahkan sebagai pendidikan spiritual yang memegang peranan penting dalam pembelajaran.

Namun realitas saat ini seiring perubahan yang menyertai kondisi pandemi, ketiga hal tersebut dirasakan belum mampu hadir secara optimal seperti keadaan sebelum pandemi.  Nah, dari sinilah hal yang ingin penulis sampaikan dalam narasi pembelajaran bersama mahasiswa di masa pandemi.

Proses Pembelajaran

Hikmah yang hadir di masa pandemi saat ini sangatlah berlimpah utamanya menyangkut proses pembelajaran. Meyakini bahwa belajar sebagai suatu proses yang terus dijalani dalam kehidupan. Mencari ilmu menjadi pijakan bagi muslim sebab ilmu akan selalu dibawa ke manapun berada. Apalagi saat diamalkan akan menaikan derajat bagi siapapun yang mencari (QS Mujadalah 58:11).

Pijakan inipun semakin dikuatkan saat hikmah yang diberikan bagi siapapun yang berproses akan mendapatkan anugerah yang melimpah atas ilmu yang diamalkan (QS Al Baqarah 2:269). Hikmah tersebut berupa kemampuan untuk memahami hal tentang kehidupan. Tentunya untuk menjadikan manusia senantiasa dalam nikmat kesyukuran sehingga tidak ada kesombongan atas ilmu yang dimiliki. Dan hal inipun ditegaskan pula bagaimana perintah untuk membaca: “iqra” (QS Al Alaq ayat 1-5) menuntun manusia untuk terus belajar dan belajar.

Baca Juga  Pandemi dan Momentum Kebangkitan Umat

Landasan inilah yang menjadi penguatan bagi kami (guru dan murid) yang sedang menjalani proses pembelajaran di masa baru seperti sekarang. Adanya teknologi yang menjadi media pembelajaran virtual bagi guru dan murid, merupakan anugerah yang hadir di masa pandemi. Apabila dengan kondisi yang semakin membatasi mobilitas pertemuan guru dan murid dalam proses pembelajaran tidak terhubung dengan apa yang dinamakan teknologi.

Pembelajaran tentunya akan mengalami kendala signifikan dalam interaksi. Melalui teknologi inilah pembelajaran dapat dilakukan dengan jalur system online yang dibuat untuk memfasilitasi hadirnya komunikasi antara guru dan murid. Hadirnya kelas online melalui my Klass  contohnya sangat membantu pembelajaran.

Adanya my Klass yang kami rasakan sangat membantu pembelajaran baik  kelas jarak jauh dari kampus untuk bisa terakses ke daerah di mana mahasiswa mahasiswi saat ini tinggal. Meskipun keterbatasan itu pasti ada seperti kendala sinyal. Namun  setidaknya ikhtiar terus diperjuangkan. Meramu sebuah desain baru dalam hal pembelajaran baik dari kurikulum maupun teknis media pembelajarannya menjadi cita-cita bersama untuk format ke depan.

Strategi

Fasilitas yang ditampilkan dalam pembelajaran dapat diperoleh dengan mengakses materi kuliah misalnya dengan video tutorial yang dibuat dosen/guru kemudian terhubung ke tautan Youtube. Serta ragamnya kreativitas dalam media pembelajaran semakin membantu. Ragam inilah yang menguatkan dan meyakini bahwa proses pembelajaran dengan kondisi saat ini dapat dilalui bersama meskipun ada “sentuhan” nilai yang berkurang.

Bagi kami sebagai guru sekaligus murid, menyelami proses yang saat ini berjalan dengan ragam keterbatasan menghadirkan strategi untuk menyikapinya antara lain: komunikasi dalam proses pembelajaran kami lakukan melalui WAG, zoom meeting, ms team dan my Klass. Dengan koordinasi kelas online yakni hal yang menyangkut ujian kuis maupun diskusi online.

Baca Juga  Kepada Allah Tempat Kembali

Selanjutnya pengumpulan tugas selain melalui e-mail juga melalui my Klass dengan evaluasi pembelajaran sebagai sarana. Penulis meyakini bahwa proses yang dilalui memiliki ragam pendekatan dari setiap pendidik. Adanya lembar monitoring yang disampaikan secara daring menjadi evaluasi bersama.

Bagi penulis, peran sebagai pendidik sekaligus merasakan bagaimana menjadi mahasiswa sangat penting untuk dievaluasi khususnya tentang pembelajaran yang sedang dijalani. Sebab dengan evaluasi yang tercatat dan terekam nantinya akan menjadi diary yang dapat dijadikan cerita bagi generasi untuk merekam suatu kondisi sejarah yang berjalan. Diary ini akan mencatat perjalanan spiritual education yang dilalui bersama. Sehingga proses pembelajaran yang hadir saat ini juga menguatkan semua. Semoga..

Bagikan
Post a Comment