f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
wanita

Mahfud MD, Lelucon dan Ucapan Unfaedah

Oleh: Achmad Santoso*

Namanya pejabat, apalagi pejabat negara, apa pun yang diucapkan, itu kerap mendapatkan perhatian hingga menjadi bahan obrolan publik. Lebih-lebih ucapan yang sarat kontroversi. Itulah yang tengah dihadapi Menko Polhukam, Mahfud MD. Karena, dalam acara halalbihalal IKA UNS Selasa (26/5/2020), ia berujar seperti berikut:

”Judulnya itu dalam bahasa Inggris. Corona is like your wife. Korona itu seperti istrimu. Ketika kamu mau mengawini, kamu berpikir kamu bisa menaklukkan dia. Tetapi sesudah menjadi istrimu, kamu tidak bisa menaklukkan istrimu. Sesudah itu apa? Then you learn to live with it. Kemudian, kamu berdamai dengan dia.”

Candaan yang katanya diterima dari Lord Luhut yang mengibaratkan seorang istri dengan virus korona sebagaimana petikan di atas langsung memantik kecaman sejumlah pihak. Macam-macam kritiknya. Terutama datang dari aktivis perempuan. Komnas Perempuan, contohnya, menganggap sang menteri berwatak patriarki-misoginis.

”Guyonan tersebut menempatkan perempuan sebagai bahan ejekan dan mengukuhkan stereotip negatif terhadap perempuan. Atau, relasi yang timpang antara laki-laki dan perempuan serta memupuk budaya menyalahkan perempuan korban (blaming the victim).” Kata Komisioner Komnas Perempuan Dewi Kanti.

”Korona seperti istri yang sulit ditaklukkan. Adalah pernyataan misoginis yang tanpa disadari berkontribusi pada budaya menyalahkan perempuan ketika menjadi korban kekerasan,” sahut komisioner lain, Andy Yentriyani.

Perumpamaan yang Buruk

Fariz Alniezar, seorang pakar bahasa, memandang dari sisi linguistik bahwa candaan tersebut termasuk ‘bad language’. Tidak sepatutnya guyonan seperti itu keluar di forum resmi. Itu yang pertama. Yang kedua, katanya, metafora yang mengumpamakan virus korona dengan seorang istri merupakan perumpamaan peyoratif dan merendahkan perempuan.

Dalam wacana politik, metafora memang dapat memunculkan kesan macam-macam. Ada yang mengarah ke hiperbolis, ada pula yang sarkasme. Mahfud MD memunculkan varian lain: peyoratif. Peyorasi, menurut KBBI, merupakan perubahan makna yang mengakibatkan sebuah ungkapan menggambarkan sesuatu yang lebih tidak enak, tidak baik, dan sebagainya.

Baca Juga  Seandainya Kita Khusyuk dalam Salat

Istri dalam hal itu mengalami degradasi makna karena harus ditaklukkan sebagaimana upaya kita untuk mengalahkan, menundukkan, ataupun membasmi virus korona. Barangkali yang lebih tepat bukan (majas) metafora, melainkan (majas) asosiasi lantaran menggunakan peranti ‘seperti‘. Akan tetapi, dalam bahasa politik, yang lebih dikenal memang metafora. Baik metafora maupun asosiasi, keduanya sama-sama mengandung perumpamaan, persamaan, atau perbandingan.

Dalam perjalanannya, bahasa Indonesia sudah lumrah mengalami gejala peyorasi (juga ameliorasi). Menurut Ullmann (2014), peyorasi salah satunya disebabkan oleh prasangka manusia dalam berbagai bentuk. Kasus di atas mengafirmasi hal itu, bahwa ada prasangka yang kurang baik dari seorang laki-laki terhadap perempuan dengan mengibaratkannya laksana korona. Dengan kata lain, hal baik/netral diasosiasikan ke hal buruk. Inilah hakikat peyorasi.

Lelucon dan Ucapan Unfaedah

Memang sudah risiko pejabat publik, bahwa segala tindak tanduk dan tutur katanya, meminjam istilah Ivan Lain, digapili banyak orang. Oleh karena itu, bahasa yang disampaikan mesti tidak menimbulkan luka di hati masyarakat. Apa adanya. Tidak dibuat-buat dan tidak serampangan begitu saja. Tidak juga guyon yang tidak sesuai konteks.

Mahfud MD, rupanya, terjebak pada persoalan ini. Meskipun kelihatan berwajah serius, Mahfud dulu, sepengetahuan saya, memang galib menyelingi obrolan dengan bercanda atau melucu. Misalnya, saat ia suatu ketika ditanya apa arti MD di belakang nama Mahfud. Ia jawab itu berasal dari singkatan nama orang tuanya, Mahmodin.

Konon, dulu ada tiga nama Mahfud di sekolah. Agar mudah membedakan ketiganya, sang guru meminta dibubuhkan nama belakang dari ayahnya. Nah, Mahfud tampaknya merasa nama Mahmodin kurang keren sehingga disingkatlah jadi MD. ”Nama ini akhirnya terbawa sampai lulus sekolah,” katanya suatu ketika. Mahfud juga pernah melucu dengan mengutip pernyataan Gus Dur. ”Indonesia ini bukan negara agama, bukan pula negara sekuler. “Jangan-jangan Indonesia itu negara yang bukan-bukan”. Ujar Mahfud MD, saat masih menjabat ketua MK dalam kuliah umum ‘Membangun Konstitusi Negara yang Kokoh’ di ITB pada 2011 silam.

Baca Juga  Menjelajahi Ketimpangan Gender: Perbedaan Ideologi dan Dampaknya terhadap Pernikahan

Akan tetapi, lelucon teranyar sebagaimana disebut di atas sangat tidak pas karena mendiskreditkan pihak lain, dalam hal ini perempuan dan secara khusus istri. Dalam situasi pandemi korona, sepatutnya para pejabat membangun optimisme sekaligus menghindari bahasa-bahasa yang meresahkan masyarakat, sekalipun dalam bentuk candaan.

Melucu yang tidak pada tempatnya, tidak sesuai konteks, pula yang beberapa waktu lalu membawa YouTuber Indira Khalista dirundung warganet ketika menganggap remeh virus korona. Beberapa hari kemudian, ia meminta maaf lewat sebuah siniar. Karena bercanda, Ferdian Paleka lewat konten prank juga harus berurusan dengan polisi karena yang dibercandai tidak terima.

Dalam wajah lain, stafsus milenial Angkie Yudistira juga sempat ”terpeleset lidah” saat mengunggah status hoaks tentang korona. ”Di masa inkubasi, virus mungkin belum terdeteksi (ketika check-up). Tunggu sudah bersin-bersin atau batuk. Cek diri yang paling mudah seperti yang di Taiwan. Bangun pagi, tarik nafas yang dalam, lalu tahan 10 detik. Kalau batuk, kemungkinan besar segera ada tindakan,” bunyi status Angkie yang segera dihapus setelah ramai-ramai ditegur warganet.

Lord Luhut juga bikin meradang, karena mengatakan bahwa angka kasus Covid-19 di Indonesia ”masih lebih baik” daripada Amerika Serikat. Pernyataan itu dianggap tidak etis dan tidak arif karena hanya mengacu pada angka-angka statistik, mengalpakan perasaan para keluarga korban.

Dalam situasi pandemi seperti ini, yang dibutuhkan dari pejabat adalah sikap kehati-hatian, dalam menuturkan ucapan, sekalipun lelucon. Pun para pemengaruh (influencer) sebaiknya menyampaikan hal-hal positif di satu sisi, tapi juga jangan menutup-nutupi di sisi lain. Sehingga, lelucon dan ucapan unfaedah tidak menjadi sembilu di hati rakyat.

*Penulis adalah Editor Jawa Pos, Pegiat JIMM

Bagikan
Post a Comment