Perjalananku Meraih Pendidikan Tinggi (1)
Oleh : Ima Sri Rahmani*
Catatan saya kali ini, saya dedikasikan untuk anda yang merasa biasa saja. Merasa selalu sulit memahami pelajaran di dalam kelas. Merasa selalu tidak mampu dan lama ‘dong’ terhadap penjelasan yang disampaikan di dalam kelas. Yang merasa tidak percaya diri dengan kemampuan diri sendiri.
Situasi dan perasaan yang sama juga saya rasakan…bahkan kadang hingga kini.
Jika dibanding kawan saya di kelas yang lain, saya bukan TOP di dalam kelas. Saya butuh waktu lama untuk memahami. Meskipun kadang saya berfikir, tak selalu salah saya. Tapi tergantung guru yang menjelaskan materi di dalam kelas. Ada masa di mana saya cepat memahami, itu karena guru mampu menjelaskan dengan efektif.
Tapi saya sadari, dengan tes inteligensi-pun, kemampuan kognisi saya rata-rata saja. Saya bukan siswa yang selalu juara di dalam kelas yang cepat tanggap menyelesaikan tugas. Namun, berkat ketekunan saya bisa mengimbangi mereka. Dengan susah payah tentunya. Tak mengapa, yang penting nilai akhirnya sama.
Berjuang dalam Kemampuan Bahasa
Sejak kecil, saya harus berjuang dengan persoalan kemampuan bahasa saya. Saya gagap. Kadang, ibu saya memukul pantat saya agar saya dapat bicara dengan baik. Sungguh pengalaman yang tidak menyenangkan. Betapa tidak ? Saya tiba-tiba terhenti di tengah pembicaraan karena hanya kesulitan melafalkan SATU kata ! Ini membuat saya malas bicara. Takut menyampaikan pendapat terutama di dépan kelas. Satu satunya ‘moment’ yang paling menyenangkan adalah ketika saya diminta untuk bernyanyi di depan kelas. Mengapa ? Karena saat itulah gagap saya hilang seketika.
Ketika SD, saya selalu iri melihat teman teman yang memiliki nilai baik. Padaha saya sudah berusaha sekuat tenaga belajar. Menurut saya mereka keren sekali. Saya tak malu untuk bertanya dan mencari tahu bagaimana mereka belajar. Hingga memasuki masa SMP saya mulai menemukan ritme belajar saya.
Meskipun saya sadari waktu belajar yang saya lakukan harus lebih banyak dibanding mereka. Saya teringat ketika orang tua saya meminta saya untuk istirahat karena sudah larut hingga akhirnya mematikan lampu di kamar tidur saya. Tapi saya tidak kehilangan akal, saya belajar dibalik selimut dengan menggunakan senter sebagai penerang. Saya tida berhenti sebelum saya paham dan hafal pelajaran untuk esok hari.
Sibuk Belajar
Melihat saya yang sibuk sendiri dengan pelajaran di sekolah, Ibu saya khawatir hingga setiap malam Minggu rumah kami terbuka untuk Anak Anak di desa kami untuk menonton video. Saat itu, video adalah barang elektronik yang mewah, yang tidak setiap orang memilikinya. Selepas magrib satu persatu kawan kawan kecil saya masuk ke ruang tengah rumah. Tak sabar menantikan tayangan film india dan kung-fu yang jadi favorit kami. terutama Kung-Fu vampir yang membuat anak-anak tertawa atau India yang membuat mereka tegang sebelum polisi datang di akhir cerita. Tapi itu belum tentu membuat saya keluar dari kamar !
Saya merasa sangat asyik dengan buku-buku dan tugas sekolah! Saya pikir sekarang, saya cukup aneh. Tapi mungkin karena saya tidak terlalu suka menonton film. Kadang saya merasa itu perbuatan yang sia – sia, terutama ketika para artis itu muncul di televisi menceritakan proses pembuatan film tersebut. Saya merasa seperti dibohongi. Dan, film itu seperti tidak seru lagi. Jika ibu ibu yang lain meminta anak anaknya untuk belajar, ibu saya di rumah sebaliknya. Mungkin khawatir. Saya diminta untuk bermain dengan kawan yang lain.
Menikmati Kesendirian
Memasuki masa SMA saya temukan kawan dengan kecerdasan yang luar biasa. Di sini lah masa di mana saya merasa bahwa saya harus menerima keterbatasan intelegensi saya. Saya harus mengakui dan menerima bahwa saya tidak secerdas mereka. Saya harus mengakui bahwa bakat mereka luar biasa diberikan Allah dan tidak untuk saya. Ada perubahan cara berfikir yang cukup signifikan. Saya mulai belajar untuk menikmati nilai 5 untuk matematika, remedial untuk Bahasa inggris, Fisika, dan Kimia. Masa ini mengajarkan pada saya bahwa saya harus menemukan tempat saya sendiri.
Jujur, saya sebanarnya sangat suka ilmu Biologi. ilmu ini mengajarkan tentang banyak hal. Terutama tentang berbagai keajaiban yang dapat saya temukan di dalam tubuh saya sendiri. Dari kesenangan ini lah saya sangat bercita-cita dulu ingin menjadi dokter. Sejak SMA saya Sudan membeli buku buku kedokteran di toko loak (jika saya beruntung karena harganya biasanya mahal), atau di Gunung Agung jika saya punya kelebihan uang jajan. Dari ilmu Biologi ini lah saya diperkenalkan dengan ilmu yang lain seperti sejarah karena tak jarang di dalamnya bercerita tentang orang orang yang menemukan berbagai jenis nama bagian tubuh dan tanaman. Saya jadi menyukai cerita mitologi Yunani.
Bersambung

