f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
produk minimalis

Perempuan dan Gerakan Minimalis Wujud Menjaga Lingkungan

Mungkin kita pernah mendengar kalimat ini “aku berfikir, maka aku ada”, bagi mereka yang menganut konsumerisme. Dikutip dari master Tim Garuda Eduka  Tahun 2019, pengertian konsumerisme adalah paham yang menjadikan seseorang atau kelompok melakukan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan. Tidak sepantasnya secara sadar, dan berkelanjutan konsumerisme menjadikan manusia sebagai pecandu dari suatu produk, sehingga ketergantungan tersebut tidak mudah untuk dihilangkan.

Beragam produk menarik yang ditawarkan, kemudahan memilih barang dan bertransaksi, sampai pengiriman dalam waktu cepat, menjadikan perilaku gila belanja semakin menjadi-jadi.  Berbelanja barang baru telah menjadi gaya hidup baru. Dan dengan semakin mudahnya orang memperoleh fasilitas kartu kredit, tanpa sadar akhirnya banyak pula yang terjebak pada tumpukan utang karena tidak sanggup membayar cicilan.

Fenomena ini merupakan salah satu cara atau trik yang digunakan kapitalis dengan memanfaatkan pola hidup masyarakat untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Tidak jarang ada orang yang membeli sesuatu bukan karena butuh, tapi sekadar mengejar gengsi dan gaya hidup mewah.

Objek utama dalam hal konsumerisme adalah perempuan yang menurut mereka memiliki hasrat beli lebih tinggi daripada laki-laki. Bahkan menurut survei di Inggris, setiap enam puluh detik seorang wanita memikirkan tentang produk fashion. Atas dasar tersebut, rasanya kaum kapitalis sudah memiliki cukup alasan untuk memanfaatkan perempuan untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Dominasi kapitalis dengan media shopping catalogue berkaitan erat dengan simbolik eksploitasi terhadap perempuan.

Konsumerisme dan Perempuan

Konsumerisme saat ini menjadi salah satu perwujudan berkembangnya teknologi. Menurut teori Baudrillard, kini logika konsumsi masyarakat bukan lagi berdasarkan use value melainkan hadir nilai baru yaitu “symbolic value”. Maksudnya, orang tidak lagi mengkonsumsi objek berdasarkan nilai tukar atau nilai guna, melainkan karena nilai simbolis yang sifatnya abstrak dan terkonstruksi.

Baca Juga  Childfree: Pemahaman Tentang Kodrat (Sebuah Refleksi)

Hal ini karena beberapa bagian dari tawaran iklan justru menafikan kebutuhan konsumen akan keunggulan produk, melainkan dengan menyerang rasa sombong tersembunyi dalam diri manusia, produk sebagai simbol prestise & gaya hidup mewah yang menumbuhkan rasa bangga yang klise dalam diri pemakainya. Bahkan semboyannya adalah “Aku belanja, maka aku ada”. Stigma ini dengan berbagai hal yang melekat dalam diri perempuan. Makanan dan  fashion menjadi hal yang menarik bagi sebagian perempuan di era sekarang ini.

Membeli perlengkapan demi kepentingan fashion tak ubahnya membeli kebutuhan sehari- hari. Tapi faktanya, masih banyak baju, sepatu dan tas yang masih bisa digunakan. Namun, pengaruh iklan membuat beberapa orang mudah membangun kesadaran untuk membelinya meskipun itu barang pokok untuk di gunakan. Tren Fashion terbaru, diskon layanan belanja online turut menyumbang perilaku konsumtif masyarakat, terutama kaum perempuan. Namun perempuan sering mendapat stigma dengan adanya tren fasion mengikuti segala trend agar terlihat cantik, gaul dan fashionebel.

Bukan persoalan fashion saja, makanan juga menjadi daya tarik sebagai gaya hidup. Makanan dengan merek ternama misalnya. Menjadi posisi teratas yang dianggap lebih kekinian, mewah dan mahal.  Pilihan makanan juga menjadi status kelas bagi pembelinya. Bagi mereka yang makan makanan bermerek dan mewah tergolong sebagai masyarakat kelas atas.

Gaya Hidup Minimalis

Fenomena lain yang sering kita lihat, beberapa orang lebih percaya diri memposting makanan mewah dan bermerek di cafe atau restoran daripada dengan makanan di warung di pinggir jalan. Dari hal itu tidak semua tubuh manusia  bisa dan menerima makanan semacam junk food( makanan cepat saji). Mungkin saja tubuh kita lebih menyukai  makan nasi, sayur kangkung dengan tempe dan tahu. Namun kesadaran palsu yang dibangun demi status sosial membuat kita mengada- adakan sesuatu yang tidak perlu ada.

Baca Juga  Sejarah dan Syariat tentang Baju Lebaran

Erich Pinchas Fromm merupakan seorang psikologi sosial, sosiologi, humanisme, berkebangsaan Jerman mengomentari fenomena tersebut dengan menyebutnya sebagai,  “ketersaingan diri pada manusi moderen”. Gaya hidup seolah menjadi kebutuhan utama untuk sesorang mengikuti trend zaman. Fenomena ini seharusnya menjadi refleksi bersama sebagai perempuan yang memiliki kesadaran intelektual dan spiritual.

Seni hidup minimalis menjadi solusi untuk dilakukan sebagai cara untuk mengurangi potensi ketidakbergunaan benda yang kita gunakan. Hidup sederhana dengan mengurangi hal-hal konsumtif yang bisa memberikan banyak manfaat untuk kita. dari hidup lebih hemat, lebih mulai bersyukur pada yang kita miliki, lebih fokus pada hal-hal yang kita perintahkan, sehingga hidup menjadi lebih tenang dan tertata.

Minimalis memaksa kita merenung sebelum berkeinginan. Kita dilatih untuk menimbang berkali-kali sebelum mengambil  dan perbelanjaan, atau memilih barang yang perlu dan tidak perlu sekalipun gratisan. Kita terlatih memilih seminar atau kelas-kelas online mana yang perlu kita ikuti. Mau tak mau, hasrat akan sedikit demi sedikit terfilter.

Pola pikir dan gaya hidup minimalis yang sebenarnya adalah hidup yang penuh dengan kesadaran. Kesadaran akan kebutuhan yang benar-benar kita pesan, semisal kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan papan. Ketika kesadaran itu kita miliki, maka kesederhanaan dan aspek lainnya juga pasti akan tertanam dengan sendirinya. 

Islam tidak membatasi kepemilikan, tapi ajaran agama ini menganjurkan hidup secukupnya. Yang terpenting kemudian adalah, hidup minimalis akan membuat kita lebih menjaga lingkungan dan berbagi bumi dengan makhluk lain. Kesadaran semacam ini perlu kita rawat dan praktikan. Jangan sampai kihilangan diri dan kesadaran kita hanya karna trend dan mode. Bahkan dapak prilaku konsumtif menimbulkan masalah lingkungan sering kali terjadi akibat meningkatnya pola konsumsi masyarakat, baik itu terhadap makanan, pakaian, dan barang-barang lainnya.

Bagikan
Post a Comment