f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
webinar

Ngaku Kena Covid, Memang Salah Ya?

“Gila nih orang!”  spontan aku bicara sendiri, saat kulihat status Instagram temanku yang satu ini.  Bayangkan, di saat banyak orang menyembunyikan diri karena terkena covid eh dia malah bikin status di sosmed dan menkonfirmasi positis!  Aku jadi penasaran apa sih yang dia pikirkan? Seingatku, dia orang yang cukup bijak dalam bersosial media eh apa ini berarti sekarang dia kurang bijak?

Faktanya di lapangan, ada yang kena Covid ternyata sudah menanggung sakit, eh perlakuan orang-orang di lingkungannyapun tidak sebijak yang diberitakan. Ada sih tapi yang aku dengar mereka malah dikucilkan bahkan nyaris diusir oleh warga komplek karena ketakutan yang berlebihan dan tidak mendasar.

***

Aku penasaran dan mencoba menghubungi temanku itu.   Sungguh di luar dugaan, kukira akan mendapati nada suara yang pelan, lemah dan penuh kesakitan; yang kudengar dari mikropon teleponku adalah suara laki-laki dewasa yang ceria, bersemangat dan tak tersirat kalau dia sedang kena Covid!

 “Ternyata menyebalkan loh, kalau ditanya saat kondisi kita sedang parah-parahnya. Tapi waktu itu kan aku ngga mungkin juga marah atau ngatur pertanyaan orang”. Dia menjelaskan lebih jauh, seakan memberi sinyal kalau sekarang sudah okey ditanya-tanya.

Dan aku mendapatkan jawabannya dari temanku ini, kenapa dia malah berani melakukan hal tersebut?  “Aku mau kasih tahu ke orang-orang bahwa Covid itu memang ada, nih buktinya aku kena, aku juga mau agar orang-orang di luar sana semakin mawas diri dengan segala anjuran-anjuran yang disarankan  untuk diikuti saja karena kita tidak pernah tahu akhirnya terutama Orang Tanpa Gejala itu ada dan berkeliaran di dekat-dekat kita.”

***

“Jadi, kalian jangan bermain-main deh dengan Covid, tetap beraktivitas dengan menjaga diri karena itu berarati kalian perduli juga pada orang sekitar kalian,” jawaban itu diberikan oleh temanku dengan lancar tanpa jeda, membuatku semakin yakin bahwa dia memang bijak dalam bersosial media.

Baca Juga  Semoga Syahid Untukmu, Ayah

Terakhir ketika aku tanyakan kenapa dia memilih bergabung dengan penderita lainnya di mess ini padahal kan bisa memilih isolasi mandiri di apartemen yang dia miliki? Dia menjawab dengan sangat sederhana; “aku berharap, siapapun yang menderita Covid, memiliki kesadaran untuk bergabung saja dengan penderita lainnya di tempat yang sudah disediakan pemerintah.”

Mengapa? Karena dengan begitu kamu meringankan beban orang-orang yang kamu sayangi. Bayangkan kalau aku di apartemen, berapa kali keluargaku harus mengantarkan makanan maupun keperluan lain yang aku butuhkan. Belum lagi secara psikologis kamu merasa sendirian tanpa teman bicara berhari-hari?

“Nah kalau di sini aku tidak perlu sekhawatir saat di luar sana, aku juga bisa melakukan aktivitas bersama yang membuat aku tidak merasa sendirian misalnya dengan beribadah bersama, olah raga bersama dan yang terpenting masih punya teman bicara karena kita kan makhluk sosial, rasanya akan sangat tersiksa andaikan tidak bicara dengan siapapun dalam jangka waktu yang berhari-hari atau berminggu-minggu.” Begitu jawab temanku.

Sebelum aku menutup obrolan, temanku bilang  “tetap lakukan 3M  yaa, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak”.

“Jauhi dulu dech kumpul-kumpul dengan banyak orang, apalagi kalau judulnya hanya kondangan atau ngopi di mall, mending di rumah aja ya!”.

“Akhirnya, terjawab sudah apa yang aku pikirkan”.

***

Menurutku ga ada salahnya juga membuat status kena Covid di Sosmed, asal siap saja dengan konsekuensinya. Bisa direspon positif bisa juga sebaliknya, tergantung niat awal sebenarnya buat apa sih pasang status tersebut? 

Kalau aku sendiri, amit-amit jangan sampai juga sih kena Covid! Pilihannya mending ga pasang status, diam-diam saja tapi ikuti prosedurnya, misal berobat lalu mengisolasi diri sesuai arahan dokter. Lalu  melakukan hal-hal yang tidak merugikan orang lain seperti menjauhi diri dari kerumunan orang, berkegiatan sendiri dulu.

Baca Juga  New Normal, Solusi Pemerintah Hindari Ancaman Resesi Ekonomi?

Tapi kalau dipikir ulang kok kayaknya aku egois ya diam-diam sendiri, kenapa tidak ikut juga mengedukasi orang banyak dengan pasang status ?  Lalu dilanjutkan dengan memposting kegiatan positif apa saja yang dilakukan selama pengobatan berlangsung, kan lumayan ada manfaat juga buat yang sedang terkena musibah yang sama,  tapi bingung tidak tahu mau ngapain.

***

Ah yang pasti saat ini aku harus bersyukur, kenapa? Karena aku tidak terkena Covid 19, Alhamdulillah, “Terima kasih yaa Rabb”. Dan bagi yang sedang terkena semoga segera diberikan kesembuhan, tetap berpikir positif, terus beraktivitas dan bergerak. Jangan biarkan dirimu terbawa emosi lalu tidak membuat langkah yang salah.

“Kalaupun kalian mau pasang status tentang yang sedang kalian alami, pikirkan effectnya buat diri sendiri maupun orang lain, jika memang itu mengimbaskan kebaikan, ga ada salahnya kok, tetap semangat ya” .

Jadi teringat sebuah Hadits yang berbunyi  “Sebaik-baik manusia adalah  yang paling banyak bermanfaat buat orang lain” (HR, ath Thabrani) Nah ini rasanya lebih setuju, kita sebaiknya banyak memberi manfaat buat orang lain, bukan malah mengambil manfaat dari orang lain, termasuk dalam kasus memasang status kena Covid ini, “Ternyata, nggak salah juga kok ngaku kena Covid! Jika tujuannya untuk menjadikan pembelajaran”.  Menurut Rahmania bagaimana?

Bagikan
Comments
  • ER

    Setuju, got the point..thanks buat penulis, mengambil angle lain ttg bijak bermedsos meski ttg hal yg sedang dihindari org lain saat ini, salam sehat selalu💙💙

    November 26, 2020
Post a Comment