f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
corruption

Milad Muhammadiyah; Virtual dan Kemanusiaan

Tepat pada 18 November 2020 salah satu organisasi tua dan terbesar di Indonesia, Muhammadiyah berusia 108 tahun. Sebuah usia yang sangat prestisius dengan jejak aktivitasnya selama ini dalam membangun negeri.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Pimpinan Pusat Muhammadiyah kembali merayakan ‘’Milad 108 Muhammadiyah’’. Namun berbeda dari tahun sebelumnya, kali ini kita semua sedang dihadapkan Pandemi Covid-19; sehingga demi kebaikan bersama, perayaan Milad Muhammadiyah dilaksanakan melalui virtual dan dapat diakses di beberapa kanal Muhammadiyah.

Meskipun demikian, euforia warga Muhammadiyah dalam menyambut Milad Muhammadiyah 108 ini tetap antusias; terbukti jagad maya dipenuhi konten-konten semarak Milad Muhammadiyah, bahkan di Twitter tagar #TerimakasihMuhammadiyah menjadi trending topik nomor satu, dari siang hari dan bertahan hingga malam.

Pilihan merayakan virtual ini sekaligus menjadi komitmen Muhammadiyah sejak awal untuk melawan Pandemi Covid-19, yang sepanjang tahun 2020 ini sangat mengurai air mata kesedihan; karena banyak saudara-saudara kita yang menjadi korban (meninggal dunia) akibat pandemi. Sebagaimana update tertanggal 17 November 2020, angka kematian di Indonesia mencapai 15.393 korban meninggal dunia.

Maka pilihan merayakan Milad Muhammadiyah secara virtual bukan hanya sebatas pilihan sederhana; tanpa ada tujuan yang ingin dicapai. Melainkan, konsistensi Muhammadiyah yang sejak awal menyatakan perang terhadap Pandemi Covid-19.

Virtual dan Kemanusiaan

Sebenarnya, sepanjang tahun 2020 ini banyak perhelatan akbar yang semula direncanakan akan dilaksanakan pada tahun 2020; salah satunya Muktamar Muhammadiayah di Surakarta yang ke 48 di bulan Juli kemarin. Namun karena pandemi, hajatan lima tahun sekali tersebut harus mundur dengan pertimbangan potensi penularan Covid-19 yang sangat besar.

Karena itu, pilihan untuk merayakan Milad Muhammadiyah secara virtual seperti diundurnya Muktamar Muhammadiyah ke 48; adalah karakter da’wah Muhammadiyah yang menggembirakan dan mencerahkan. Muhammadiyah dapat bersikap lebih dewasa dengan menurunkan egoismenya; sekaligus sebagai ikhtiar perjuangan Muhammmadiyah dalam dukungan moril terhadap tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan untuk melawan Pandemi Covid-19.

Baca Juga  Pendidikan Seks: Antara Kebutuhan dan Permasalahannya

Seperti yang dikatakan oleh Buya Syafii Maarif (Fanani : 2018) “Alasan yang paling logis yang menjadikan Muhammadiyah tetap mampu berkiprah, dan menyumbangkan sesuatu yang bermanfaat bagi umat Islam dan bangsa Indonesia adalah kecerdikan memilih visi dan misi gerakannya”. 

Maka sudah tepat apabila Muhammadiyah mengkritik Pemerintah yang tetap melanjutkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada Desember 2020 mendatang. Yang sebenarnya sangat berpotensi menimbulkan klaster Covid lainnya. Begitupun acara keagamaan yang dilaksanakan oleh salah satu kelompok di ibu kota yang turut menghadirkan kerumunan massa; padahal belum lama DKI jakarta ‘’menarik rem darurat’’ karena jumlah angka kematian semakin tinggi khususnya di Ibu Kota.

Ikhtiar Kemanusiaan

Dari kedua kasus ini, Muhammadiyah ingin mengingatkan bahwa tidak ada yang lebih utama dibandingkan kemanusiaan.

Jika kita refleksikan, aktivitas politik akhir-akhir ini yang dipertontonkan oleh elite jauh dengan nilai kemanusiaan dan nilai keadilan. Mulai dari mengesahkan suatu produk Undang-undang yang sarat akan kepentingan kelompok; kriminalisasi petani dan masyrakat adat yang menolak tanahnya digusur; hingga pembungkaman ruang-ruang demokrasi oleh negara terhadap masyarakat sipil yang selalu dilakukan dengan cara kekerasan dan berujung kematian.

Fenomena lainnya perihal corak agama yang “ekstrim”, yang harus segera ditinggalkan sebelum menjadi kaum Khawairij yang baru. Corak agama yang hanya mengutamakan emosional semata tanpa melibatkan akal pikiran akan menggiring ummat ke arah jurang konservatik agama.

Agama harusnya menjadi basis solusi ditengah Pandemi ini. Agama harus hadir dengan corak yang damai tidak menakut-nakuti. Sebagaimana dahulu, K.H Ahmad Dahlan menyebarluaskan agama Islam di Kauman yang memberantas “TBC” dengan akal pikiran bukan emosional atau kekerasan.

Ulama dan ustad harus tampil sebagai pesohor kedamaian di tengah kalang kabutnya ummat menghadapai pandemi, bukan sebaliknya. Maka tak pantas seorang ulama atau ustad yang tampil di publik dengan corak yang kasar dalam melakukan ceramah. Karena tegas dan kasar adalah sifat dan laku yang sangat berbeda.

Baca Juga  Meraih Keabadian dalam Kehidupan yang Fana, Mungkinkah?

Seremoni Milad Muhammadiyah kali ini yang dilaksanakan secara virtual bukan cuman sebatas riasan, tetapi juga mengusung dan menegaskan prinsip dasar muhammadiyah yang selalu mengutamakan kemaslahatan bersama.

Sebagaimana tema yang diangkat oleh PP Muhammadiyah “Meneguhkan Gerakan Keagamaan Hadapi Pandemi dan Masalah Negeri”. Lagi-lagi Muhammadiyah diuji sebagai organisasi yang sudah mempunyai rekam jejak fantastik dalam membangun kemajuan negeri.

Konsisten mengusung dakwah pencerahan, dari Muhammadiyah kita belajar bahwa tidak ada yang lebih tinggi dari kemanusiaan. Bahkan kegiatan agama pun harus ditiadakan jika itu memberikan kemudaratan terhadap ummat. Sekali lagi, selamat Milad Muhammadiyah.

Bagikan
Post a Comment