f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
penampilan menarik

Metamorfosis Makna Penampilan Menarik

“Aku insecure kalau penampilan begini, bagaimana mau berpenampilan menarik, skincare mahal,” ujar salah satu remaja di suatu kafe daerah Bekasi.

Saya sempat kaget, beberapa kali saya mendengar sekumpulan remaja yang sudah merasa “khawatir” dengan penampilan mereka. Dan ini terjadi bukan hanya kepada perempuan, namun juga remaja laki-laki yang mengeluh karena penampilan mereka “biasa saja”.

Memang, beberapa tahun terakhir, banyak sekali remaja bahkan anak-anak muda yang merasa tidak percaya diri atau insecure memiliki penampilan yang biasa-biasa saja. Padahal saya melihat mereka memakai pakaian bermerk yang cukup mahal dan pakaian yang mereka pakai pun serasi dari pada saya yang hanya memakai kaos polos yang memiliki harga sama dengan nasi padang.

“Duh ***** (menyebutkan nama artis), sudah pintar, cantik pula,” lanjutnya sambil memperlihatkan beberapa artis yang lewat di beranda media sosial mereka. Dalam hati saya juga bergumam pantas saja, mereka merasa insecure padahal mereka sudah menjadi dirinya yang terbaik.

Framing Media : Awal Metamorfosis Makna Penampilan Menarik

Saya pernah melihat sebuah meme di Instagram, kurang lebih begini isinya : Negara A : gigi gingsul; Negara B : bentuk wajah V; Negara C : hidung mancung; sedangkan negara ini : hidung mancung, wajah putih merona, tidak jerawatan, tidak gemuk, tidak ada kerutan.

Berubahnya atau bermetamorfosanya makna penampilan menarik karena media berhasil melakukan framing makna dari penampilan menarik. Kita bisa lihat, di berbagai media misalnya film atau sinetron menampilkan standar penampilan menarik dengan seorang artis yang tinggi, putih, langsing dan tentunya mulus.

Belum lagi, media mempromosikan artis-artis impor sehingga kebanyakan anak-anak remaja membayangkan penampilan mereka secara berlebih. Misalnya perilaku berkhayal menjadi pasangan artis impor tersebut membuat orang yang berkhayal akhirnya memiliki standar tinggi untuk penampilan pasangannya kelak. “pasangan aku nanti, setidaknya mirip si a” yang akhirnya, banyak yang terjebak dalam tidur panjang.

Baca Juga  Upaya Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan

Framing media yang menaikkan standar penampilan menarik juga disambut oleh merek-merek obat kecantikan. Mereka menampilkan orang-orang yang seakan sempurna dalam penampilan. Mulai dari perawatan wajah, kulit, hingga obat diet untuk mewujudkan mimpi penampilan menarik tersebut.

Akhirnya, mereka berhasil menjual “mimpi” dengan harga yang mahal dan melakukan sugesti kepada masyarakat khususnya anak-anak remaja, jika memakai produk mereka maka mereka akan putih, langsing dan cantik atau tampan.

Kendala berikutnya, karena mimpi tersebut harus tercapai namun ternyata harga obat-obat untuk menjadi penampilan menarik tidaklah ramah kantong, akhirnya muncul produk sangat terjangkau namun memakai bahan-bahan lain yang membahayakan sehingga orang-orang yang bermimpi berpenampilan menarik terkena masalah kesehatan bahkan ada yang harus mengubur dalam-dalam mimpinya itu.

Memang masalah penampilan menarik ini terlalu dibesar-besarkan oleh media dan juga disambut oleh pengusaha-pengusaha dalam mendapatkan cuan. Tapi sayangnya, masyarakat khususnya anak-anak usia remaja belum sadar akan framing yang berlebihan. Sehingga standar penampilan menarik sangatlah tinggi seperti bintang di langit.

Tak hanya itu, dunia kerja pun beberapa tahun terakhir mengikuti pergeseran makna penampilan menarik. Hampir semua lowongan pekerjaan mencantumkan syarat pelamar kerja harus berpenampilan menarik.

Ada contoh yang pernah teman saya alami, menurut saya ia memenuhi persyaratan tersebut. Ia bercerita saat proses interview, ia cukup berpenampilan menarik dengan kemeja putih, jas hitam, dasi, celana, rambut klimis hingga sepatu pantofel yang gagah. Semua teman-temannya sepakat ia berubah menjadi sangat menarik.

Namun, ketika ia kembali dari interview, ia menggelengkan kepala. Kita serentak bertanya kenapa? Ada yang lebih ganteng, putih, tinggi dan badannya agak besar yang terpilih. Padahal teman saya ini juga cukup tinggi, putih dan saya mengakui ia lebih ganteng dari saya.

Baca Juga  Catatan Awal Tahun : Membumikan Risalah Immawati Berkemajuan

Saat itu, kita semua berkelakar “Lo saja enggak keterima, apalagi kita,” dan akhirnya kita semua sadar bahwa standar penampilan menarik dalam dunia kerja juga begitu tinggi. Dan ini berdampak pada sulitnya HRD mencari karyawan bahkan enggannya pencari kerja melamar pekerjaan yang syaratnya harus berpenampilan menarik.

Membendung Framing Media dan Mengembalikan Makna

Penampilan menarik sangatlah berpengaruh dalam kehidupan. Gagasan tentang apa yang merupakan penampilan yang diinginkan bagi pria ataupun wanita mempengaruhi kehidupan individu dan kelompok sosial (Sherrow 2001).

Makna sebenarnya penampilan menarik adalah Good Grooming, yang menurut Ludfi Orbani adalah “suatu keadaan individu di mana terdapat keserasian, kerapian dan keharmonisan dalam penampilan fisik (physical appearance) (Widiantono 2019).

Kuncinya penampilan menarik adalah keserasian, kerapian, keharmonisan dalam penampilan fisik. Bukan standar berkulit putih, langsing, hidung mancung. Tapi serasi dan rapi sehingga jangan berlebihan dalam berpakaian.

Agar kita dapat membendung media tentang standar penampilan menarik, setidaknya diawali dengan rasa syukur. Sehingga kita tidak perlu bermimpi terlalu jauh untuk menjadi seseorang yang memang ditakdirkan memiliki kulit putih atau hidung mancung.

Berikutnya, tentu kita harus melawan framing media tentang standar penampilan menarik harus berdasarkan fisik. Seperti kulit putih dengan makna keserasian antara pakaian hingga kerapian seseorang.

Ada juga beberapa orang yang menganggap penampilan menarik itu bukan hanya berkulit putih saja, tetapi energi yang dihasilkan dan diserap oleh hati maupun pikiran yang ada di sekeliling kita. Bahkan standar penampilan menarik di tiap negara berbeda.

Terakhir, kerja sama semua pihak agar tidak selalu termakan informasi media begitu saja. Media pun harus bisa mengubah standar penampilan menarik itu sendiri sehingga tidak banyak masyarakat yang “jatuh” ke lubang masalah kesehatan akibat salah persepsi tentang penampilan menarik.

Bagikan
Post a Comment