f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
dakwah digital

Merestorasi Dakwah dalam Konstruksi Paham Moderat

Permasalahan bangsa saat ini semakin pelik dan kompleks. Kebutuhan terhadap dakwah dengan kreatifitas metode kian mendesak. Di tengah kecamuk fenomena internal umat dengan tranding isu kebangsaan yang mencuat, dakwah menjadi oase kehangatan menjaga persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Perubahan dan permasalahan yang terjadi secara tidak langsung menuntut restrukturisasi dakwah agar bisa menyesuaikan dengan kecenderungan yang ada. Islam yang dinamis telah berafiliasi beriringan dengan legitimasi kultural bangsa berhasil menjaga persatuan, daripada konflik internal negara lain yang kian memanas akibat latar perbedaan, wacana rasisme dan arogansi struktural.

Namun, merestorasi metode dakwah berikut pemahaman substansi materi dakwah tetap menjadi suatu keniscayaan. Keberhasilan bukan menjadi alasan para mujahid kebangsaan jatuh pada konservatisme dakwah tanpa kreatifitas baru yang nantinya Islam akan runtuh di tangan mereka. Dakwah tidak ubahnya representatif konsep keagamaan, bagaimana relevansi Islam tetap konsisten dan eksistensif dalam mengawal permasalahan umat di tengah perubahan yang semakin kompleks.

Diskursus Perubahan

Diskursus perubahan dalam tatanan sosial menjadi alasan primer bagi semangat kemanusiaan terus hidup eksis di dunia (legal survival). Setidaknya, dalam korelasinya dengan perubahan, dua varian motivasi memacu manusia yang menentukan posisi subjek-objek dalam suatu konstelasi pacu perubahan.

Pertama, sifat naluriyah memacu mereka sendiri yang bersemayam secara instriksional dalam jiwanya: keserakahan dan rasa tidak cukup (Dinosyan). Dalam varian ini, manusia berperan sebagai subjek memodifikasi keadaaan sesuai dengan kehendaknya. Kita dapat mengambil contoh dari kemudahan yang diciptakan manusia dengan personifikasi mesin teknologi yang terdapat dalam dunia industri. Kepentingan ekonomi telah memacu kesadaran manusia untuk merancang dunia dengan alat.

Kedua, peran objektif di mana keadaan menuntut adanya kesadaran manusia untuk mengikuti perubahan yang dikehandakinya. Dalam varian yang kedua, manusia menjadi objek perubahan. Imperatif perubahan yang dibawanya bukan tanpa sebab. Keadaan yang demikian terjadi secara alamiyah dengan menunjukkan gejala implikatif dari perbuatan manusia. Tuntutan perubahannya membentuk nilai evaluasi fenomenologis bahwa ada roda sosial yang dimainkan oleh manusia membentur tatanan alamiyah dan kehendak ilahiyah. (Samoel Koening, 2003)

Baca Juga  Cegah Stunting Melalui Inovasi Senam dan Variasi Makanan

Saat ini permasalahan bangsa kerap kali berkedok agama. Dengan wujud koersif dan janji manis kemajuan, distorsi tafsir dakwah kembali bermunculan sebagai legitimasi revolusi yang mereka inginkan. Radikalisme yang berimplikasi pada ekstrimisme paham, purifikasi khilafah, separatisme kedaulatan dan konflik lokal akan terus membayang-bayangi. Sejauh ini pergerakan radikalisme cukup berjalan secara apik dan sistematis karena bisa mengeksplor ihwal perubahan.

Dalam periode 2021 saja, berdasarkan data Kepolisian Republik Indonesia, Polri berhasil mengamankan 392 orang yang disinyalir jaringan teroris dan terlibat dalam 26 kasus tindak pidana ekstrimisme dan terorisme di berbagai wilayah Indonesia. Dengan nominasi yang masih tinggi menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi territorial subur bagi kembang-biak aliran radikalisme. Fakta ini menyisakan pertanyaan besar bagi kita, “Apa yang kurang dari ikhtiar penanggulangan (?)”

Mencetak Mujahid Digital

Jika ditelisik, radikalisme dengan bergaragam varian senada dianggap musuh bersama (negara). Ancaman radikalisme telah banyak melahirkan lembaga formal atau informal khusus seperti BNPT atau BNTE-MUI, regulasi dan undang-undang spesefik yang mengualifikasi radikalisme secara khusus dan komitmen antarumat sebagai bagian dari ikhtiyar bangsa. Namun, intensifikasi penanggulangan dan entitas komitmen umat masih belum bisa mengentaskan permasalahan ihwal radikalisme.

Radikalisme selain menjadikan episteme jihad sebagai legal doktrinal terhadap anak-anak dan perempuan. Memanfaatkan media sosial sebaik mungkin menjadi salah satu jejaring masa dalam membangun isu kebohongan (hoax), adu domba dan menebar narasi kebencian. Segala starategi pergerakan, disisipkan secara terstruktur dalam jejaring media. Analisis perubahan ini seharusnya menjadi kontansi solutif terhadap kebutuhan bangsa: Mencetak mujahid digital.

Dakwah di ruang maya sebenarnya bukan hal yang baru. Banyak lembaga sudah menggalakkan para dai digital mengingat ruang maya terus menjadi isu bersarangnya wacana paham keislaman. Banyak pihak yang menilai, termasuk ormas keagamaan, bahwa Islam washatiyah yang merupakan paham mainstream di Indonesia sudah tergolong minoritas dan cenderung termarginalkan di dunia maya.

Baca Juga  Dakwah dalam Perkembangan Dunia Digital

Sejak dulu terus menggalakkan Islam washatiyah menjadi konsep keagamaan. Islam washatiyah adalah kebutuhan, relevan dalam menghargai perbedaan. Darinya lahir wawasan kebangsaaan, konsep moderasi bergama, pluralisme dan multikulturalisme yang memungkinkan misi persatuan tetap terjaga dalam bingkai perbedaan. Namun ketika masuk dalam dunia digital, washati keislaman menjadi minoritas bahkan kelompok tertindas. Meminjam istilah Ketua Komisi Infokom-MUI, Drs. Mabroer, “Islam wasathi itu pemilik negeri ini, namun mengapa menjadi tamu asing di rumahnya sendiri,”

Mujahid digital merupakan delegasi da’i yang di pundak mereka terdapat paham keagamaan yang fitrah dan penuh kedamaian. Mujahid digital sendiri sebenarnya bentuk implimentatif dari konsep amar makruf nahi munkar di ruang maya: meluruskan paham yang menyimpang dan menguatkan washatiyah keislaman, di samping juga memerangi hoax yang beredar dengan rasionalitas berfikir sesuai dan paham moderasi keagamaan.

Potensi untuk mencetak mujahid digital tentu memiliki banyak peluang. Mengingat potensi dan antusias pemuda Islam di Indonesia dalam menebar kebaikan melalui media dakwah digital sangat besar. Hal itu dapat terbukti dengan besarnya antusias pemuda kita dalam wisuda da’i (mujahid digital) yang Majelis Ulama Indonesia kukuhkan(Januari, 2021). Periode pengukuhan pertama sudah terdapat 360 mujahid yang tersebar di seluruh Indonesia. Setidaknya bersamaan dengan menyebarnya paham radikalisme, ghirah keagamaan pemuda masih tinggi turut serta mewarnai corak keislaman dan peradaban Islam di dunia.

Tentu kita semua berharap semangat transformasi Islam washatiyah ke dunia maya bersamaan dengan kesadaran kolektif masyarakat. Harapannya mujahid digital bisa mengisi ruang-ruang dakwah di dunia maya mengingat tantangan yang semakin besar ke depan. Multipaham mulai ekstrimisme, hoax sampai fundamentalisme sudah berakar dengan kuat melalui jejaring digital. Mujahid digital harus tetap bersinergi dakwahkan Islam dengan narasi washati. Wallahu A’lam.

Baca Juga  Penarik Rezeki di Era Pandemi

Bagikan
Post a Comment