f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kawin

Merdeka dari Islamisme

Pada 16 agustus 2020, detik-detik peringatan kemerdekaan Indonesia; islamina.id sebagai salah satu platform rujukan islam Indonesia  yang menghadirkan wacana-wacana islam terbuka, damai, dan konstruktif menggagas webinar dan bedah bulletin “Merdeka dari Islamisme.” Topik yang berani dan anti mainstream di tengah refleksi-refleksi kemerdekaan. Menurut moderator, alasan mengangkat tema ini di usia 75 tahun Indonesia, karena belum bisa bebas dari islamisme. Bagaimana gerakan ini telah mempropaganda sehingga terjadi ketidakharmonisan di Indonesia.

Diawali  sambutan dari Sudjatmiko, Kasubdit Kontra Propaganda BNPT yang mengatakan sesuai amanat UU No.5 Tahun 2018 tentang tindak pidana terorisme ditindaklanjuti dengan strategi maupun pendekatan-pendekatan soft approach khususnya dalam menangani paham-paham radikalisme yakni partisipasi publik, dan kearifan lokal, termasuk webinar ini.

Beliau melihat islamisme yakni penggunaan islam sebagai bungkus dari agenda politik untuk kekuasaan semata bukan ajaran agama islam itu sendiri. Dan juga sepakat dengan pendekatan yang dilakukan islamina.id ini karena lebih kepada pembahasan-pembahasan secara mendalam sesuai tema-tema yang diperlukan.

Webinar seperti ini sangat baik disuarakan bersama untuk mengisi ruang-ruang publik, kampus, BUMN, dan sekolah-sekolah agar menjadi suatu strategi pencerahan secara terus-menerus. Apalagi radikalisme di dunia maya kian mengkhawatirkan sehingga media sosial menjadi wilayah strategis untuk diberi perhatian khusus oleh BNPT.

****

Narazoomer pertama oleh Suaib Tahir selaku Direktur Damar Institute juga berprofesi sebagai Dosen. Membahas “Potret Islamisme di Negara Timur Tengah”. Ada tiga faktor terkait munculnya islamisme yang masih eksis sampai sekarang terus berjuang untuk menguasai pemerintahan.

Pertama, romantisme masa lalu. Tokoh-tokoh muslim pada saat itu seperti di Libya, aljazair, syiria yang berhasil melakukan perlawanan terhadap penjajah, dan mampu menghimpun kekuatan untuk kejayaan Islam membuat penjajah takut terhadap mereka.

Baca Juga  Tiga Hal yang Sulit Ditemui pada Anak Muda

Kedua, mendorong lahirnya kelompok-kelompok islam ekstrim untuk melawan kebijakan pemerintah negara barat seperti Inggris, dan Amerika yang menempatkan kembali warga Yahudi di Palestina juga perjanjian damai Israel-Mesir menyebabkan menguaknya gerakan-gerakan ekstrem islamisme untuk menduduki pemerintahan. Ketiga, masalah revolusi Iran, menjadikan motivasi kelompok-kelompok islamisme semakin gencar agar mereka bisa berkuasa. Selain itu terjadi perekrutan besar-besaran seperti di Afganistan, dan Mesir sehingga melahirkan banyak kelompok-kelompok islamisme.

****

Narazoomer kedua oleh Abdul Gaffar Karim, kolumnis yang berprofesi sebaga Dosen Fisipol UGM. Membahas “Potret Islamisme di Indonesia”. Dari segi ontologis sudah sangat bagus membahas di bulletin melihat bagaimana peningkatan radikalisme yang sangat konkret seperti peristiwa politik elektoral. Secara epistemologis, ada sedikit problema terkait definisi kita melihat islamisme sehingga bisa membuat tidak tepat menangani persoalan islamisme dan radikalisme. Sebelumnya, penting bagi kita untuk merdeka “tentang” islamisme karena pemaknaan tentang islamisme sangat terjajah oleh narasi besar yang tidak akurat.

Islamisme adalah paham yang meyakini komprehensif islam bahwa islam itu bukan cuma dasar bagi kehidupan individu, tapi juga  kehidupan masyarakat, dan kehidupan ketatanegaraan. Oleh karena itu islam memadai untuk diformalkan menjadi ideologi negara. Islamisme, radikalisme, dan kekerasan saling berhimpit. terkadang muncul bersamaan tapi secara konseptual bisa dibedakan.

Tidak selamanya islamisme adalah radikal, radikalisme tidak selalu berbumbu kekerasan. Islamisme adalah masakan, radikalisme adalah cara penyajian, dan kekerasan adalah bumbunya. Dari ranah akademik, perlu menata lagi epistemologi tentang islamisme; memilah tingkat konsep bahwa islamisme berbeda dari radikalisme, dan kekerasan sehingga bisa ditangani secara tepat.

****

Narazoomer ketiga oleh Kalis Mardiasih, kolumnis sekaligus penulis buku. Membahas “Potret Islamisme di Kalangan Millenial.” Tahun 2008 film ayat-ayat cinta adalah film islami pertama di Indonesia. Mendefinisikan bagaimana potret laki-laki dan perempuan islam ideal yang membuat pengaruh besar islamisme di kalangan anak muda hijrah. Sekarang dengan pesat merambah ke dunia film, sosial media, festival, buku, website, dll.

Baca Juga  The Power of Mother: Sosok Ibu Menjadi Penentu Masa Depan Seorang Anak

Kita harus melihat fenomena hijrah secara utuh; bagaimana elit, artis, masyarakat awam, dan basis anak muda memepengaruhinya. Tentang penyajian data perempuan jilbab dan tidak berjilbab; misalnya perempuan pakai jilbab, menurutku itu islamisme because of humality, merasa enak dan lebih nyaman pakai jilbab. Tapi tidak punya konotasi politis apa-apa. Tetap memilih Pancasila, bukan partai islam.

Tantangan di kalangan millennial yaitu eksklusivisme dan ekstremisme. Saya membaca data 10 % kelompok anak muda setuju menjadikan Indonesia sebagai negara Islam, dan boleh menggunakan kekerasan untuk membela agama. Kecenderungan ini terjadi karena mereka terpapar situs-situs atau akun di sosial media yang beraliran intoleransi atau radikalisme yang diklaim cukup menarik dari segi konten.

Ketika mereka mencari panutan di youtube muncul ustaz-ustaz medsos yang keilmuannya kosong tapi bahasanya renyah, dan heroik. Sehingga menjadi PR bersama agar kelompok-kelompok islam moderat seperti NU dan Muhammadiyah memperbanyak konten-konten yang disukai anak muda seperti percintaan, dan pencarian jati diri.

****

Benang merah yang dapat saya ambil dari webinar ini adalah bagaimana pemahaman agama yang kontekstualis sangat menguasai ruang publik. Para islamisme ini bersatu dan bergerak karena suatu bentuk gerakan moral, intelektual dan massa. Besar kecilnya gerakan mereka sangat bergantung pada kondisi sosial, ekonomi dan politik. Misalnya ketika kondisi sosial-ekonomi sedang krisis, maka muncullah ide-ide tentang idealnya seperti dulu ketika Nabi membuat negara Islam, masyarakat harus sesuai aturan islam untuk mencapai kesejahteraan.

Tapi, ketika kondisi sosial-ekonomi membaik, masyarakat yang berpikiran untuk mencari alternatif negara Islam ini tidak akan menguat karena sistemnya sudah cukup baik. Ideologi islamisme combo (islamisme, radikal dan kekerasan) inilah yang perlu dilawan dan pemahaman mereka perlu ditekan.

Baca Juga  Milenial dan Kebutuhan Keuangan Syariah; Edukasi Pasar Modal Syariah dengan Target Financial Freedom

Perbanyak kajian islam moderat di institusi pemerintahan, perguruan tinggi, sekolah-sekolah, dan ruang-ruang publik lainnya. Jangan kasih panggung buat orang-orang islamisme combo ini. Jelas, bukan hal yang mudah untuk melawan, dan menekan mereka yang jumlahnya semakin hari semakin bertambah karena kemunculan tokoh-tokoh baru, seperti mati satu tumbuh seribu.

Walaupun infiltrasi islamisme ke mana-kemana, saya menganggap bahwa islam Indonesia yang moderat inklusif seperti diwakili ormas islam mainstream bukan hanya NU dan Muhammadiyah; tapi banyak ormas islam lain dari Sabang sampai Merauke yang tak bisa dikalahkan. Tak ada satupun yang berhasil membesarkan gerakan negara islam di Indonesia. Karena spirit islam utuk mengalahkan distorsi islamisme, maka setiap muslim mesti memikul tanggung jawab personal demi pembaharuan dan regenerasi moral, sosial, ekonomi, dan politiknya. Beruntunglah bagi kelompok islam yang dapat menjadikan Pancasila sebagai dasar negara.

****

Merah putih benderaku

Beragam suku dan agama dalam negaraku

Mari kita semua bersatu

Untuk membangun Indonesia yang maju

Dirgahayu Republik Indonesia

Sekali merdeka tetap merdeka!

Bagikan
Post a Comment