Pacaran yang Positif? Mana Ada!
Pacaran menjadi hal yang tidak asing lagi di zaman sekarang. Banyak di usia remaja yang tengah menjalani hubungan tersebut. Tidak sedikit pula dari mereka yang dengan bangganya mengumbar dan memamerkan hubungannya tersebut pada akun media sosial masing-masing.
Seperti pengalaman saya pada saat usia 16 tahun sudah menjalin pacaran dengan teman kelas. Waktu itu sedang awal maraknya pandemi Covid-19. Peserta didik diharapkan dapat belajar di rumah pada saat itu. Sehingga, para pelajar banyak berinteraksi melalui WhatsApp, Telegram, Instagram, serta aplikasi lainnya.
Semua interaksi berlangsung secara daring. Alhasil, saya merasa kesepian di rumah dan merasa tidak memiliki teman di rumah. Maka dari itu, saya berpikir untuk berpacaran agar memiliki seseorang yang akan selalu ada saat kesepian.
Kebetulan rumah saya dengan rumah pacar berbeda kecamatan, tetapi hanya berjarak 7 Km dari rumah saya. Karena jarak tempuh hanya berkisar 7 Km dan waktu tempuhnya kurang lebih hanya 10 menit, maka saya dengan dia sering bertemu dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.
Kami berdua serta teman-teman satu perkumpulan kami bertemu, awalnya untuk belajar bersama karena pasti memiliki tugas yang sama. Namun, lama kelamaan kami merasa jenuh belajar dan malah hanya bersenang-senang untuk bermain dan bercerita menghabiskan waktu bersama teman-teman.
Dampak negatif pacaran
Teman-teman kami pun mengikuti arus kami berdua, sama-sama bermalas-malasan. Pandemi menjadikan semangat belajar saya menurun, terutama ketika berpacaran, semakin menjadikan malas yang bertumpuk-tumpuk.
Menurut Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM) Jawa Tengah, di Semarang pada awal hingga pertengahan tahun 2014, tercatat dari 386 kasus kekerasan terhadap perempuan, 114 antaranya merupakan kekerasan karena pacaran.
Dalam suatu hubungan pasti tidak mungkin selalu berjalan dengan mulus, layaknya jalan pasti bisa juga terdapat lubang yang mengharuskan kita melewatinya juga untuk bisa mencapai tujuan. Tetapi, jika remaja melakukan pacaran, kemungkinan besarnya masih belum bisa mengendalikan dan malah menimbulkan kekerasan, amukan, dan emosi.
Dalam lingkungan remaja, saat mereka ditanya mengapa mereka berpacaran? Alasan yang keluar dari mulut mereka adalah untuk membuat semangat, membuat mereka tidak kesepian, membuat prestasi naik, dan lain sebagainya.
Hal tersebut memang bisa terjadi dengan kemungkinan yang sangat kecil. Kemungkinan terbesarnya adalah mereka bisa melakukan tindak kekerasan, nakal, mereka bisa menjadi galau, banyak kesedihan, overthinking, terbawa oleh napsu, dan tindakan yang mengarah pada unsur negatif lainnya.
Kasus-kasus yang marak terjadi belakangan ini adalah menikah dini, mengapa? Karena pandemi tentunya menjadikan kesadaran pendidikan berkurang serta adanya unsur berpacaran dalam diri meraka. Perempuan yang tidak bisa mengendalikan perasaannya pasti pendidikannya akan terbuang sia-sia.
Faktor remaja pacaran
Seharusnya perempuan lebih bisa memantapkan pendidikannya, karena jika tidak ia akan terkalahkan oleh perasaannya. Faktor yang mendorong timbulnya minat remaja untuk berpacaran yaitu, rasa ingin tahu lebih banyak mengenai diri orang lain, rasa ingin belajar bermasyarakat dalam hal ini berteman dengan lawan jenis, rasa ingin bersenang-senang, menikmati suasana berkencan, rasa ingin memilih calon pasangan secara serius, serta rasa ingin mengikuti apa yang terjadi di masyarakat.
Pada kenyataan yang terjadi di masyarakat, berpacaran lebih banyak menimbulkan efek negatif daripada positif. Kenyataannya, mereka yang berpacaran lebih stres daripada seusia mereka yang tidak berpacaran. Apalagi mereka yang berpacaran dengan yang hubungan mereka di sebut “Toxic”. Toxic di sini berarti memiliki hubungan yang tidak sehat, hanya membuat timbul sisi negatif saja seperti racun, begitulah para remaja dapat menjadikan hal tersebut beristilah “toxic”.
Dalam ajaran agama islam sesuai surah Al-Isra ayat 32 menegaskan bahwa pacaran merupakan hal haram yang harus dihindari. Akan tetapi, banyak pula yang masi mengingkari dan masih dengan bangganya memamerkan hal tersebut pada akun sosial medianya.
Remaja hanya ingin merasakan bermesra-mesraan dengan pasangannya . Hal tersebut mengundang rasa iri juga terhadap remaja lainnya, yang tentunya mereka ingin melakukan keuwuan juga.
Sudah tidak jarang lagi kita menemui remaja di dalam akun sosial medianya yang memamerkan hubungannya. Sebenarnya hal tersebut tidak menjadi masalah, tetapi pada perlakuan yang terjadi, remaja yang menonton suatu cerita di sosial media tersebut malah memiliki pikiran yang menjadikan pacaran itu suatu hal yang biasa di kalangan mereka. Pemikiran-pemikiran yang timbul berupa pemikiran ketertarikan mereka terhadap pacaran.
Tidak terbantahkan jika banyak terjadi kasus hamil di luar nikah yang menimpa usia remaja. Hal tersebut tentunya lagi-lagi karena pacaran yang berlandaskan pemuasan nafsu semata.
Nafsu dalam diri remaja
Tidak dapat terelakkan bahwa setiap pacaran pasti terdapat nafsu antar salah satu dari kedua belah pihak. Jika hal tersebut tidak terkendalikan dapat memicu adanya hal negatif.
Sering kita jumpai juga orang mengatakan jika pergi berduaan yang ketiga merupakan setan. Hal tersebut merupakan ungkapan yang tepat , karena akan ada nafsu yang timbul apabila dua orang berlainan jenis kelamin bersama, atau lebih tepatnya berpacaran.
Tetap saja ada unsur menyentuh walaupun memang menyentuh yang sederhana juga yang tidak disengaja, seperti bergandengan. Dari hal tersebut, kerap kali orang tua tidak mengawasi anaknya sehingga anak merasa bebas tidak ada pengawasan maupun perhatian berupa komunikasi antara anak dengan orang tua tentang perilaku remaja yang ada pada anak.
Kesimpulan dari paparan di atas adalah pacaran lebih sering berlandaskan nafsu dengan alibi rasa sayang yang muncul. Adanya rasa ingin melakukan pacaran sering timbul karena pergaulan yaitu melihat cerita akun sosial media milik teman.
Remaja haruslah pandai-pandai mengendalikan diri serta orangtua pun harus serng memberi perhatian serta mengawasi anaknya. Pacaran memang sedikit memberi dampak positif, itu pun jika dapat mengendalikan diri.
Dampak negatif pacaran lebih besar daripada dampak positifnya. Jadi, untuk pacaran dapat diambil sisi baiknya yang cenderung sedikit, tetapi akan lebih banyak mendapat sisi possitif jika tidak berpacaran.
Jadi semua tergantung diri masing-masing remaja. Tetapi, tidak menganjurkan pacaran, karena pada usia remaja merupakan usia pubertas. Usia tersebut merupakan fase manusia menemukan identitasnya dan mencoba hal baru. Jadi pemikiran mereka masih labil.
Editor: Akbar Mawlana
Mahasiswa Surakarta asal Wonogiri
