f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pendidikan

Dekadensi Pendidikan: Belajari dari Semut

Saya rasa, esai yang dibangun dengan opini pribadi ini adalah imbas dari stagnasi pembahasan terkait keperempuanan. Atau lebih tepatnya, sebab-musababnya karena dihunjam corong-corong kejengahan yang membuat perasaan saya kocar-kocir untuk selalu tetap prihatin dan konsisten dalam mengulik isu-isu keperempuanan akhir-akhir ini. Itu bisa dilihat dari postingan terakhir saya di Rahma.id. Bukan berarti diskusi akademis terkait perempuan bisa dipagari atas nuansa batin saya pribadi, tidak. Tapi karena saya pribadi justru bingung dengan pergerakan kaum perempuan akhir-akhir ini. Oleh karena itu, tema yang saya usung dalam esai kali ini cenderung agak lebih konfrontatif daripada tema-tema biasanya—sekalipun ada tema sejenis sebelumnya yakni yang berjudul “Pendidikan dan Guru: Belajar dari Gus Dur dan Cak Nun”. Dan kembali saya tegaskan bahwa hal-hal terkait keperempuanan—sosial, politik, ekonomi— sifatnya konstruktif—tidak statis atau mandek—linier dengan entitasnya.

Salah satu persoalan nasional yang akan (dan sebaiknya direkayasa untuk) menjadi isu nasional adalah pendidikan. Sistem Merdeka Belajar menurut saya merupakan suatu takabbur sejauh kita menginsafi seberapa borok iklim kependidikan kita selama ini. Kita tidak bisa “licin” membicarakan soal proyek tersebut selama dunia pendidikan kita—yang merupakan software infrastrukturnya—masih sedemikian kejumudan dan stagnasi.

Kurangnya dunia pendidikan kita terjadi pada beberapa dataran. Umpamanya, dataran filosofis: bahwa kebanyakan pendidik belum benar-benar mendidik, melainkan baru mengajar. Itu pun belum mengajar berpikir, melainkan menghafalkan. Bahkan hingga saat ini kita membiarkan saja kesalahan filosofis dan ideologis yang merupakan sumbernya. Oleh karenanya, agaknya lebih pas jika kita sebut sebagai ‘tenaga pengajar’ saja, bukan ‘tenaga pendidik’, apalagi ‘tenaga pemikir’. Atau juga bahwa guru itu atasan dan bukan teman. Bahwa banyak muatan kurikulum yang tidak relevan terhadap tahap usia anak didik, pola pengajaran yang feodalistik dan otoriter. Bahkan beberapa ahli menggelisahkan betapa filosofi taman kanak-kanak, juga filosofi play group, yang sudah dirampok “fasisme” birokrasi orang-orang “dewasa”.

Baca Juga  Dukungan Struktural dan Politik dalam Meningkatkan Tata Kelola Guru

Pada tataran perangkat keras-nya, dunia pendidikan kita juga mengidap penyakit kanker yang—diakui atau tidak—mengancam kualitas regenerasi bangsa kita. Jika anda cukup rajin mengamati dan coba mengalami situasi-situasi kependidikan dari tingkat atas sampai terbawah, dari skala lokal hingga nasional. Saya yakin anda sepakat bahwa dunia pendidikan kita makin tidak terlihat dunia pendidikan itu sendiri.

Dunia pendidikan sendiri telah menjadi bagian yang “inheren” dari mekanisme politik birokrasi dan mobilisasi. Bersekolah bukanlah mencari ilmu (sekadar menghafalkan pengetahuan tertentu). Bukanlah mengolah kreativitas (bahkan guru kerap kali merupakan agen dekreativitas). Serta bukan juga menggali dan mengembangkan kepribadian (bersekolah merupakan penyeragaman atau penghapusan unikum manusia).

Pada saat yang sama, dunia pendidikan juga telah menjadi bagian dari proses-proses wadah industrialisasi. Para pengurus pendidikan, dari pejabat Kemendikbud sampai sementara guru-guru, ialah semacam tuan tanah dari lahan pertanian modern yang bernama dunia pendidikan. Dari sekian kasus, terefleksi bahwa bagi mereka yang penting bukanlah pertumbuhan anak didik. Melainkan posisi birokratis mereka dapat bermanfaat untuk mencari nafkah: perang tender, royokan proyek, jual diktat, dan sebagainya. Atmosfer mental dunia kependidikan tidak berpusat pada dunia pendidikan itu sendiri.

Dalam banyak hal, sebenarnya kita sedang menabung dosa kepada Tuhan dan anak cucu, padahal belum tentu kita telah bercucu.

Apa yang bisa institusi-institusi sosial lakukan, misalnya Muhammadiyah atau NU, dan lain-lain—terhadap persoalan ini—saya kira adalah merintis sungguh-sungguh proses ishlah terhadap dunia kependidikan secara menyeluruh pada semua dataran.

Sejauh yang saya ketahui, sekolah-sekolah atau perguruan tinggi yang umat Islam miliki tidak mempunyai iklim yang cukup berbeda dari persekolahan pada umumnya—kecuali, sementara “sekolah khusus” seperti pesantren yang tanggap terhadap relevansi zaman dan hari depan. Situasi kependidikan Islam, karena halangan birokrasi dan kultur serta karena lemahnya kekhalifahan umat Islam sendiri di bidang itu—sama memperihatinkannya dengan situasi menyeluruh dunia kependidikan kita.

Baca Juga  Indonesia Hari Ini: Ing Sinyal Sung Tulodho, Ing Kuota Mangun Karso, Tut Wifi Handayani

Semua pihak berkewajiban untuk lebih serius memikirkan hal itu. Di bawah maupun di atas. Dan salah satu alternatif mutlak diperlukan ialah upaya pemandirian pendidikan, yang dalam hal tertentu berarti debirokratisasi pendidikan.

Saya kira anda tahu semua bahwa seorang menteri pun, Nadiem Makarim, tidak dengan gampang melakukan pembenahan-pembenahan sekecil apa pun, “berkat” jumudnya “mafia birokrasi” di bawahnya.

Belajar dari semut. Semut itu mempunyai ukhuwah yang erat di antara mereka. Kita tahu bahwa semut adalah salah satu hewan yang hidup berkoloni. Mbah Nun—sebutan cinta saya pada Emha Ainun Nadjib—pernah mengatakan pada suatu forum Maiyah.

“Semut itu anda lihat, ketika semut mencari makan—misalnya ada sekitar tiga semut menjumpai gula—mereka akan terlebih dahulu mempelajari apa yang akan mereka ambil. Untuk bisa menghitung kisaran berapa semut agar bisa mengangkut makanan itu sampai ke sarangnya. Dan selama ketiga semut itu meninggalkan sarangnya untuk mencari makan, para semut tadi meninggalkan jejak. Sehingga ada rute berdasarkan jejak yang dibuat oleh para semut tadi, agar para semut yang lain mengetahui jejaknya untuk dapat membantu mengangkut gula. Katakanlah ketiga semut yang datang awal tadi kemudian mendapatkan bantuan dari delapan semut lain yang datang melalui jejak-jejak yang ditinggalkan oleh semut sebelumnya. “

“Begitu sampai di tempat, semut-semut ini bersama-sama mengangkut gula itu ke sarangnya. Ilustrasi tersebut sedikit memberikan refleksi pada kita bahwa apa yang dilakukan semut berbeda dengan yang dilakukan manusia. Bahwa tidak ada satu pun semut yang makan gula sebelum gula itu benar-benar tiba di sarang. Kira-kira kalau manusia bakal dipoteki atau tidak? Bisa-bisa ketika sampai di sarang, makanan itu tidak dalam keadaan utuh—kalau manusia.”

Baca Juga  Cara Menjaga Kesehatan Mental pada Anak

Ini menjadi refleksi bagi kita yang melihat sistem atau kebijakan pendidikan di negeri ini. Bahwa problematika menyoal dekadensi pendidikan sekarang ini sudah bias di Indonesia. Paling tidak kita sudah tahu salah satu faktor untuk menyingkapi tidak optimalnya—atau justru mbreset—ide-ide modernis nan cantik dari Menteri Nadiem sekarang ini. Ya, salah satunya faktor mbresetnya karena “mereka-mereka” itu menjalankan kebijakan tidak seperti semut.

Bagikan
Post a Comment