f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Menyambut Ramadhan, Apa yang Perlu Dipersiapkan?

Ada baiknya kita mempersiapkan diri menyambut bulan penuh berkah, Ramadhan. Karena bulan ini tidak datang setiap saat. Ia bagaikan tamu spesial pembawa kebahagiaan, kemesraan, dan ketenangan bagi setiap orang, khususnya kaum muslimin. Nah, tentu saja hal ini tidak boleh tersia-siakan, mesti ada persiapan sebaik mungkin.

Mempersiapkan diri lahir dan batin

Banyak persiapan dalam hal ini, baik dari aspek lahir maupun batin, fisik ataupun spiritual. Manusia tentunya tidak bisa terlepas dari kebutuhan secara fisik, karena kita pada dasarnya memang entitas yang bertempat. Kebutuhan biologis seperti makan, minum, tidak bisa terhindarkan. Semua hal itu guna menunjang aktivitas-aktivitas kita, seperti belajar—sekolah atau kuliah, misalnya—ataupun bekerja.  Namun hal itu juga mesti seimbang dengan pola hidup sehat, seperti menjaga waktu tidur dan olahraga secukupnya guna menjaga kesehatan tubuh. Hal itu juga berlaku dalam berpuasa, seseorang yang sakit tentunya akan mengganggu ibadah puasa. Maka mempersiapkan hal-hal yang bersifat fisik itu perlu, bahkan mutlak menjadi perhatian.

Selain itu juga ada aspek lain yang mesti mendapatkan porsi perhatian yang sama atau bahkan lebih, yakni aspek spiritual. Apa itu aspek spiritual? Sederhananya, ia berkaitan dengan jiwa, hal-hal yang memberikan dampak pada kejiwaan manusia. Bulan Ramadhan bagaikan setetes air di tengah padang pasir yang begitu tandus dan kita adalah para musafir yang sedang melakukan perjalanan.

Seorang pejalan kaki yang telah begitu lama berkelana, ia tentunya merasakan haus. Ini hanyalah sebatas analogi dari manusia yang begitu lama berkelana di dunia, sibuk dengan perkara-perkara hidup, keterikatan antara manusia secara materi—dalam bahasa Marx disebut dialektika materialisme. Rasa haus tersebut tentulah bukan sebatas kebutuhan air secara leterlek, namun dalam tanda petik, yakni haus akan asupan spiritual.

Baca Juga  Pencegahan Covid-19 saat Ibadah Shalat Jumat

Refleksi dari Al-Baqarah: 183

Perintah puasa sebagaimana kita tahu terdapat di Al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Awal ayat tersebut berbunyi  “كتب عليكم الصيام”, bermakna ‘diwajibkan bagi kamu berpuasa’. Istilah “الصيام” dari makna kamus—misalnya dari al-Ma’ani—itu bermakna ‘menahan diri dari nafsu perut dan kemaluan dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari’. Kata kuncinya ialah ‘menahan diri’, di sini maksud puasa tersebut tentulah puasa Ramadhan, sebagaimana di ayat-ayat setelahnya.

Nafsu perut tentu mengarahkan pada hal-hal yang berkaitan dengannya semisal makan dan minum, sedangkan nafsu kelamin juga sama, ia mengarahkan pada hal-hal yang berkaitan dengannya semisal berhubungan intim bagi yang bersuami istri dan onani bagi yang belum. Maka puasa hadir untuk menjadi semacam ‘tameng’ pelindung manusia dari nafsu demikian, karenanya dalam puasa kita harus menahan diri tidak makan dan minum, juga tidak berhubungan intim hingga waktu tertentu.

Selanjutnya ialah, “كما كتب علي الذين من قبلكم”, bermakna ‘sebagaimana diwajibkan pada (umat-umat) yang sebelum kamu’. Prof. Quraish Shihab ketika menjelaskan ayat ini dalam bukunya Wawasan AlQur’an bab puasa mengatakan ‘yang sebelum kamu’ di situ merujuk pada mereka penganut agama samawi (monoteisme)—secara genealogi bersambung pada Ibrahim, seperti Nashrani dan Yahudi, termasuk Islam. Beliau mengatakan bahwa mereka menganut prinsip yang sama dengan Islam dalam aspek akidah, syariat dan juga akhlak. Mereka mempercayai keesaan Tuhan, nubuat, dan hari kemudian. Maka syariat semacam puasa juga terdapat dalam ajaran mereka, kendati antara Islam dan mereka berbeda soal kaifiahnya.

Baca Juga  Panduan Penyelenggaraan Ibadah Iduladha 1441 H/2020

***

Manusia pada hakikatnya memiliki kebebasan untuk memilih dan memilah aktivitas. Dalam kasus ini seperti makan, minum, dan berhubungan intim. Hewan tidak demikian, mereka bergerak melalui insting, beberapa hewan tertentu justru dalam soal perut dan reproduksi memiliki jadwal tertentu. Manusia tidaklah demikian, apabila kebebasannya tidak terbatas, maka hal itu bisa mengakibatkan ketimpangan. Apabila manusia hanya berfokus pada pemenuhan hasrat perut dan kelamin, maka ia akan kehilangan kendali. Hilangnya kendali di sini akan berakibat pada terabaikannya aspek lain, yaitu spiritual, puasa adalah salah satu sarana untuk melatih kepekaan spiritual.

Ujung dari ayat tersebut diakhiri dengan redaksi, “لعلكم تتقون”, yakni ‘agar kamu sekalian bertakwa’, inilah esensi dari tujuan puasa. Istilah “التقوي” bermakna ‘sifat dalam jiwa yang membawa manusia untuk melakukan perintah oleh Allah Swt. dan mencegah diri dari apa yang dilarang-Nya’. Prof. Quraish Shihab dalam menjelaskan perihal takwa mengutip pendapat dari Syaikh Muhammad Abduh bahwa ia menulis, “Menghindari siksa atau hukuman Allah, diperoleh dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarangnya serta mengikuti apa yang diperintahkan-Nya.

Hal ini dapat terwujud dengan rasa takut dari siksaan dan atau takut dari yang menyiksa (Allah Swt). Rasa takut ini, pada mulanya timbul karena adanya siksaan, tetapi seharusnya ia timbul karena adanya Allah Swt (yang menyiksa).” Inilah muara dari puasa, yaitu hendaknya dengan puasa itu manusia bisa lebih bertakwa pada Allah Swt., melakukan apapun perintah-Nya dan menjauhi apapun larangan-Nya. Jadi kita bisa melihat di sini korelasi antara puasa dan takwa, bahwa yang pertama ialah perihal urgensi menanan diri, dan yang kedua, perihal tujuan dari aktivitas tersebut, yaitu menumbuhkan rasa takwa.

Baca Juga  Puasa dan Kesehatan Mental

Menyambut Puasa dengan Wawasan

Melihat hal ini, maka bulan Ramadhan menjadi begitu penting. Ia bagaikan tamu yang sudah lama sekali menjadi harapan kedatangannya, bagai setetes air bagi kerongkongan yang telah lama kering, dan bagai embusan nafas seorang kekasih di lembah hati yang lama mati. Aduhai, ungkapan apapun tidak bisa secara utuh mewakili keistimewaan dari bulan ini. Mungkin kita bertanya kemudian, apa yang mesti kita lakukan dalam rangka menyambut bulan Ramadhan?

Sebagaimana di awal, bahwa kita mesti siap secara lahir maupun batin. Hal pertama ialah memperkaya wawasan mengenai puasa di bulan Ramadhan, baik secara isi atau permukaannya, baik substansi atau kaifiahnya, baik sejarah atau urgensinya, dan masih banyak lagi. Pembacaan literatur mengenai Ramadhan tidak ada habisnya, siapapun bisa menelaah atau mengaji dari sisi manapun.

Selanjutnya hal penting lain selain menambah wawasan dalam bacaan, juga perlu memperbanyak zikir kepada Allah Swt. Hal ini bermanfaat untuk melatih ritme hati. Dengan demikian, sebelum Ramadhan benar-benar tiba, paling tidak kita telah mempersiapkan sesuatu untuk menyambut Ramadhan sebaik mungkin. Semoga diri kita selalu memperoleh kesempatan untuk berjumpa dengan bulan penuh berkah ini, baik esok ataupun lusa.

Bagikan
Post a Comment