f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
nikah

Menikah, Bukan Mencari Yang Sempurna

Memiliki pasangan dalam hidup nampaknya begitu membahagiakan. Ada saja alasan mengapa setiap orang bahagia karena punya pasangan. Bahagia karena dicintai dan mencintai orang lain, adalah fitrah manusia dari Allah. Dalam memilih, setiap kita harusnya memutuskan dengan serius. Karena menjalaninya adalah proses pendewasaan. Tidak ada lagi istilah cinta monyet, putus nyambung, hingga saling marah yang berlebihan. Memilih pasangan seumur hidup, itu artinya kita sudah siap dengan amanah yang besar, yakni menuju “pernikahan”.

Menikah adalah perkara yang serius dalam setiap agama. Dalam Islam, perintah-perintah Allah untuk kebaikan rumah tangga juga banyak terdapat dalam Al-Qur’an. Tidak hanya itu, manusia teladan, yakni Rasulullah ﷺ juga sering mencontohkan potongan episode tentang pernikahan lewat hadits-hadits yang bisa kita pelajari.

Di Indonesia, hukum negara juga menetapkan beberapa aturan mengenai pernikahan. Seperti, terdaftar di KUA, mengikuti kelas pra nikah, bahkan aturan mengenai minimal umur untuk menikah. Semua aturan, baik dalam agama maupun negara, mengandung kebaikan untuk setiap umat.

***

Jalan menuju pernikahan adalah sesuatu yang unik. Banyak sekali variasi cerita dari setiap orang. Yang paling umum terjadi seperti, kisah seseorang yang sudah bertahun-tahun bersama, namun ujungnya tidak bersanding di kursi pelaminan. Tapi, ada  juga yang pertemuannya hanya beberapa bulan saja, kemudian berakhir senyum bahagia kedua keluarga. Ah, betapa bahagianya memang pernikahan itu. Karena ia adalah cinta suci, menjalaninya dengan ketaatan kepada-Nya, hingga memetik buah yang asam dan manis dalam kehidupan bersama.

Tidak semua orang mencari atau memiliki pasangan untuk berakhir pada ikatan janji suci.  Banyak yang memiliki pasangan hanya untuk nafsu sesaat, pelampiasan luka masa lalu, atau sekedar untuk main-main saja. Bahkan, proses memilih pasangan pun beragam caranya, ada yang memilih jalan lewat pacaran, jadi teman dekat tapi tanpa status, perjodohan, atau taaruf. Istilah taaruf, akhir-akhir ini sudah menjadi tren khususnya bagi kaum anak muda.

Baca Juga  Jadi Istri kok Perhitungan?

Kata taaruf sebenarnya berasal dari kata ta’arafa ya ta’arafu. Artinya saling mengenal. Kata ini terdapat dalam Al-Qur’an. Allah ﷻ berfirman “Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang pria dan seorang wanita, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal…” (QS Al-Hujurat:13)

Secara umum, kata taaruf tidak selalu merujuk pada pernikahan. Pada intinya, Allah menciptakan perbedaan untuk saling mengenal. Lewat mengenal satu sama lain, kita bisa mempererat tali silaturahim dan persaudaraan sesama muslim. Namun, istilah taaruf ini sudah menjadi bahasa umum, sebagai istilah untuk memilih calon suami ataupun istri.

Bisa kita simpulkan, bahwa proses taaruf dalam mencari pasangan adalah sebuah proses saling mengenal antara pria dan wanita, dalam jangka waktu tertentu yang harus sesuai syariat Islam, menuju jenjang pernikahan. Proses ini melibatkan seseorang untuk menjadi perantara antara kedua pihak, pada umumnya karena pengalaman dan tingkat pemahamannya terhadap Islam.

***

Dalam menjalani proses taaruf, beberapa hal mesti ada persiapan. Kedua pihak harus terus memperbaiki niat karena Allah, sebagai i’tikad baik menuju pernikahan. Biasanya, pria dan wanita mempersiapkan biodata diri secara jujur. Isi dari biodata tersebut seperti, data pribadi, latar belakang pendidikan dan kegiatan sehari-hari. Gambaran umum mengenai sifat pribadi dan keluarga, kriteria calon pasangan ideal, serta visi misi pernikahan. Kejujuran dalam tukar biodata ini menjadi poin sangat penting. Karena ibadah pernikahan adalah sunnah Rasulullah ﷺ yang harapannya proses menuju jalan tersebut tidak ternodai dengan kebohongan yang kita tutupi.

Dalam proses tukar biodata inilah kesempatan untuk menggali informasi mengenai sifat dan kepribadian. Bila proses ini sudah terlalui dan terdapat ketertarikan satu sama lain, maka boleh melanjutkan ke tahapan selanjutnya. Tahapan ini disebut Nadzor, yaitu bertemu secara langsung untuk melihat wajah dan kondisi fisik secara umum. Tujuannya, untuk memantapkan lagi, rasa yang mulai tumbuh dalam hati. Nadzor juga bisa dengan membuat janji untuk datang menemui orang tua calon pengantin wanita. Pertemuan inilah, orang tua wanita bisa bertanya langsung hal-hal yang dianggap penting.

Baca Juga  Menyusupi Kubangan Perbedaan Menuju Kemaslahatan Pernikahan

Setelah proses nadzor, tahap selanjutnya adalah khitbah atau melamar. Nah, proses inilah untuk menyampaikan niat dan menawarkan diri menikahi si wanita. Biasanya, sebelum proses khitbah, masing-masing pihak sudah memantapkan hatinya, lewat shalat istikharah ataupun diskusi dengan keluarga. Nah, setelah khitbah, terbitlah akad. Untuk kesepakatan waktunya, lebih baik disegerakan.

***

Begitulah proses taaruf, setiap orang memiliki kisah yang berbeda. Hal yang harus dihindari, yakni menganggap proses taaruf adalah proses yang pasti untuk memilih calon pasangan. Padahal, dalam proses taaruf tidak selamanya berjalan mulus. Masing-masing pihak boleh membatalkan dengan ada alasan yang jelas. Anggapan yang salah juga, kalau menganggap proses taaruf ini membolehkan berinteraksi secara langsung via chat sosial media hingga jalan berdua.

Hal yang keliru lainnya, menganggap bahwa proses taaruf hingga terjadi pernikahan, sebagai akhir menyatunya kedua insan yang sempurna. Padahal, setelah menikah, justru menjadi awal pasangan untuk mengenal lebih jauh. Ingatlah kawan, masing-masing manusia punya kekurangan. Proses tukar biodata hingga khitbah, hanyalah ikhtiar manusia biasa seperti kita. Ikhtiar tuk menghindari cara yang haram, ikhtiar menjaga kehormatan hingga bisa saling mengenal lewat jalan yang Insyaa Allah diridhoi oleh-Nya.

Jangan pernah berharap yang sempurna dalam pernikahan, suami dan istri harus menjadi partner yang solid dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Bukankah manusia paling mulia pun, juga banyak mengisahkan tentang kehidupan rumah tangganya? Yang tidak melulu tentang kebahagiaan. Pernikahan, pasti akan melewati episode sedih, kecewa, terpukul, menerima, hingga saling berjuang. 

***          

Dalam menjalankan ibadah menikah, masihkah ridho Allah yang kita cari? Bukankah dalam menikah, adalah bentuk kecintaan kita menjalankan sunnah Rasulullah? Bukankah dalam menikah, berarti memilih partner untuk saling mengingatkan akan surga? Karena pernikahan merupakan ibadah terpanjang, maka memilih pasangan hidup adalah hal yang sangat penting.

Baca Juga  Talak Tiga pada YOLO, Mendekati YONO: Yes or No?

Karena proses ini, aku dan kamu tidak sedang mencari yang sempurna. Namun saling menerima dan melengkapi satu sama lain. Dengan mengenal calon pasangan sebelum menikah, itu artinya, kita sudah siap akan visi surga yang harus diraih bersama dengan potensi masing-masing. Lewat taaruf hingga menikah, mengajari kita tentang kesempurnaan hanyalah milik Allah. Taaruf dalam pernikahan, menuntun kita untuk terus menjaga cinta dari-Nya hingga pernikahan yang ada dengan bingkai islami dan berharap kebahagiaannya abadi hingga di surga-Nya.

Bagikan
Comments
  • Hera

    MasyaAllah 😘

    April 4, 2021
Post a Comment