f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
al-ajurri

Mengenal Imam Al-Ajurri Dalam Kitabnya Akhlaqu Ahlil Qur’an (2)

Dalam salah satu karya beliau yakni kitab Akhlaqu Ahlil Qur’an, di sana tertuliskan bahwa Imam al-Ajurri memberi penekanan kepada orang-orang yang telah diajarkan al-Qur’an dimana Allah telah memberi kelebihan dibanding orang lain yang belum mengetahui al-Qur’an. Oleh karenanya, hendaklah setiap muslim menjadikan al-Qur’an sebagai penentram hati, memperbaiki bagian yang rusak dari hatinya, mempratikkan akhlak al-Qur’an dan berbudi pekerti yang luhur. Sebagaimana akhlak Rasulullah saw yang dikatakan oleh Ummul Mukminin Aisyah ra :

كَانَ خُلُقُهُ القُرْآنَ

Akhlak beliau adalah al-Qur’an.

Aisyah ra menyifati Rasulullah saw dengan satu sifat yang mewakili seluruh sifat yang ada. Akhlak Rasulullah saw adalah al-Qur’an, kitab suci-Nya yang diberkahi dan tidak ada kebatilan di dalamnya.  Al-Qur’an merangkum dengan baik seluruh dimensi akhlak mulia dan merangkai semuanya menjadi bangunan yang sempurna. 

Realisasi Pembacaan Al-Qur’an

Menurut Imam al-Ajurri, hal pertama yang harus direalisasikan oleh pembaca al-Qur’an adalah bertakwa kepada Allah swt dalam kesendirian maupun keramaian. Artinya di sini adalah seorang pembaca al-Qur’an senantiasa selalu menghadirkan Allah dalam setiap apa yang dilakukannya dengan menerapkan sikap wara’ (berhati-hati) dalam hal makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal. Pembaca al-Qur’an seyogyanya senantiasa mengingat bahwa itu semua adalah pemberian dari Allah swt yang sifatnya hanya sementara saja.

Selain itu peka terhadap keadaan zaman menurunnya dekadensi akhlak manusia. Di zaman sekarang ini, meskipun Islam sudah tersebar ke seluruh pelosok dunia dan akidah Islam sudah lama bersemayam di dalam hati kaum muslimin, ternyata problematika kemerosotan akhlak masih sering terjadi. Bahkan belakangan ini fenomenanya sampai kepada memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan umat. Krisis politik, ekonomi, hukum dan krisis-krisis lainnya yang tidak lain disebabkan oleh krisis akhlak.

Baca Juga  Merenungi Pemikiran Kuntowijoyo

Dalam muammalah terhadap sesama manusia, Imam al-Ajurri menghendaki agar setiap muslim menjaga tali kerukunan dan kedamaian dengan berbagai macam cara. Al-Qur’an, as-Sunnah dan ilmu fikih merupakan petunjuk kepada akhlak yang baik terhadap orang lain. Contoh kecil yang kadang kala dilalaikan adalah seperti menjaga lisan, menjalin silaturrahmi, menahan marah dan menjaga perilaku sopan santun terlebih kepada kedua orang tua dan orang-orang yang lebih tua di sekitarnya.

Dalam mengkaji al-Qur’an, seorang muslim akan mengobarkan semangatnya agar dapat mencapai pemahaman. Semangatnya adalah memahami apa yang diwajibkan Allah swt dengan mengikuti apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang. Sehingga dalam memahami setiap apa yang telah menjadi ketentuan Allah swt, dapat dihadapi dengan penuh kebijakan.

Al-Qur’an Bukan Materi untuk Dijadikan Mata Pencaharian

Imam al-Ajurri menyatakan hal yang sedemikian karena sejalan dengan sabda Rasulullah saw yang artinya:

“Dari Sa’id dari Nabi saw, beliau bersabda “Pelajarilah al-Qur’an dan mohonlah kepada Allah dengan al-Qur’an itu sebelum dipelajari oleh orang-orang yang hendak mencari dunia. Sebab al-Qur’an akan dipelajari oleh tiga jenis orang, yaitu orang yang mempelajari al-Qur’an untuk kebanggaan (meraih popularitas), orang mempelajari al-Qur’an untuk mencari makan dan orang mempelajari al-Qur’an serta membaca al-Qur’an untuk memperoleh ridha Allah”. (Hadis Riwayat Abu Abid dalam kitab Fadhail al-Qur’an dan menurut al-Hakim hadis ini shahih)

Dari hadis tersebut, segolongan orang yang mempelajari al-Qur’an untuk mencari popularitas adalah akibat dari menuruti kehendak hawa nafsu. Itulah mengapa, manusia berpotensi untuk senang mengeluh, sebagaimana dalam firman Allah swt :

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (سورة المعارج:١۹)

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. (QS. al-Ma’arij : 19)

Baca Juga  Rabi’ul Awal; Refleksi Perjuangan Sang Pembebas

Sifat keluh kesah terlahir karena seseorang tidak pernah pandai untuk bersyukur. Olehnya, nafsu ingin memunculkan hasrat agar memiliki sesuatu secara berlebihan, kikir sampai tidak mampu menjaga kesucian dan harga diri. Tidak lain, jika ada umat Islam yang membagus-baguskan bacaan al-Qur’annya bukan untuk kebaktiannya kepada Allah swt melainkan agar bisa didengar oleh para raja dan penguasa di tempatnya. Padahal seorang mukmin harus bisa merenungkan dan menanyakan kepada dirinya sebelum beramal, untuk siapa amalan tersebut, bagaimana hukum syariatnya dan bagaimana Rasulullah saw mengerjakannya. Hal ini adalah rukun amal shalih yang diterima di sisi Allah swt.

Sumber :

Al-Ajurri, Husain. 2003. Akhlaqu Ahlil Qur’an. Beirut : Darul Kutub al-Ilmiyah
Al-Hilali, Majdi. 2011. Agar Pertolongan Allah Segera Turun. Solo : Pustaka Arafah.
Ihsan, Ummu dan Abu. 2014. Aktualisasi Akhlak Muslim 13 Cara Mencapai Akhlak Mulia. Jakarta : Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
Kirzun, Anas Ahmad. 2018. Riyadh al-Ulama’. Saudi : Dar an-Nur al-Mukatabat.
Yaqub, Ali Musthafa. 2018. Nasihat Nabi Kepada Pembaca dan Penghafal Al-Qur’an. Ciputat : Yayasan Wakaf Darus Sunnah.

Bagikan
Post a Comment