f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pembatasan

Membangun Kebersamaan di Masa Pandemi

 

Bangkit dan bersatu menjadi kekuatan sekaligus pijakan saat melalui masa pandemi yang melanda negeri ini. Kondisi psikologis terkait dengan adanya PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) menjadi sorotan hangat yang terjadi di masyarakat.  Selain memperhatikan kesehatan fisik ydalam hal pemenuhan kebutuhan baik vitamin dan lainnya; aspek kesehatan mental juga menjadi sama pentingnya  untuk mendapat perhatian.

Pro-kontra akan adanya pemberlakuan pembatasan yang diterapkan dengan jangka waktu tertentu berdasar himbauan dari pemerintah membawa ragam konsekuensi pula di masyarakat. Bagaimana tidak?  PPKM yang sebelumnya PSBB (pembatasan sosial berskala besar) ini mau tidak mau, siap tidak siap menjadi satu kondisi yang harus dijalani, diperhatikan  dan dipatuhi bersama. Kondisi sosial -ekonomi- pendidikan dan aspek kehidupan lain yang menyertai saat ini tidak terlepas terpengaruh dari sentuhan adanya PSBB maupun PPKM yang masyarakat jalani.

Lantas hal apa yang sejatinya penting untuk dikuatkan dalam menyikapi ragam respon masyarakat terkait PPKM tersebut? Berikut ulasan singkat yang terangkum dalam kilas balik awal pemberlakuan pembatasan ini membawa ragam baru di masyarakat. Dari mulai adaptasi baru dalam proses pembelajaran melalui online; pendapatan usaha yang menurun hampir 80 % bagi sebagian besar pegiat usaha baik sektor mikro maupun makro; adanya keterbatasan (pembatasan jumlah) dalam hal pelayanan umum/ publik dan konsekuensi lain yang ditimbulkan dari adanya kebijakan pemberlakuan tersebut.

Satu penguatan yang sangat penting untuk dijaga adalah kesehatan mental yang menjadi ketahanan psikologis yang harus dibangun sedari awal. Mengapa? Menyempurnakan ikhtiar sebagai upaya agar tidak merasakan kebosanan bahkan kegelisahan/ kecemasan menjadi satu hal yang  mendasari kenapa kesehatan mental menjadi perhatian bagi siapapun. Bukan hanya orang tua-orang dewasa dalam menyikapi perubahan; namun anak-anak juga mengalami hal serupa termasuk dalam menjalani proses pembelajaran saat ini.

Baca Juga  Mewujudkan Konsep Masyarakat Madani

Upaya yang dibangun sedari awal adalah memupuk kepercayaan terhadap proses yang sedang berjalan saat ini dan dirasakan bersama merupakan bagian dari  ikhtiar yang dilakukan demi kebaikan. Upaya yang didasari dari keyakinan bahwa satu masa pandemi ini dapat dilalui bersama dengan ketaatan, kedisiplinan dan saling menjaga; menjadi langkah awal menuju kondisi lebih baik dan lebih baik lagi. Salah satunya pula  kepercayaan akan kebijakan terhadap aturan. Aturan tersebut menjadi pijakan dalam pengkondisian saat ini. Membangun afirmasi positif dari masyarakat terhadap aturan membutuhkan keteladananan dari semua sebagai model dan ini  dimulai dari diri sendiri.

 Tidak ada kebijakan tanpa pemikiran; artinya merespon dengan sikap bijak dan positif akan semakin mendukung suasana dari proses perubahan yang berjalan dan nantinya akan dilalui bersama. Semisal anak-anak yang kehilangan sentuhan pembelajaran dari sisi keterampilan yang biasanya langsung ditumbuhkembangkan; selama proses online ini tidak dapat maksimal diapresiasikan.

Lantas , apakah tidak ada jalan tengah yang dihadirkan sebagai bagian dari solusi? Tentunya tidak, sebab dengan melibatkan semua pihak (pendampingan keluarga , sekolah dengan aturan yang berlaku) dalam berbagi peran proses pembelajaran setidaknya mampu menjembatani ragam keterbatasan dari pembelajaran online.

Selain itu, komunikasi yang terbatas melalui sarana online menjadikan anak-anak merasakan apa yang dinamakan kecanggungan dalam komunikasi tatap muka secara langsung. Karena proses lamanya interaksi online membuat kebiasaan baru dalam membangun komunikasi bersama komunitasnya juga mengalami suasana baru/ adaptasi baru.

Begitupun apa yang dialami orang tua/ orang dewasa yang bagi sebagian tetap beraktivitas di luar; baik yang berdagang maupun yang menjalankan tugas kemanusiaan/ sektor publik tentunya merasakan suasana yang berbeda dari sebelum masa Pandemi. Secara umum menumbuhkan empati yakni dengan tepo seliro atau tenggang rasa menjadi bagian penting dari perilaku  sehat yang diharapkan.

Baca Juga  Cara Mencintai Terbaik, Dipendam atau Diungkapkan?

Penguatan solidaritas terhadap sesama dalam semangat gotong royong bagi warga yang isoman di tempat tinggal; juga menjadi bagian yang menyatupadukan gerak langkah dalam mengasah empati-simpati. Sebagaimana hasil riset dari Litbang Kompas 2021; berdasar data menyebutkan peningkatan solidaritas warga dalam membantu di lingkungan sekitar mengalami kenaikan; baik dengan memberi bantuan berupa makanan, mencarikan fasilitas kesehatan maupun memberikan sumbangan berupa uang  dilakukan hampir 57,9% . Perilaku sehat yang mulai dari membangun kepercayaan menjadi upaya dalam menerapkan kesehatan mental yang baik di masa pandemi. Sehingga kesiapan untuk menghadapi adaptasi baru dan melakukan hal produktif tetap dapat digiatkan dan berjalan.

Ragam upaya terus digeliatkan dalam mencipta suasana kondusif bagi pemulihan kondisi. Komunikasi aktif dalam masyarakat dari sesama warga yang bersifat mendukung dan memberi informasi semakin cepat dan tanggap. Seperti dengan mencarikan informasi bagi  warga yang membutuhkan (isoman) dan saling memberikan dukungan moril. Adanya sinergisitas tercipta dalam hal pemberian vaksin yang diupayakan oleh banyak pihak  seperti  di lingkungan kampus maupun instansi yang bekerjasama.

Saat ini kebutuhan akan pemulihan kondisi kesehatan menjadi prioritas bersama untuk kebaikan. Begitupun dalam pemulihan kondisi ekonomi masyarakat juga mendapat perhatian yang besar agar roda ekonomi tetap berjalan dalam ragam konsekuensi yang muncul dari adanya kebijakan dari pemerintah. Membangun kesadaran bersama akan pemulihan kondisi saat pandemi menjadi langkah besar bagi semua pihak yang harus diimbangi dengan komunikasi dan keterbukaan dalam semangat kebersamaan. Semoga…

Bagikan
Post a Comment