f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
indonesia

Memaknai Perbedaan

“Indonesia…!”

“Seemangaatt…”

 “Zhongguo dui (jiayou), Zhongguo dui (jiayou), Zhongguo dui (jiayou)”

 “Thailand…!”

 “Malaysiaaa…(boleh), Malaysiaa..(boleh)”

 “Nippon, Nippon, Nippon”

Terus meramaikan kota Aarhus, Denmark, tempat Thomas Uber Cup berlangsung tahun ini, sedari pagi hingga berganti hari. Bersahutan dengan beragam nada, lengkap dengan tabuhan rebana, drum, botol minum, atau bahkan hanya kertas karton yang dilipat. Teriakan penyemangat untuk rekan yang sedang berjibaku di lapangan. Sesekali tepuk tangan menyambut kepalan tangan rekannya, sebuah tanda untuk tetap tidak kehilangan harapan. Bagi para penikmat layar kaca atau siaran streaming, suasana sangat menarik. Menonton di court 1, namun teriakan yang terdengar sangat beragam cukup menggambarkan bagaimana kondisi court lainnya.

“Sungguh, indahnya dunia.” Begitu yang terucap dari mulut salah seorang yang matanya tajam melihat tayangan di telepon pintarnya.

***

Kapan lagi bisa menikmati kedamaian, jauh dari perdebatan sekedar perbedaan bahasa atau etnis. Atau mungkin malah urusan keyakinan. Terlalu lelah tersuguh perdebatan yang tidak ada habisnya. Perdebatan karena perbedaan dan keberagaman. Padahal, perbedaan sudah ada sejak zaman dahulu, dan keberagaman adalah karya Tuhan yang begitu menakjubkan. Bayangkan saja, bagaimana Tuhan menganugerahi setiap manusia dalam satu keluarga dengan sifat yang berbeda. Bagaimana Tuhan mengajarkan bahasa yang berbeda di setiap daerah, namun memiliki kesamaan arti dengan bahasa di daerah lain. Perbedaan itu adalah cara Tuhan membuat manusianya tidak bosan dan terus belajar. Bukan malah berdebat tentang siapa yang paling benar, paling baik, dan berbagai paling yang lain.

Teriakan beragam di arena malam itupun memiliki makna yang sama, yakni penyemangat. Meski dengan bahasa yang berbeda, dengan logat, dan cara pengucapan yang berbeda. Senang rasanya, Tuhan memberi kesempatan mengenal dunia olahraga ini. Satu malam saja, berapa pelajaran baru yang bisa kita dapatkan. Ketika mendengar teriakan itu, rasa penasaran akan muncul, hingga akhirnya mengetahui beberapa kata dalam bahasa yang mungkin tidak pernah ada di bangku sekolah.

Baca Juga  Tips Move On dalam Islam

Ketika masuk lapangan pertandingan, pemain Jepang pasti akan membungkukkan badan kepada official  dan pemain lawan. Atau pemain Thailand yang akan memberi salam dengan menyatukan telapak tangan. Melihatnya, akan menambah pengetahuan bahwa itu adalah cara penghormatan di negara mereka. Menyenangkan, memahami dan mengambil sisi positif di setiap perbedaan. Lagi, tidak ada yang terbaik karena semua memiliki cara masing-masing.

***

Saat ini, sentimen tentang ras, etnis, ideologi negara lain, atau tentang cerita buruk di masa lampau masih sering terbawa-bawa tanpa memandang batas. Biarlah itu menjadi cerita dan pelajaran, sekarang saatnya menjadi lebih baik. Di tim Thomas Uber Indonesia misalnya, keberagaman etnis, agama, dan bahasa juga terjadi. Mereka datang dari berbagai daerah, namun mereka bersama-sama untuk Indonesia. Meskipun berbeda etnis atau bahasa, merekapun manusia yang berhak dimanusiakan. Mereka tidak bisa memilih terlahir dari etnis apa atau berbicara dengan bahasa apa karena itu adalah garis Tuhan.

Indonesia adalah Sabang sampai Merauke, artinya Indonesia juga terdiri atas berbagai suku yang membentang dari tanah Sumatra sampai Papua. Segala sesuatu yang ada dalam bentangan tersebut adalah Indonesia. Keseluruhan tanpa perbedaan, tidak ada yang paling unggul atau paling terbelakang. Siapapun mereka, darimanapun mereka, ketika sudah memiliki hak warga negara Indonesia maka berhak dan wajib membela negaranya. Masalah agama atau keyakinan, biarlah menjadi urusan individu dengan Tuhannya. Manusia tidak akan mengerti sepenuhnya hati manusia lain.

Mereka yang bertanding, Penonton yang ribut

Terkadang, para penikmat olahraga juga belum benar-benar kondusif. Gelar sebagai warganet yang paling tidak sopan mungkin memang benar adanya. Atau memang kualitas sumber daya manusia di negeri ini memang belum cukup baik. Berkali-kali mempermasalahkan hal yang sama yang tidak perlu. Seteru dengan Malaysia apalagi, sesuatu hal yang kecil akan menjadi besar. Masa lalu, cerita sejarah cukup menjadi pembelajaran, bukan malah menjadi pendendam. Apalagi jika sampai keluar kata-kata kasar, cemoohan yang tidak etis terucap. Atau sentimen ideologi dengan China. Terlalu jauh ranahnya, mereka yang kalian dukung tidak akan memikirkan sejauh itu. Jikapun memikirkan, mereka pasti mengetahui batas kapasitas mereka sebagai atlet professional. Sudahlah, mereka juga manusia.

Baca Juga  Literasi Media Sosial untuk Penguatan Narasi Moderasi Beragama

Dalam konteks olahraga, mereka hanya orang-orang yang ingin mewujudkan mimpinya, mencari kehidupan untuk keluarganya, dan membela negaranya. Mereka sama dengan pemain kita. Jika memang tidak bisa menghormati karena batas negara, perbedaan ideologi, atau cerita di masa lalu, cukup hormati mereka sebagai manusia. Hormati sebagai sesama makhluk Tuhan yang terbatas. Toh juga kita tidak benar-benar mengerti tentang permasalahan yang terjadi di masa sebelumnya.

***

Atletnya tidak pernah bermasalah dengan perbedaan yang melekat di antara mereka. Sering terlihat di media sosial, Greysia Polii menikmati sela-sela turnamen dengan pemain Korea. Atau Fajar Alfian, pemain ganda putra Indonesia yang sering makan bersama dengan pemain Malaysia karena sudah berteman sejak masih junior. Begitupun pemain lain, pemain China juga mengidolakan legenda bulutangkis Indonesia. Tidak jarang kita temui, para atlet saling memberi dukungan pada atlet negara lain baik dari media sosial atau yang tersorot kamera. Ketika ditanya, mereka mengatakan bahwa semuanya adalah teman, hanya ketika di lapangan saja urusan pekerjaan.

Ketika mampu memahami arti sportivitas dalam olahraga dan melihat gerak-gerik pelaku olahraga, itu adalah sebuah kedamaian. Masih ingat dengan insiden cederanya Anthony Ginting di Asian Games? Apa yang lawannya lakukan saat itu? Ia menghampiri Anthony Ginting, memegangi tangannya, memastikan bahwa itu hanya kram biasa. Begitupun pelatih yang mendampingi. Sejatinya, mereka memahami ada sesuatu hal yang lebih berharga dari kemenangan yaitu kesehatan. Ketika Viktor Axelsen memilih tidak melakukan selebrasi karena Christo Popov, lawannya, mengalami kram. Atau Saina Nehwal yang sedih karena menjuarai turnamen akibat lawannya cedera dan tidak bisa melanjutkan permainan.

Rasa kemanusiaan itu lebih berharga dari berbagai gelar yang mereka dapatkan. Dari sini seharusnya bisa diambil pelajaran, cukup menjadi manusia yang memiliki rasa kemanusiaan daripada memiliki kecerdasan atau keunggulan tanpa rasa kemanusiaan.

Baca Juga  Islam dan Toleransi Keberagaman Kita

Mari Saling Menghormati

Indonesia adalah negara besar dengan keberagaman. Negara ini butuh persatuan, bukan perdebatan berujung perpecahan. Untuk segala perbedaan yang ada di negeri ini, biarlah menjadi warna-warni yang sangat indah menghiasi negeri. Menjiwai Pancasila, disana dijelaskan tentang nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan lain sebagainya. Karena sejatinya kita semua adalah sama, saudara sebangsa, sesama makhluk Tuhan yang lemah, kebersamaanlah yang akan membuat kita menjadi kokoh. Paparan diatas menggunakan objek atlet yang datang dari berbagai negara. Jika masih belum bisa menghormati sepenuhnya, wajar saja.

Mungkin perbedaan yang ada terlalu jauh. Tetapi jika diterapkan di Indonesia, tidak wajar jika tidak bisa menghormati sesama anak bangsa. Toh, kita bukan orang yang dulu ikut berjuang layaknya para pahlawan. Hanya tinggal menikmati saja, menghormati apapun yang sudah diperjuangkan dengan susah payah. Mari saling menghormati dan menjadikan keberagaman sebagai kekayaan bangsa yang harus disyukuri, bukan dicaci maki apalagi dikonfrontasi.

Bagikan
Comments
  • tyas

    setuju👍👍

    Oktober 15, 2021
Post a Comment