f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mantra membaca

Mantra Membaca

Pada 1 Mei 2007 merupakan hari yang bersejarah untuk hidup saya. Untuk pertama kalinya saya bisa menginjakkan kaki keluar negeri, yaitu Singapura. Negeri yang saya kunjungi ini memang tidak jauh dari Jakarta. Jika ditempuh dengan menggunakan pesawat, perjalanan Jakarta-Singapura itu seperti Jakarta-Surabaya. Di mana kedua perjalanan pesawat tersebut bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam. Saya tinggal di Singapura selama 3 bulan, dari bulan Mei-Juli 2007. Dari mulai perjalanan, tempat tinggal, hingga biaya hidup sehari-hari itu diberikan langsung oleh pemberi beasiswa. Bagi banyak mahasiswa S2 dan S3 di kampus Indonesia, beasiswa ini cukup bergengsi. Ini karena, tidak semua orang bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Selain kualitas riset proposal, keunikan tema, kesediaan calon pembimbing, kekuataan surat rekomendasi merupakan empat irisan faktor terkuat mengapa seseorang bisa diterima.

Setidaknya ada 500 aplikasi yang mendaftarkan diri untuk beasiswa ini, khususnya bagi mahasiswa S2 dan S3 yang berada di Asia. Namun, dari pendaftar tersebut yang terpilih tidaklah banyak, sekitar antara 20-30 mahasiswa/mahasiswi. Saya merasa beruntung saat itu, karena masuk terpilih untuk program ini. Saya termasuk 30 peserta terpilih untuk program Asian Research Fellows yang dikelola oleh Asia Research Institute (ARI) di National University of Singapore (NUS). Program ini dirancang untuk mahasiswa/mahasiswi dari kampus-kampus Asia untuk mendapatkan atmosfer internasional sekaligus referensi mutakhir di kampus NUS yang memiliki perpustakaan terlengkap di Asia Tenggara. Tujuannya untuk memperkuat data dan literatur dalam proses menyelesaikan tesis dan disertasi dalam studi ilmu sosial dan humaniora. Dalam proses fellowship selama tiga bulan ini, masing-masing dari kami di bimbing oleh para sarjana internasional yang ahli di bidangnya. Hasil yang diharapkan dalam fellowship ini adalah satu matakalah yang akan dipresentasikan dalam Graduate Forum ARI-NUS yang diadakan setiap tahun.

Baca Juga  Terapi Menulis Ekspresif : Membantu Penderita PTSD

Karena studi mengenai Kekerasan dan Politik Ingatan, saya kemudian mendapatkan bimbingan oleh pengajar Antropologi ahli Toraja sekaligus mendalami isu itu, yaitu Profesor Roxana Waterson. Beberapa kali saya bertemu dengannya untuk konsultasi draft makalah yang saya buat dalam bahasa Inggris. Ketimbang saat ini, bahasa Inggris saya saat itu jauh lebih buruk dan bahkan level dasar. Dalam beberapa kesempatan, saya seringkali meminta maaf terkait dengan ketidakmampuan bahasa Inggris yang saya miliki. Hal yang sama saya ucapkan kepada Roxana Waterson tersebut. Meskipun demikian, ia memaklumi saya dan bahkan tidak mengecilkan saya sedikit pun. Selain konsultasi secara langsung, saya juga konsultasi melalui surat elektronik. Melalui surat elektronik inilah ia kerapkali memuji data yang saya miliki dan sekaligus memuji kemampuan menulis Bahasa Indonesia saya. Di mana saat itu, saya juga memberikan draft makalah yang sudah jadi dalam bahasa Indonesia.

Terkait dengan berlatih menulis dalam bahasa Inggris, ia kerapkali untuk menyemangati saya bahwasanya saya bisa menulis dalam bahasa asing tersebut. Ia menyemangati saya untuk  terus berlatih menulis bahasa Inggris dengan tekun dengan membaca karya-karya akademisi internasional yang saya butuhkan dalam menyelesaikan data dan referensi untuk tesis. Dalam beberapa kali surat elektronik yang dikirimkannya kepada saya, ada kalimat yang selalu saya ingat hingga sekarang. “The more you read, the more you understand on how to write”. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, “semakin saya membaca, semakin saya akan paham bagaimana caranya menulis (dalam bahasa Inggris)”.

Kalimat itu saya pegang betul dan terpatri di kepala. Lebih jauh, kalimat ini menjadi mantra dalam proses saya belajar menulis dalam bahasa Inggris di tengah keterbatasan yang saya miliki. Saya sebut terbatas ini karena, saya mesti berkali-kali membuka kamus bahasa Inggris di tengah keterbatasan kosa kata saat ingin menulis. Hal itu saya lakukan hingga sekarang. Namun, pengalaman belajar otodidak sebelumnya dengan dibenturkan oleh realitas, mengalami proses untuk meniru dari buku dan artikel para sarjana internasional di bidangnya terkait dengan gaya menulis, dan menyerap pelbagai hal dan masukan, meskipun itu sangat kerih di telinga, justru menjadikan daya lentur saya untuk terus belajar.

Baca Juga  Matahari Pukul Sepuluh

Dalam upaya untuk terus belajar ini, saya berusaha keras menahan gengsi atas segala ketidaktahuan yang saya miliki. Ketika ada nyinyir dengan kerja-kerja produksi tulisan yang saya lakukan, saya menganggapnya sebagai vitamin. Proses-proses semacam inilah yang selalu harus saya ingat di tengah lelahnya menuliskan makalah, meskipun ongkos produksi menulis seringkali jauh lebih mahal dari apreasiasi yang didapatkan.

Mantra untuk terus membaca ini yang saya selalu sampaikan saat mengisi diskusi mengenai kepenulisan dengan ragam genrenya, baik itu opini, tinjauan buku, bagian buku, maupun artikel jurnal di sebuah komunitas maupun institusi perguruan tinggi. Saya percaya bahwasanya orang yang sering membaca akan memiliki akumulasi pengetahuan yang lebih baik ketimbang orang yang bisa menulis tapi jarang sekali untuk membaca. Saya juga percaya kepintaran dalam dunia akademik untuk menjawab satu persoalan itu satu hal. Tapi tradisi untuk terus membaca merupakan aktivitas lainnya yang tidak semua orang bisa tekun untuk mempraktikkanya.

Tidak hanya mendapatkan pengetahuan, dalam membaca saya bisa mengetahui perspektif apa yang digunakan, bagaimana data dan informasi itu disajikan, sekaligus adanya kritik terhadap teks yang saya baca tersebut. Memang, saya tidak tahu kapan hasil bacaan mengenai teks ilmu sosial dan humaniora ini akan keluar dalam tulisan. Setidaknya teks bacaan ini telah membentuk semesta pengetahuan saya dalam ingatan, yang satu waktu bisa keluar, saat saya bicara, diskusi, maupun menulis.

Bagikan
Post a Comment