Mahalnya Sebuah Kejujuran di Tengah Krisis Kepercayaan
Perilaku jujur merupakan salah satu sifat yang harus dimiliki oleh setiap orang; yang perlu kita gunakandalam kehidupan sehari-hari. Termasuk nilai kejujuran juga harus kita tanamkan sejak dini pada anak-anak, karena hal ini akan membawa pengaruh hingga usianya dewasa.
Saya sering mendengar tentang kata kejujuran. Tetapi, apa sih sebenarnya kejujuran itu? Bagi Saya kejujuran adalah mengakui, berkata, dan memberikan suatu informasi yang sesuai dengan kenyataan. Dalam praksisnya, secara hukum tingkat kejujuran seseorang biasanya ternilai dari kesesuaian antara pengakuan dan kenyataan.
Jujur itu mahal sekali harganya, karena kalau satu kali saja kita berbohong, selanjutnya? Ya benar sekali, kita akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan kita yang pertama. Misalnya kita berbohong begini “Maaf saya tidak bisa datang ke acaramu karena harus ke kampus (padahal sebenarnya sedang tidak ngampus)” Lalu teman kita bertanya “Memangnya di kampus ada apa?” Otomatis kita harus melanjutkan kebohongan kita supaya tidak ketahuan. Akhirnya, butuh kebohongan lain untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Hasilnya jadi deh rantai kebohongan.
Satu kebohongan mungkin hal yang wajar. Tetapi dari kebohongan itulah tercipta kebohongan-kebohongan berikutnya. Padahal menurut pepatah “kecil-kecil lama-lama akan menjadi bukit” begitu juga dari yang awalnya kita merasa satu kebohongan kecil itu hal yang remeh, lama-kelamaan menjadi sebuah kebiasaan untuk selalu berbohong.
Sebenarnya apa sih enaknya berbohong? Jujur saja, saya juga pernah berbohong untuk hal yang menurut saya tidak penting, tapi sejujurnya bohong itu enggak enak loh. Selain pusing harus mengarang sebuah cerita yang kita tidak lakukan, juga ada rasa bersalah karena sudah tidak bicara apa adanya. Terus bagaimana kalau ketahuan? Pastinya kita mendapat anggapan buruk hingga tidak dapat dipercaya.
Mengapa Kita Harus Jujur?
Dalam bahasa Arab, kata jujur semakna dengan aś-śidqu atau śiddiq yang artinya benar, nyata, atau berkata benar. Lawan kata ini adalah dusta, atau dalam bahasa Arab al-kalibu. Secara istilah, jujur atau as-sidqu bermakna: kesesuaian antara ucapan dan perbuatan; kesesuaian antara informasi dan kenyataan; ketegasan dan kemantapan hati; dan sesuatu yang baik yang tidak dicampuri kedustaan.
Jujur itu penting. Berani jujur itu hebat. Sebagai makhluk sosial, kita memerlukan kehidupan yang harmonis, baik, dan seimbang. Agar tidak ada yang dirugikan, dizalimi, dan dicurangi, kita harus jujur. Jadi, untuk kehidupan yang lebih baik kuncinya adalah kejujuran. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi:
Dari Abdullah ibn Mas’ud R.A., Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga… ” (H.R. Bukhari)
Pada masa jahiliyah sangat sulit mencari orang yang jujur. Dengan kejujuran Rasulullah saw menjadi orang yang paling dipercaya di kalangan masyarakat. Beliau mendapat gelar al-Amin (dapat dipercaya) dari kaum Quraisy. Kejujuran itu berbuah kepercayaan. Sebaliknya, dusta menjadikan orang lain hilang kepercayaan kepada kita. Jujur itu membuat hati tenang, sedangkan berbohong membuat hati jadi was-was.
Kejujuran merupakan bagian dari akhlak yang diajarkan dalam Islam. Seharusnya sifat jujur juga menjadi identitas seorang Muslim. Katakan yang benar itu adalah benar dan yang salah itu salah. Jangan campurkan antara yang hak dan yang batil, Allah Swt. Berfirman,:
“…Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (Q.S. al-Baqarah/2:42)
Setidaknya, ada 3 manfaat dari perilaku jujur, yaitu pertama, mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Kedua, mendapatkan banyak teman. Ketiga, mendapatkan ketentraman hidup karena tidak memiliki kesalahan terhadap orang lain.
*
Apabila kejujuran tidak ada dalam jiwa setiap individu maka sikap manusia terhadap sesamanya akan semakin buas dan garang. Meningkatnya rasa kecurigaan, dan tidak ada rasa saling percaya antar satu dengan yang lainnya, wabil khusus dalam hal keharta-bendaan.
Kita tahu perdagangan merupakan pusat kegiatan perekonomian yang dibangun atas rasa saling percaya di antara para pelaku perdagangan. Andaikata dalam dunia perdangan ini tidak ada rasa saling percaya di antara para pelakunya maka akan terjadi kekacauan, berimbas ke kemacetan produksi. Dari sinilah muncul kesengsaraan hidup, dan semakin sempit harapan untuk bertahan hidup. Itulah mengapa, tidak ada orang yang sudi menyerahkan hartanya untuk dikelola oleh orang yang tidak dapat dipercaya.
Menurut Imam Ghazali, jujur itu dimulai dalam niat dan teraplikasi dalam kehendak, yaitu tiada dorongan bagi seseorang dalam segala tindakan dan gerakannya selain dorongan karena Allah Swt. Jujur dalam perkataan atau lisan, yaitu sesuainya berita yang diterima dengan yang disampaikan. Setiap orang harus dapat memelihara perkataannya. Siapa yang menjaga lidahnya dengan cara selalu menyampaikan berita yang sesuai dengan fakta yang sebenarnya, ia termasuk jujur jenis ini. Menepati janji termasuk jujur jenis ini.
Jujur dalam perbuatan/amaliah, yaitu beramal dengan sungguh sehingga perbuatan akhirnya tidak menunjukkan sesuatu yang ada dalam batinnya dan menjadi tabiat baginya.
Kejujuran merupakan pondasi atas tegaknya suatu nilai-nilai kebenaran karena jujur identik dengan kebenaran. Kejujuran merupakan satu perbuatan yang mulia dan agama Islam menganjurkan agar kita senantiasa berperilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari.
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)
“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 33)
Bersikap Jujur di Era Modern
Tidak dapat disangkal lagi bahwa dunia hari ini adalah dunia yang serba cepat. Seiring dengan semakin menggilanya budaya konsumtif yang telah mengakar dalam diri manusia, maka dunia yang cepat itu melahirkan banyak barang dari proses yang serba cepat pula,
Pada titik ini, kuantitas adalah satu hal yang dikejar-kejar oleh parta pelaku produksi. Jika situasinya sudah begini, tidak menutup kemungkinan orang-orang lebih senang memperbanyak barang tanpa menghiraukan nilai dan kualitas. Padahal Islam mengecam perbuatan curang di dalam hidup berkehidupan.
Oleh sebab itu, rasa-rasanya perlulah kita mengedepankan sikap jujur dan muru’ah itu. Dengan melaksanakan segala perintah Allah Swt. Dan menjauhi segala laranganNya, dengan ini kita akan senantiasa takut untuk berbuat kecurangan dan ketidak-sungguhan dalam memperlakukan orang lain.
Menyadari bahwa manusia adalah makhluk sosial yang hidup saling berdampingan. Sikap yang tidak jujur membawa kita pada hukuman-sosial, kalau begini kerenggangan antara diri kita dan masyarakat akan terjadi. Sebagaimana budaya individualis yang menguat hari ini, adalah buah dari ketidak-jujuran, tidak jujur mengakui bahwa kita manusia adalah makhluk yang saling-butuh-membutuhkan.
Kader Pelajar Islam Indonesia (PII) Bekasi
