f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pembelajaran

Literasi Bukti Nyata Bukan Wacana

Bangsa yang maju tidak hanya terbangun dengan mengandalkan kekayaan alam yang melimpah dan jumlah penduduk yang banyak. Indikasi bangsa yang besar adalah masyarakatnya yang literat, yang memiliki peradaban tinggi, dan aktif memajukan masyarakat dunia.

Kemajuan suatu bangsa terlihat dari budaya berliterasi. Keberliterasian dalam konteks ini bukan hanya masalah bagaimana suatu bangsa bebas dari buta aksara. Melainkan juga yang lebih penting, bagaimana warga di suatu bangsa memiliki kecakapan hidup agar mampu bersaing dan bersanding dengan bangsa lain untuk menciptakan kesejahteraan dunia. Dengan kata lain, bangsa dengan budaya literasi tinggi menunjukkan kemampuan bangsa tersebut berkolaborasi, berpikir kritis, kreatif,  komunikatif sehingga dapat memenangi persaingan global.

Literasi erat kaitannya dengan membaca. Menurut Smith dalam buku Ginting (2005) membaca merupakan proses  yang membangun sebuah pemahaman sari bacaan (teks) yang tertulis. Berbeda dengan pendapat Hittleman (1978) dari bukunya yang berjudul Reading in a Changing World yang mengatakan bahwa “Reading is a verbal process interrelated with thinking and with all other communication abilities- listening, speaking, and writing. Specially, reading is the process of reconstructing from the printed patterns on the page the ideas and information intended by the author. Yang berarti membaca adalah sebuah proses merekontruksi kembali gagasan atau ide yang terdapat dalam sebuah teks/tulisan serta informasi dari penulis. Pengertian membaca menurut para ahli memang berbeda-beda, namun sebenarnya memiliki esensi yang sama.

***

Literasi membaca sudah seharusnya ditumbuhkembangkan, jangan terpinggirkan dengan perkembangan zaman. Sebagaimana yang kita ketahui, Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pernah melakukan survei tentang budaya literasi siswa sekolah dasar kelas IV di 45 negara menempatkan Indonesia pada peringkat ke-41 dari 45 negara peserta. Tahun 1992, Association for the Educational Achievement (IAEA) mencatat bahwa Finlandia dan Jepang sudah termasuk negara dengan tingkat membaca tertinggi di dunia dari survey 30 negara. Dalam survei ini, Indonesia berada pada peringkat dua terbawah, artinya pada posisi peringkat ke-28.

Baca Juga  Membentuk Anak Laki-laki Tanpa Kehadiran Seorang Ayah

Di tahun 1997, Program for International Students Assessment (PISA) menyebutkan bahwa Indonesia— yang untuk pertama kalinya ikut serta dalam survei tentang budaya literasi menempati peringkat ke-40 dari 41 negara. Selanjutnya dalam survei yang sama pada tahun 2000, Indonesia menempati peringkat ke-64 dari 65 negara partisipan. Dalam survei tentang budaya literasi di negara-negara ASEAN, peringkat Indonesia bahkan berada di bawah Vietnam, negara yang jauh lebih muda dari Indonesia.

Data lain tentang kemampuan membaca yang kemudian ramai. Bahkan menjadi kontroversi adalah data dari World’s Most Literate Nations oleh Central Connecticut State University Amerika Serikat rilis pada awal tahun 2017. Di mana Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara partisipan survei dalam hal kemampuan. Hasil Indonesia National Assesment Program di tahun 2016 yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Pendidikan (Puspendik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sendiri mengungkap data bahwa rata-rata nasional distribusi literasi pada kemampuan membaca pelajar di Indonesia adalah 46,83% berada pada kategori kurang. Hanya 6,06% berada pada kategori Baik, dan 47,11 berada pada kategori cukup.

***

Enam hasil survei beberapa lembaga di atas sudah cukup memberi gambaran mengenai rendahnya budaya literasi anak sekolah di Indonesia; anak-anak yang kelak tidak saja akan menjadi pemimpin, tetapi juga menjadi anak bangsa yang kuat dalam sumber daya manusianya.

Literasi bisa berjalan dengan peran serta seorang guru. Akan tetapi rendahnya minat menulis seorang guru ketika berliterasi menjadi salah satu masalah saat ini. Banyak media baik online maupun offline dan juga majalah yang menyediakan ruang khusus bagi tulisan para guru.

Guru merupakan role model (contoh) bagi peserta didik. Sejatinya peserta didik meniru seorang guru. Ketika guru memberikan contoh peserta didik pasti akan menirunya. Tidak hanya soal literasi, bahkan guru juga mencontohkan lewat perilaku kesehariannya.

Baca Juga  Darurat Pendidikan Keluarga

Literasi saat ini bahkan sudah ada yang namanya gerakan literasi nasional. Sudah tentu ada suatu kewajiban bagi seorang guru untuk menguasai kemampuan literasi. Literasi bukan hanya soal membaca, tapi bagaimana kita mengungkapkannya kembali dengan bahasa sendiri. Guru yang memiliki peran penting terhadap berkembangnya literasi di sekolah. Harusnya memiliki kemampuan menulis yang nantinya bisa menjadi contoh untuk peserta didiknya, bukan mengambil contoh dari tulisan oranglain.

***

Guru di sekolah sudah banyak mengajarkan literasi, namun masih lemah dalam mempraktekkannya untuk diri sendiri. Bisa terlihat fenomena saat ini guru menyuruh muridnya untuk berliterasi lewat tulisan, gambar dan lain sebagainya. Guru harusnya pandai dalam memberi contoh bukan hanya pandai menyuruh siswa.

Di mana letak literasi seorang guru? Hal ini menimbulkan pertanyaan, karena guru adalah tonggak keberhasilan suatu bangsa. Bangsa yang berhasil adalah bangsa yang di dalamnya memiliki orang-orang yang berbudaya literasi. Kita pernah dengar peribahasa yang berbunyi “membaca adalah cendela dunia”. Maksud dari peribahasa tersebut adalah bukan hanya sekedar membaca karena membaca tanpa memahami tidak berarti apa-apa.

Anak usia SMP dan SMA sudah bisa berliterasi dengan arahan dari guru. Namun yang sulit adalah anak usia SD yang perlu adanya contoh, dan contoh tersebut setidaknya dari guru pribadi. Realita yang terjadi saat ini, banyak dari guru Sekolah Dasar yang hanya menyuruh bukan memberikan contoh.

Guru yang sudah memiliki kemampuan literasi untuk kegiatannya ketika belajar mengajar haruslah mempraktekkannya langsung bukan lagi sebagai korektor hasil literasi peserta didiknya. Literasi perlu digalakkan bukan untuk peserta didik kita, tapi bagi setiap individu agar menjadi bukti nyata bahwa guru tidak hanya sibuk dengan perangkat pembelajaran tapi bisa memproduksi karya literasi. Mulailah dari diri sendiri sebelum membiasakan untuk yang lain, seorang guru digugu dan ditiru.

Bagikan
Post a Comment