f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kita memilih

Kota Macam Apa Ini?

Bersama kakek menyusuri jalan–jalan kota Lamongan saat gerimis
Menyimak serpihan kehidupannya
Di langit tak ada pelangi
Di jalan tak banyak orang
Jalanan semakin hitam diapit trotoar yang tak apik dan kotor
Dan jembatan pemisah sungainya retak dan patah kehabisan besi.

Pepohonan batu berjejeran basah
Menyingkirkan pepohonan sesungguhnya
Tali–tali baja membentang mengitari kota
Menyingkirkan tumbuhan merambat dan menjalar
Mempercepat perubahan musim.

Kota ini mengalir dalam sejarah berabad–abad dan ceritanya
Memecah bagai sel penyakit
Bercabang–cabang, berakar–akar melintasi sejarah
Kehidupan dan rasa sakit kemanusiaan.

Dengan bangga, kepada kakek kukisahkan tentang kejayaan masa lalu kota ini
Lelaki–lelakinya yang berani, perempuannya yang anggun, dan benteng–benteng tuanya yang kokoh dengan dinding–dinding tebal.
Capaian–capaian pengetahuan dan kebudayaan
Keluhuran budi kesantunan kata dan kelembutan perangai
Darah dan air mata serta peluh dari mereka yang bergengsi dengan sotonya.

Kota macam ini?
Hujan barulah gerimis, tapi bahu jalan dan trotoarnya telah tertutup luap genangan air hingga betis.

Kota macam ini?
Pabrik–pabrik di Pantura menjulang megah mengalahkan rumah ibadah, warung–warung bergelimpangan lebih banyak dari orang–orang kelaparan.

Kota macam ini?
Pemerintah suka berjanji bagai pelanduk dan rakyatnya mudah mengamuk bagai ayam jago yang terluka di arena tarung.

Dengan menatap tajam mata kakek, aku mejawab:
Ini kota kekanak–kanakan kakek, lihat ingus–ingus dan dekilnya anak di depan rumah makan itu. Menggantikan hijauhnya pepohonan dan matanya yang tulus tak pandai berbohong. Ini kota pelupa kakek. Lupa dengan kebohongan dan janji–janji politisi yang dihamburkan saat kampanye. Ini kota religius kakek, di mana rakyatnya suka saling jegal atas nama Tuhan.

Gerimis telah tiba, air masih tergenang
Di selatan alun–alun kota Lamongan, bersama kakek,
Kami terperang saling tatap
Lalu, kakek berbisik

Baca Juga  Sepak Bola Putri: Daya Pikat yang Tak Memikat

Gerimis kembali menderas menjadi lebat
Kami bergegas menuju reda dengan kecemasan.

Gerimis kembali menderas menjadi lebat
Kami bergegas menuju reda dengan kecemasan.

Jika hujan barulah gerimis dan air sudah tergenang menutupi lubang jalan dan trotoar, bayangkan jika hujannya menderas. Pajak dan BUMN tak bisa mencukupi pembangunan kota, membenahi drainase, menambal lubang jalanan, dan membenahi trotoar.

Boleh jadi,
Aku dan kakek akan semakin hanyut ke dalam air mata
Kekecawaan pada negara
Dan kami terancam sebagai penggugat negara!
Pengasut masa rakyat
Memberontak.

Bagikan
Post a Comment