f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
surga daddy

Kiat Jitu Jadi Surga Daddy

Sebutan surga daddy memang masih asing dan tidak banyak yang tahu. Bahkan bisa dibilang kalah dibandingkan dengan sugar daddy yang biasa kita temui di lini masa media sosial. Tentu saja surga daddy merupakan plesetan dari sebutan aslinya, sugar daddy. Jika sebutan yang diawali dengan sugar memiliki harta yang melimpah serta simpanan yang tiada habisnya, maka surga daddy memiliki berkah yang bejibun dan pahala yang terus mengalir.

Mengingat saya bukan dan tidak akan menjadi sugar daddy, maka teman-teman Rahmania tidak akan mendapati tips-tips mudah menjadi sugar daddy. Meski begitu, ada beberapa kiat jitu yang bisa kita lakukan bersama agar mampu mencapai level surga daddy. Bisa dibilang cukup mudah meski tidak menutup kemungkinan muncul hal-hal yang susah, tergantung bagaimana kita memandangnya. Kiat-kiat ini saya dapati ketika menjalani khutbah salat Jumat. Selain itu juga pengajian luring dan pengajian daring yang belakangan saya ikuti.

Tentu saja banyak pilihan cara yang bisa dilakukan. Namun bagi saya, ada satu potongan ayat yang bisa membantu kita untuk segera mempersiapkan diri menjadi daddy calon penghuni surga. Potongan tersebut bisa kita temui di ayat 6 surat at-Tahrim, Kuu Anfusakum wa ahlikum naaro. Singkat tapi punya makna dalam serta petunjuk yang tidak ada duanya.

Kiat  Pertama: Kuu Anfusakum

Bila diingat-ingat, ayah saya seringkali menggunakan potongan ayat ini saat menyampaikan beberapa ceramahnya. Potongan yang diawali dengan kuu anfusakum yang memiliki arti jagalah dirimu. Kenapa dimulai dari diri sendiri? Karena jika diri kita belum baik, maka akan sukar mengajak anak dan istri menjadi baik pula.

Menjaga diri bisa diawali dengan menjaga nurani dari perbuatan-perbuatan yang munkar. Kalau bisa juga dengan menjauhi hal-hal syubhat. Ketika dulu susah untuk bersedekah, kini sedikit demi sedikit menafkahkan harta di jalanNya. Ketika dulu menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia, kini harus segera berubah dan memanfaatkannya dengan lebih bijaksana.

Baca Juga  Cleopatra dan Gambaran Perempuan Masa Kini

Kalau sudah terbiasa menjaga diri, lalu apa? Memperbaiki dan meningkatkan kualitas kebaikan diri. Kalau diibaratkan kebun, menjaga agar kebun tidak diserang hama tidaklah cukup. Kalau ingin kebun kita indah dan memberikan manfaat, mau tidak mau kita harus memperbaikinya. Bisa dengan memasang pagar, memberi pupuk atau juga mencangkul tanah agar semakin subur. Selain itu juga bisa menanam tanaman-tanaman sehingga tidak hanya bagus dari segi estetika, tapi juga punya potensi menebar manfaat di kemudian hari.

Kiat Kedua: Wa Ahlikum Naaro

Jika diri sudah dirasa baik dan berjalan di jalan yang benar, kini saatnya mengajak yang lain, utamanya keluarga. Ajakan kebaikan yang mampu menjaga diri dan keluarga dari lahapan api neraka. Pada bahasan kiat kedua ini, saya meminjam konsep Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang sering digaungkan oleh warga Muhammadiyah. Menyeru pada kebaikan dan  melarang akan kemunkaran.

Tahap pertama beramar ma’ruf adalah dengan membekali keluarga dengan ilmu. Segala perbuatan yang dilandasi dengan ilmu yang tepat akan memberikan kebaikan berkali lipat. Tentu saja transfer ilmu kepada keluarga, utamanya anak-anak tidak semudah yang dibayangkan.

Mengingat status saya yang masih sendiri, tidak elok rasanya saya memberikan tips berkeluarga. Maka saya akan mengutip nasehat yang selalu ayah saya jelaskan dalam beberapa sambutan pernikahan yang biasanya disampaikan. Salah satunya adalah perlunya kerja sama yang baik antara surga daddy dan surga mommy. Jika mampu saling bahu membahu dengan apik, akan ada berbagai ilmu kebajikan ilmu yang bisa diterima oleh anak-anak. Hal itu akan membangun pondasi keluarga yang kokoh yang tidak akan roboh meski angin keburukan menerpa.

Tidak cukup hanya dengan menyuruh ke kebaikan, tapi juga melarang pada kemunkaran. Selalu menanamkan pola pikir bahwa dosa sekecil apapun tetaplah dosa. Syubhat sekecil apapun tetaplah syubhat. Menurut Rasulullah, ada tiga cara yang untuk melarang kemunkaran yakni dengan tangan (perbuatan), lisan (nasehat), atau dengan hati (doa). Tentu ketiganya bisa kita lakukan berbarengan untuk membentuk keluarga yang baik serta menjadi upaya menasbihkan diri sebagai surga daddy.

Baca Juga  Olahan Camilan Gayam: Enak dan Belum Banyak Diketahui
Kiat Utama: Mulai dari Sekarang

Kenapa saya menyebutnya kiat utama dan bukan kiat ketiga? Karena kiat ini menentukan sejauh mana potensi kita menjadi surga daddy nantinya. Semakin dini kita memulai usaha melakukan kiat kuu anfusakum wa ahlikum naaro, semakin besar pula persentase kita mencapai sebutan tersebut.

Memulai kiat-kiatnya juga tidak harus menunggu menikah terlebih dahulu. Lebih cepat lebih baik. Saya ingat ketika ayah menyindir saya dengan kalimat, “Salat masih tidak disiplin dan tepat waktu kok keburu nikah. Bagaimana nanti nasib istri dan anak-anaknya?”. Menohok sekali bukan?

Kalau boleh disambung-sambungkan, saya juga teringat lagu Raihan yang berjudul Ingat lima Perkara sebelum Lima Perkara. Salah satu liriknya berbunyi ‘Muda sebelum tua’. Jika masa muda yang berapi-api dan penuh energi digunakan untuk membiasakan diri melakukan kebaikan, maka nanti di usia tua kebiasaan itu akan mempermudah kita untuk beribadah. Sebaliknya, jika di usia muda berleha-leha dan menyia-nyiakan kesempatan, maka saat menginjak usia tua akan lebih sukar membentuk kebiasaan baik. Apalagi dengan sisa tenaga yang tidak seberapa.

Jadi menurut saya, menjadi surga daddy itu tidak semudah yang dibayangkan. Ada banyak tahap yang harus dilalui dan dibiasakan. Dimulai dari diri sendiri , kemudian jika sudah menikah ditularkan kepada pasangan. Saling bahu membahu untuk bisa menjadi surga daddy dan surga mommy yang ideal. Hingga nantinya mampu melahirkan anak-anak penerus bangsa yang bermanfaa serta berpegang teguh pada ajaran agama Islam.

Bagikan
Post a Comment