f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
online grooming

Kami Perempuan, Setara Di Hadapan Allah

Aku seorang perempuan
dengan hati abadi
seorang perempuan
yang memikul
demikian banyak kelahiran
dan begitu banyak kematian
sehingga benih benih
kehidupan dan cinta
mungkin tidak dihancurkan
yang mengatasnamakan Tuhan dan cinta
yang tidak mencintai
yang ingin mencipta
sebuah dunia tanpa cinta
sebuah dunia tanpa kehidupan
penuh pusara
tempat orang tidak bisa mendengar 
suara kehidupan
…
(Riffat Hasan)

Pagi ini saya menyelesaikan tulisan Riffat Hassan dalam buku berjudul: ‘Setara di Hadapan Allah, Relasi Laki-Laki dan Perempuan dalam Tradisi Islam Pasca Patriarkhi’. Kumpulan tulisannya bersama dengan Fatimma Mernisi. Dengan penerbit, Lembaga Studi dan Pengembangan Perempuan dan Anak (LSPPA) pada cetakan pertama tahun 1995.

Terlahir dari ayah seorang Sayyid, yang konservatif dalam beragama dan ibu yang feminis maskulin menjadikannya tumbuh sebagai pemikir, pintar namun merasa tidak dicintai oleh orangtuanya. Kakeknya adalah Hakim Ahmad Shuja, seorang penyair, penulis dan penulis naskah yang dihormati di Pakistan. Kedua orangtua Riffat mendidik dan memiliki harapan berbeda karena ia perempuan. Konflik diantara keduanya, membuatnya lebih menarik diri. Tiga hal yang melepasakannya dari kehancuran hati dan kesulitan hidup: keyakinan yang kokoh pada Tuhan yang adil dan penyayang, menulis puisi dan kecintaan yang dalam terhadap buku (hal. 7).

Setelah SMA, Riffat melanjutkan kuliah di St. Mary’s College di Durham University, Inggris. Tempatnya belajar bahasa Inggris dan filsafat. Kemudian menerima gelar Ph.D. dari Universitas Durham (1968) untuk karyanya tentang Muhammad Iqbal. Selain kegemarannya untuk belajar, Riffat memilih pergi ke London agar tidak dipaksa menikah, ia memilih suami sendiri atas dasar ingin menerima dan memberi cinta yang dibutuhkan.

Riffat kemudian memilih bercerai karena suaminya sebagai korban masyarakat patriarki memiliki kebutuhan  yang memaksa untuk menjadi “kepala keluarga”. Selalu di depan perempuan, yang tidak mungkin terpenuhi dengan menikahi perempuan yang berprestasi diatasnya. “Ia tertarik dengan kekuatanku, tapi sekaligus marah. Ia ingin memanfaatkan bakat-bakatku tapi juga menolaknya. (hal. 19) Menggambarkan konflik terjadi akibat ekpetasi peran gender yang dilekatkan kepada keduanya.

Membaca tiga tulisannya ini, saya seperti membaca buku harian sekaligus manifesto feminisnya Riffat Hasan untuk jihad fi sabilillah dalam memperjuangkan perempuan. Berangkat dari pengalamannya sebagai perempuan seperti judul puisinya: ‘Aku Seorang Perempuan’, ia mencari jawaban ketidakadilan yang menimpa dirinya, suaudara-saudara perempuannya, khususnya di Pakistan.

Baca Juga  Self-Reward atau Jebakan Israf? Menjaga Keberkahan Finansial Gen Z

Teologi Feminis

Perceraian dan kematian beberapa anggota keluarga mendorong Riffat bermigrasi ke Amerika Serikat dengan harapan tempat yang berbeda akan memberikan cara hidup seperti mimpinya. Sebagai perempuan, janda dengan satu anak di negara yang baru, Riffat menerima perkawinan dengan Mahmoud, laki laki anggota Gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir yang berjanji akan melindunginya dan anaknya serta membantu mengembangkan bakat untuk mengabdi pada Tuhan dengan lebih baik (hal. 24). Tapi nyatanya tidak demikian. Mahmoud, yang menyebut dirinya sebagai lelaki Tuhan, bisa memerintah untuk melakukan apa saja yang ia inginkan atas nama Tuhan dan dengan wewenang Tuhan.

Rifat menulis kesedihannya:…ku tidak punya hak untuk menolak, karena dalam kultur Islam menolak untuk melakukan apa yang menyenangkan suami sama dengan menolak melakukan apa yang disenangi Tuhan (hal. 25). Perkawinan keduanya ini menyebabkan Rifat mendekati kehancuran baik secara fisik maupun mental. Untuk perkawinan selama 3 bulan, ia menghabiskan waktu 3 tahun untuk proses perceraian. Proses yang bisa disebut dengan istilah ‘post separation abuse‘ atau KDRT berlanjut, di mana mantan suami menggunakan instrument hukum untuk terus menyakiti isterinya, termasuk kondisi keuangannya.

Dari pengalamannya ini, Riffat menetapkan hati untuk mengembangkan teologi dalam kerangka tradisi Islam sehingga mereka yang disebut laki-laki Tuhan tidak bisa mengekploitasi perempuan Muslim atas nama Tuhan.

Sebagai perempuan, Riffat mengalami dan melihat berbagai bentuk ketidakadilan terhadap perempuan. Padahal sebagai seorang penafsir ia melihat keadilan dan kasih sayang Tuhan yang tercermin dalam ajaran Alquran tentang perempuan. Ia semakin sedih dan marah melihat ketidakadilan dan perlakuan yang tidak manusiawi yang merendahkan perempuan (hal. 37). Perbedaan antara apa yang terdapat dalam Alquran dan realita yang terjadi terhadap perempuan, khususnya di Pakistan mendorong Riffat lebih mempelajari dan melakukan perjalanan intelektual juga spiritual, yang kemudian menjelang musim gugur 1974 ia memulai karir sebagai ‘teolog feminis’.

Teologi feminis sendiri bertujuan untuk membebaskan tidak hanya perempuan Muslim, tetapi juga laki-laki Muslim dari struktur-struktur dan undang-undang yang tidak adil yang tidak memungkinkan terjadinya hubungan yang hidup antara laki-laki dan perempuan. (hal. 40)

Pencariannya ke dalam akar teologis dari problem ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan dalam tradisi Islam menurut Riffat diakibatkan besarnya dampak kepustakaan hadis, terutama kumpulan hadis Sahih al Bukhari dan Sahih Muslim yang dianggap oleh muslim sunni sebagai kitab yang paling otoritatif setelah Alquran. Riffat mengkaji dengan teliti hadis-hadis terkait dengan perempuan dari hadis Bukhari dan Muslim dan mengkaji karya-karya penting yang ditulis teolog feminis Yahudi dan Kristen yang berusaha melacak sumber-sumber teologis gagasan dan sikap-sikap anti feminis yang terdapat dalam tradisi mereka masing masing (hal. 43).

Baca Juga  Lies Marcoes Natsir, Pakar Islam dan Gender Indonesia

Berkesimpulan bahwa tidak hanya dalam tradisi Islam, tapi juga dalam tradisi Yahudi dan Kristen, terdapat asumsi teologis yang menempatkan superioritas laki-laki dan perempuan yang mengimplikasikan ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan. Tiga asumsi teologis yang menyebabkan perempuan tersubordinasi dan bersifat derivative, yaitu: Pertama, ciptaan Tuhan utama adalah laki-laki, bukan perempuan. Karena perempuan diyakini telah diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, karenanya secara ontologis bersifat derivative dan sekunder.

Kedua, perempuan bukan laki-laki adalah penyebab utama dan apa yang biasanya dilukiskan sebagai kejatuhan atau pengusiran manusia dari surga Aden. Karena itu, semua ‘anak perempuan hawwa‘ harus dipandang dengan rasa benci, curiga dan jijik. Ketiga, perempuan diciptakan tidak saja dari laki-laki tetapi juga untuk laki-laki yang membuatnya instrumental dan tidak memiliki makna yang mendasar (hal. 44). Dari tiga asumsi tersebut, memunculkan pertanyaan teologis yaitu: (1) bagaimana perempuan diciptakan? (2) Apakah perempuan bertanggungjawab atas pengusiran manusia; dan (3) mengapa perempuan diciptakan?

Melalui penelusurannya, Riffat menemukan bahwa Alquran tidak membuat perbedaan penciptaan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dan perempuan diciptakan secara serempak dan sama dalam substansinya, sama pula caranya. Kepercayaan bahwa perempuan pertama (Hawwa) diciptakan dari tulang rusuk Adam, berasal dari Genesis 2 yang masuk ke dalam kepustakaan hadis. (hal. 76-78). Secara praktis menunjukkan bahwa kepustakaan hadis telah menggantikan tempat Alquran menyangkut isu penciptaan perempuan. Padahal Nabi Muhammad SAW, mengatakan “semua umat manusia diciptakan dari sumber yang sama”.

Selanjutnya, terkait kepercayaan bahwa perempuan bertanggungjawab atas kejatuhan manusia dari Surga Aden, Riffat menemukan bahwa dalam Alquran tidak terdapat dialog khusus antra setan dan ‘pasangan’ Adam, sebagaimana dalam Genesis 3:6. (hal. 79). Justru Adamlah yang dituduh telah melupakan janjinya kepada Allah, tergoda oleh setan dan melupakan Allah dan membiarkan dirinya tergoda. Tindakan Adam adalah tindakan kolektif ketimbang tindakan individual, karenanya tanggungjawab tidak secara jelas dibebankan pada laki-laki dan perempuan (hal. 80).

Baca Juga  Fenomena BTS Meal, Kita Pun Serupa dengan Army

Riffat menilai bahwa perintah keluar dari al-jannah yang ditujukan kepada Adam atau anak-anaknya tidak bisa dianggap sebagai suatu hukuman karena Adam memang dimaksudkan sebagai KhalifahNya di muka bumi. Pusat perhatian Alquran dalam kisah ini adalah pilihan moral manusia yang diperlukan bila mereka dihadapkan dengan alternatif yang dikedepankan oleh Tuhan dan Setan. Dengan melampaui batas yang ditetapkan Tuhan, pasangan manusia itu bersalah terhadap mereka sendiri, dan bagaimana mereka memikul tanggungjawab, memilih antara kebaikan dan kejahatan (hal. 83).

Sedangkan terkait tujuan penciptaan perempuan, menurut Riffat Alquran tidak hanya menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan benar-benar setara dalam pandangan Allah tapi juga bahwa mereka merupakan ‘anggota-anggota’ dan ‘pelindung’ satu sama lain. Dengan kata lain, Alquran tidak menciptakan hirarki-hirarki yang menempatkan laki-laki atas perempuan dalam suatu hubungan yang bermusuhan. Mereka diciptakan sebagai makhluk-makhluk yang setara dari Pencipta alam semesta, yang Maha Adil dan Maha Pengasih, yang menginginkan mereka hidup dalam harmoni dan kesalehan bersama-sama (hal. 88).

Selain menjawaban tiga pertanyaan teologis, Riffat memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat dalam Alquran yang kerap kali digunakan untuk menjadi pembenar superioritas laki-laki atas perempuan. Seperti Surat Annisa; 34 tentang pengertian qawwamun-a ‘ala an-nisa

Pertanyaannya setelah 45 tahun sebagai teolog feminis, apakah telah ada perubahan teologis dalam menempatkan posisi perempuan didalam masyarakat muslim?  Perubahan terjadi, walaupun mungkin lamban. Sebuah buku tentang ulama perempuan, membuat saya bergembira. Karena di tengah penafsiran misoginis, dan gelombang fundamentalis agama yang mempromosikan domestifikasi perempuan, para teolog feminis terus melakukan upaya mengembalikan nilai-nilai keadilan sebagai ruh agama Islam.

Teringat akhir puisi Aku Perempuan, Riffat menulis:

…

hatiku abadi
takkan pernah kembali menjadi abu
dan bagaikan seorang phoenix, akan bangkit lagi
bagaikan seekor phoenix, aku akan lahir kembali.

Ya. Sebagai sebuah perjalanan pemikiran dan spiritual, ia harus terus dilakukan, dikandung dan dilahirkan kembali. Karena kami perempuan, setara di hadapan Allah. (SAT)

Bagikan
Post a Comment